Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 35


__ADS_3

Malam itu bulan tak bisa menunjukkan keindahan seperti biasanya karena terbelenggu oleh arakan awan mendung yang semakin lama semakin tebal. Suasana malam hari yang begitu sunyi sepi, hanya terdengar sayup-sayup nyanyian kodok serta jangkrik yang meracau bersahut-sahutan.


Hawa dingin sudah mulai menyerang keseluruh bagian tubuh Arya yang hanya memakai kemeja tanpa jaket. Aryapun sesekali merinding karena kedinginan, tetapi rasa dingin itu mengalahkan rasa penasaran Arya terhadap identitas sosok jin wanita itu.


"Hmmm, baiklah kalau kamu memaksa, namaku Prameswari," jawabnya penuh ketegasan.


Benar, sosok jin wanita yang selama ini mendampingi Arya dan menyelamatkannya dari tipu daya Bu Agustina adalah Prameswari, alias Arini, kakak perempuan kandung Arya.


Selama ini memang Prameswari tak melepaskan pandangannya dari Arya barang sedetikpun, kecuali gurunya yang memanggilnya atau ada kepentingan lain yang harus ia lakukan. Setiap hari dan setiap saat Prameswari memantau keseharian Arya baik dari jauh maupun dari dekat.


"Rasanya nama itu gak asing, hmm," ujar Arya sambil memegang dagunya.


"Panggil apa nih? Pram? Rames? Wari? Hmm kok jadi gak enak didengar ya," ucap Arya riweh sendiri.


"Ahhh aku panggil mbak aja deh biar gampang, bener gak Mbak Prameswari?" sahut Arya menambahkan.


Deggg!


Jantung Prameswari dibuat terkejut oleh perkataan Arya yang ingin memanggilnya dengan sebutan Mbak, sontak air mata haru berlinang menetes dari ujung kelopak matanya, itu adalah panggilan yang sudah lama sekali ingin dia dengar telontar dari mulut adik kandungnya sendiri.


"Loh loh mbak? Kok nangis? Kenapa? Ada yang salah?" tanya Arya sambil memajukan wajahnya ke arah wajah Prameswari.


"Ahhh gakpapa Arya, hanya terharu senang aja aku bisa dipanggil mbak," sahutnya seraya mengangkat telapak tangannya yang lentik ke arah pipi Arya lalu mengusapnya pelan.


Arya yang sedikit kaget nampak tak menolak ataupun menghindar, malah Arya seakan menyukainya, ada rasa yang tak biasa didalam belaian tangan itu, serasa belaian penuh rasa sayang yang sesungguhnya dari seorang kakak.


"Ehmm, maaf ya Arya," tangannya buru-buru dilepaskan dari pipi Arya.


"Gakpapa mbak, santuy aja, aku suka kok heheh, mbak jangan nangis lagi yah," timpal Arya menenangkan Prameswari.


"Iya dek, ehh aku boleh panggil kamu adek kan?" tanya Prameswari penuh harap.


"Yah boleh dong mbak, sapa yang ngalarang? Jarang-jarang kan punya adek manusia tampan sepertiku?" celetuk Arya sambil nyengir.


"Ohh iya mbak, tadi aku sempet tanya kan ke mbak, kenapa mbak tiba-tiba nyerang Tante Ratih? Tadi gak sempet di jawab gara-gara ada kang Nasgor tuh," tanya Arya penasaran.


"Sebenarnya aku tak suka kalau kamu melakukan hal hina sebelum menikah dengan pasangan yah sah, itu alasan pribadiku, tetapi di satu sisi, itu adalah hakmu, apapun yang kau lakukan itu terserah kamu," jawab Prameswari tegas.

__ADS_1


"Tetapi, ada hal lain yang memaksaku untuk mencegahmu melakukan hal tabu itu, hal besar yang akan kau tanggung kelak, dan sampai saat itu tiba, kau harus menjaga kehormatanmu sebagai lelaki yakni jangan sampai keperjakaanmu hilang," tambahnya seraya menatap tajam ke arah Arya.


"Hmm agak berat sih mbak, nahan godaan dari cewek tuh gak gampang," Arya merengek.


"Yah kamu harus berusaha menahannya," jawab Prameswari cuek.


"Trus kalau aku gak kuat gimana?" ujar Arya membantah argumen Prameswari.


"Serahkan saja padaku, kau tak perlu khawatir, lagian kalau kamu gak kuat kan kamu bisa menyalurkannya dengan tanganmu sendiri," Prameswari menjawab dengan santainya.


"Yaaaahhh mbak rasanya bedaaaa," Arya merengek seperti bocah.


"Kamu sabar dulu, kalau kamu sudah menguasai "benda" itu, kau bebas melakukan apapun, termasuk hal itu," sahut Prameswari sambil menaikkan alisnya.


