
Arya merogoh saku celananya dan mengambil kunci rumah dan membuka pintu berwarna putih itu. Prameswari yang sedari tadi diam hanya mengikuti Arya dari belakang.
"Yuk mbak," ajak Arya kepada Prameswari dan ia pun menurutinya.
Kembali pintu rumah ia kunci lalu menuju kedalam, dilihatnya pintu kamar mama Mella masih terbuka sedikit dan terlihat mama Mella sudah tertidur pulas menggunakan daster putih bermotif bunga kebanggaannya.
Aryapun masuk dan menghampiri mamanya yang sedang memeluk guling, lalu Arya menaikkan selimut yang sudah melorot jauh di bawah kakinya, setelah itu ia meninggalkan kamar mamanya itu seraya menutup pintunya.
Arya lalu melangkahkan kaki ke kamar mandi hendak mencuci mukanya yang sudah kucel dan berdebu.
"Nih muka apa keset WC sih? Kucel banget," Arya bergumam sendiri.
Kali ini Prameswari sedang duduk diam diatas springbed di kamar Arya, ia hanya menatap kosong ke jendela yang sedikit terbuka, yang sesekali gordennya bergoyang karena tertiup angin malam.
"Ehhh, udah ada disini aja mbak," celetuk Arya sembari menggosok muka dan rambutnya menggunakan handuk kecil berwarna hijau. Prameswari menoleh sejenak lalu kembali memandang jendela.
"Yeee, tadi aja diluar bawel banget, sekarang di sini mbak diem aja kayak orang lagi nahan berak," dengus Arya sembari melemparkan handuknya ke atas meja laptopnya.
"Gak dek, mbak cuma lagi kepikiran sesuatu," sahut Prameswari lirih.
"Kepikiran apa mbak?" Arya mendekati Prameswari lalu duduk di sebelahnya.
"Kamu sudah tahu jawabannya," kembali Prameswari menyiratkan wajah penuh misteri.
"Halahh mboh mbak sakarepmu! dari tadi main tebak-tebakan terus, bikin teka-teki tross!" sahut Arya kesal lalu merebahkan badannya di atas springbed dengan bedcover bergambar One Piece.
"Mau langsung tidur dek?" tanya Prameswari mengalihkan perhatian adiknya yang barusan terlihat kesal.
"Iya, ngantuk capek, capek punya mbak yang sok misterius," sahut Arya sambil meringkuk membelakangi Prameswari.
Prameswari hanya tersenyum lalu ikut membaringkan badan di belakang punggung Arya beberapa saat sambil menatap langit-langit kamar dengan tatapan penuh pikiran yang datang silih berganti.
Di lihatnya ternyata Arya sudah pergi jauh ke alam mimpinya. Melihat adiknya sudah tertidur pulas, Prameswari lalu mengalungkan lengannya memeluk Arya dari belakang, pelukan hangat dan penuh kasih sayang dari seorang kakak perempuan yang sudah lama tidak bertemu dengan adik kesayangannya.
______
Sementara itu di alam jin,
__ADS_1
Di dalam sebuah gua yang sudah tak asing lagi, gua tempat dimana kedua guru Prameswari dan juga kekasihnya, Chandranala kerap melakukan semedi ketika mengasah ilmu spiritualnya.
Terlihat Chandranala sedang duduk bersila disebelah sumber mata air alami yang merembes keluar dari celah-celah dinding gua, dengan mata terpejam penuh hikmat dibarengi dengan kedua telapak tangan yang mengatup di depan dadanya yang bidang.
Chandranala yang sedang larut dalam fokus yang mendalam pada semedinya, mendadak mendapatkan wangsit dari sumber suara yang tak diketahui asalnya.
"Chandranala, kelak akan ada seorang manusia yang akan mewarisi kemampuanku, dan ia akan meneruskan keinginanku untuk mengumpulkan serta mendapatkan kekuatan dari semua jin yang ada di tanah Jawa ini," suara tak dikenal itu menggema dipikiran Chandranala.
"Suara siapa ini? Telepati dari seseorang atau kah wangsit dari alam atas?" fokus Chandranala sekarang beralih ke suara yang terdengar menggema itu.
"Chandranala, aku meninggalkan sebuah pusaka yang kekuatannya bisa menggetarkan alam jin dan manusia, pusaka yang tak sembarang orang bisa menggunakannya. Hanya manusia yang memiliki darah keturunan dariku yang bisa menggunakannya."
"Pusaka? Pusaka apakah itu? Kekuatan apa yang ada didalam pusaka itu? Lalu jikalau pusaka itu diperuntukkan bagi seorang manusia, lantas kenapa anda memberi wangsit kepada saya?" Chandranala berusaha bertanya lewat pikirannya.
"Pusaka itu bernama Cincin Rojomolo, cincin yang mampu menundukkan semua bangsa jin. Menyerap serta mengeluarkan kekuatan alam dari alam jin. Orang yang bisa menguasai cincin itu akan menjadi penguasa tunggal alam Jin. Sampai saat itu tiba, tolong kau dampingi dan awasi manusia yang akan mewarisinya," ujar suara itu memberi penjelasan.
"Lantas, dimanakah letak cincin itu sekarang? Apa yang harus aku lakukan setelah menemani dan mengawasi manusia itu?" batin Chandranala bertanya.
"Letak cincin itu sekarang berada tersembunyi didasar sebuah danau yang ada di wilayah kerajaan Tirtokencono, di danau Tawangmangu," jawab suara itu.
"Tujuh hari dari sekarang, tepatnya di malam Sabtu Legi, pergilah kesana, ambil cincin yang tersembunyi di dasar danau itu, jangan sekali-sekali kau berniat memilikinya, aku hanya menjadikanmu sebagai perantara," tambah suara itu mewanti-wanti.
"Hmm, mana mungkin aku mengabdikan diri kepada seorang manusia! Maaf, aku tak bersedia melakukannya!" bantah Chandranala.
"Apa kau masih bersikeras menolak apabila kau tahu siapa aku sebenarnya? Kakek buyutmu, Aji Wipo adalah abdi setiaku di masa lalu!" bentak suara itu.
"Lantas siapa kau sebenarnya?" tanya Chandranala yang penasaran dan liputi rasa cemas mengingat kakek buyutnya yang bernama Aji Wipo dulu adalah jin terkuat pada masanya, kekuatan adidaya dan spiritual yang siapapun tak bisa menandinginya. Sedangkan sosok dibalik suara ini mampu membuat seorang Aji Wipo menjadi abdinya.
"Aku adalah Bandung Bondowoso!" suaranya terdengar menggelegar.
"Hahhh! Apa? Mo-mohon maaf atas ketidaksopanan hamba tuan, hamba tak tahu kalau panjenengan adalah Bandung Bondowoso," suara Chandranala terdengar bergetar karena terkejut sekaligus ketakutan setelah mendengar namanya.
"Meskipun sekarang aku hanya berupa sisa kesadaran dengan sedikit energi, aku sudah bisa meluluh-lantakkan negeri ini, sebenarnya aku bisa saja menyerahkan cincin itu kepada keturunanku dengan tanganku sendiri, tetapi aku punya tugas khusus untukmu," jawab Bandung.
"Tugas apakah itu? Apakah mengambil cincin yang tuan maksud tadi?"
"Iya itu salah satunya, untuk tugas penting selanjutnya, belum saatnya kau mengatahuinya," jawab Bandung.
__ADS_1
"Ah baiklah tuan, hamba akan menjalankan tugas yang anda berikan dengan baik,"
"Oh iya, siapakah keturunan anda tuan?" Chandranala bertanya kembali.
"Kau sudah mengetahui siapa keturunanku, kekasihmu, Prameswari juga mengenalnya dengan baik, dia adalah adik kandung kekasihmu, namanya Arya," jawab Bandung menerangkan.
"Astaga, apa itu benar tuan? Tak ku sangka adik dari Prameswari itu adalah keturunan anda tuan," jawab Chandranala seakan masih tak percaya.
"Ingat, kau hanya perlu mengambilnya dan menyerahkan cincin itu kepada Arya tanpa sepengetahuannya, biar dia sendiri yang mencari tahu tentang cincin itu, itu juga termasuk cara agar dia bisa memahami lebih dalam tentang penggunaan cincin maha kuat tersebut," pesan Bandung Bondowoso kepada Chandranala.
"Sendiko tuan, hamba akan melaksanakan semua perintah tuan," sahut Arya menyanggupi.
"Setelah kau menyerahkan cincin itu kepadanya, tarik dia masuk ke dalam alam jin ini, biarkan dia berusaha sendiri mulai dari sana, biarkan dia berpetualang sendiri dan mencari tahu semuanya," pesan Bandung.
"Baik tuan, hamba mengerti," jawab Chandranala.
"Asal kau tahu, Prameswari, Argadhanu, serta Pitaloka juga sudah aku beri tugas masing-masing perihal cincin itu,"
"Jadi mereka semua sudah terlebih dahulu mendapatkan tugas dari tuan?"
"Iya kau benar, kekasihmu aku beri tugas menjaga Arya dari gangguan fisik dan spiritual, termasuk untuk berusaha mencegah Arya kehilangan kehormatannya sebagai lelaki,"
"Argadhanu dan Pitaloka aku beri tugas agar memberi pengarahan serta mengajarkan ilmu spiritual kepada Arya apabila kelak ia sampai di alam ini," tambahnya.
"Aku sengaja memberi tugas secara pribadi lewat wangsit kepada mereka dan aku melarang mereka untuk mengungkapkan perihal mendapatkan wangsit dariku, agar mereka lebih fokus menjalankan perintahku,"
"Hmmm pantas saja Prameswari dan juga guru tak pernah buka suara mengenai hal besar ini," gumam Chandranala.
"Jadi begitu, baiklah hamba sudah mengerti tuan," jawab Chandranala penuh rasa hormat.
"Baiklah aku pergi dulu, ingat jangan sampai gagal Chandranala!" Setelah itu, suara Bandung Bondowoso tak terdengar kembali.
Chandranala membuka matanya, seraya menghela nafas panjang.
"Aku akan mengumpulkan mereka semua untuk membahas bagaimana langkah selanjutnya perihal cincin Rojomolo ini," kata Chandranala dalam hati.
Chandranala bangkit dari duduk semedinya, lalu terbang menuju rumah Argadhanu dan Nyai Pitaloka, kemudian ia akan memanggil kekasihnya yang sekarang masih berada di alam manusia.
__ADS_1
"Adinda, adinda! bisakah kau datang ke alam jin sekarang? Ada yang harus kita bahas dengan guru Argadhanu dan juga nenek," Chandranala memanggil Prameswari lewat telepati.
******