"Aku tak akan bertanya benda apa yang kau maksud mbak, pasti jawabannya sama,"


"Itu kamu udah paham," ucap Prameswari seraya tersenyum mengejek.


"Hmmm oke deh, terus hal besar apa yang mbak maksud?" tanya Arya.


"Hmm, lagi-lagi bikin penasaran, masalahnya waktu itu kapan tibanya? Terlalu banyak hal yang pengen aku tahu, dan terlalu banyak juga rahasiamu mbak," sahut Arya sedikit sebal.


"Hahah, yang jelas, kamu akan jadi sesuatu yang besar nantinya,"


"Hmm jadi sesuatu yang besar?? Jadi Ultramen gitu?" ujar Arya sambil memasang wajah bodoh.


"Hahaha yah gak lah! Dasar adek somplak!" baru kali ini Prameswari tertawa terpingkal-pingkal karena pada bab-bab sebelumnya, ia terkesan dingin dan tegas.


"Hahaha, biarin ahh, hmm jadi mbak selalu ada di sampingku ya?" tanya Arya kembali.


"Iya selalu, dimanapun, kapanpun, sampai kamu tidurpun kadang aku sampai duduk disebelah tempat tidurmu,"


"Kecuali aku ada kepentingan di alam jin atau dipanggil oleh guruku, baru aku pergi ninggalin kamu," tambahnya menerangkan.


"Hmm, what? Sampe ditemenin tidur? Wahhh jangan macem-macem loh mbak! Tapi kalau macem-macem gakpapa juga sih, wong mbakku ini cantik, hehehe," sahut Arya cengengesan.


"Hahaha yah gak mungkin lah! Otakmu isinya hal mesum mulu ihhh," Prameswari kembali dibuat tertawa oleh tingkah adiknya itu.

__ADS_1


"Ehhh mbak, please yah kalau aku lagi di kamar mandi jangan ikutan ke dalam, awas loh ya!" tegas Arya.


"Hahahah, iya-iya aku paham,"


Tak terasa waktu cepat berlalu, kedekatan mereka mulai terjalin, kebersamaan yang selama ini Prameswari idam-idamkan akhirnya datang juga. Harapan untuk bisa dekat secara nyata dengan adik kandungnya akhirnya terkabul, meskipun mereka berdua kini berada di alam yang berbeda. Karena apapun yang sudah di takdirkan Tuhan, tak ada satupun makhluk yang bisa menghindari atau menolaknya.


"Ya udah mbak uda malem, ayo pulang," Arya beranjak dari kursi halte seraya melangkahkan kakinya ke arah motor maticnya.


"Ayo dek," Prameswari pun bangkit mengikuti adiknya itu.


Mereka berdua menaiki motor matic beat putih yang melaju 30km/jam, ukuran kecepatan yang pas untuk dua sejoli yang sedang asik menikmati suasana malam sembari bercanda ria.


Tetapi disini Arya dan Prameswari adalah sepasang kakak beradik yang akhirnya dipertemukan secara dramatis oleh Tali Kasih RCTI, ehhh bukan, di pertemukan oleh takdir, mungkin.


"Mbak, mbak gak dingin? Cuma pake kemben kayak gitu? Aku aja sampe tremor kena dingin nih," tanya Arya sedikit berteriak


"Hahaha, mana ada bangsa jin kedinginan di alam manusia dek dek, ada-ada aja kamu," Prameswari kembali tertawa dibuatnya.


"Hmm kirain dingin, kali aja mau meluk adeknya yang lagi kedinginan," celetuk Arya.


"Ohhh pengen peluk, ya udah nih," tangan kanan Prameswari merengkuh perut Arya dari belakang sembari menempelkan gunung kembarnya yang sebelah kanan. Sontak hal itu membuat jantung Arya dag-dig-dug tak karuan, disusul celana jinsnya yang sudah mulai terasa sesak.


"Aduhhh, gak boleh gak boleh gak boleh," batin Arya meronta-ronta karena sedang memasuki fase cenggur.


"Hayoo, gak bole ngeres ya pikirannya," Prameswari menggoda adiknya yang sedang berperang menahan nafsunya.


"Ehhh i-iya mbak heheh," jawab Arya seraya menaikkan kecepatan motornya berharap segera mengakhiri siksaan diatas motor ini.


Prameswari hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Arya yang terkesan mesum dan c*bul ini.


Setelah sekitar 10 menit berlalu, akhirnya merekapun sampai di rumah Arya yang lampu terasnya sudah dimatikan.


"Huahhh akhirnya sampe juga," dengus Arya seraya mematikan motornya lalu membuka pagar rumahnya yang sudah digembok.


Aryapun masuk kedalam, memarkirkan motornya ke dalam garasi dan kembali menggembok pagarnya, lalu Arya melangkah ke teras dan menuju pintu ruang tamu yang sudah terkunci itu.


********

__ADS_1


__ADS_2