
Sore berganti malam, cahaya bulan yang sebelumnya baru keluar dari persembunyiannya, kini telah tertutup kembali oleh hamparan awan mendung di sela kegelapan yang mulai menyeruak. Seakan hanya mengintip seisi dunia untuk sementara.
Terlihat di kejauhan Asih yang sedang terbang melesat menuju kearah tempat tuannya tinggal, sesekali Asih merintih dan memegangi dadanya yang masih terasa sakit karena serangan dari Rina si Tukang Pelet.
Setelah beberapa saat, sampailah ia kembali ke tempat Mbah Tejo dengan cepat ia masuk menembus tembok dan muncul di hadapan Mbah Tejo yang sedang duduk santai menikmati rokok dan kopi pahitnya.
"Bagaimana Asih? Apa kau sudah melakukan perintahku?" tanya Mbah Tejo sambil menghisap rokok Dji Sam Soe dibalik pipa.
"Ehhmm, maaf Mbah, aku gagal, aku di serang balik oleh wanita itu, wanita itu bernama Rina dan ia punya pusaka berbentuk tasbih, aku di serang habis-habisan dan akhirnya aku kalah telak oleh wanita itu, dan akupun terbang kembali kesini," Asih menjelaskan dengan muka memelas.
"Kurang ajar! Sialan kau Asih! Baru melakukan perintahku segitu saja kau sudah kalah dan menyerah! Buat apa aku susah-susah melihara Kunti lemah seperti kau!" amarah Mbah Tejo meledak.
"Ampun mbah ampun! Aku memang tak bisa mengalahkan wanita itu Mbah, dia memiliki pusaka yang sangat kuat," ucap Asih sambil bersujud memohon ampunan.
Dipuncak amarahnya, Mbah Tejo merapalkan sebuah mantra pengikat kepada Asih, menyebabkan tubuh Asih tiba-tiba kaku tak bisa digerakkan.
"Ahhhhh, ampun Mbah ampun!" teriak Asih sambil meronta-ronta.
"Mbahhhh sakit mbahhh, arrrghhhhh!" teriakan Asih terdengar semakin memilukan siapapun yang mendengarnya.
"Diam kau Kuntilanak sial*n!" umpat Mbah Tejo.
Sejurus kemudian, Mbah Tejo memejamkan mata seraya menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya lalu merapal sebuah mantra,
Kawisesan sedulur danyang
Segoro tanpo tirto
Tapaking doro anglayang
Galihing godhong gedhang
Isining Buluh Bumbang
Lontar tanpo piretan
"Brajapati! Datanglah!" ucap Mbah Tejo memanggil sosok yang lain setelah ia selesai merapal sebuah mantra pemanggil.
Tiba-tiba dari udara kosong muncullah sebuah api yang semakin lama semakin membesar dan panas, dari api yang membara itu, muncullah sesosok makhluk tinggi besar berbalut api dan bertanduk seperti domba, taringnya panjang sampai ke depan dadanya, berikut telinganya yang runcing serta matanya yang merah menyala.
__ADS_1
"Gwahahaha, Tejo! Lama tak bertemu! Ada apa kau memanggilku!" suara sosok itu menggelegar memenuhi ruangan.
"Brajapati, aku memanggilmu kemari karena aku mau kau menghukum kuntilanak j*lang itu! Setelah menghukumnya, aku mau kau melakukan sesuatu untukku!" sahut Mbah Tejo sambil menunjuk ke arah Asih yang sedang meringkuk tak bisa bergerak.
"Hahahah itu perkara mudah Tejo, apa mau ku musnahkan sekalian jin rendahan ini?" ucap Brajapati seraya melirik angkuh kearah Asih yang masih merintih kesakitan.
"Terserah kau saja mau kau apakan dia, yang jelas, hukum sekeras-kerasnya!" teriak Mbah Tejo.
"Hmm, baiklah aku harap aku nanti mendapat hadiah yang setimpal, gyahahaha," Brajapati menarik Asih dengan paksa dan membawanya berpindah tempat dalam sekejap mata.
Di sebuah tanah kosong yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar dan semak belukar yang tinggi,
Ctingggg..craahhshh
Dhuggggggg..
"Arghhhhhh!" Asih kembali berteriak kesakitan karena membentur tanah akibat di lempar oleh Brajapati dari ketinggian.
"Gyahahaha, sudah lama aku tak menyiksa manusia, tapi sekarang aku dapat mangsa seorang jin, jin wanita yang lemah, gyahaha, aku sungguh berterima kasih kepada Tejo!" gelegar suara Brajapati menggema dipenjuru hutan.
"Sudah lama sekali aku tak menggunakan cemeti nagageni ini, biar kau merasakan betapa ganasnya cemeti ini wahai jin lemah!" ucap Brajapati sambil mengeluarkan sebuah cambuk emas berbalut api yang berkobar dari pegangan sampai ujungnya.
Ctashhhhhh
Ctashhhhhh
"Gyahahah, berteriaklah, memohon ampunlah, rasakan hukuman dariku!" Brajapati terus menerus mencambuk Asih tanpa ampun.
Siyuuuuttt, jedhuaaarrrrr
Tiba-tiba tubuh Brajapati terlempar menabrak sebuah batu besar karena terkena suatu serangan yang tak tau berasal darimana dan siapa yang mengeluarkannya.
Dari atas pohon jati berdirilah sosok wanita cantik berkebaya dan berselendang, ia adalah Prameswari.
"Arghhhhhh, kurang ajar! Siapa yang berani menyerangku!" geram Brajapati sambil menengok kesekeliling.
"Aku, kenapa? Kau tak suka wahai makhluk hina?" sahut Prameswari seraya terbang pelan mendekati Asih.
"Kurang ajar! Rupanya kau jin laknat! Gyahhhh!" Brajapati berusaha menyerang balik Prameswari dengan melemparkan bola api sebesar ban truk tronton.
__ADS_1
Bbllrrrrrrr..bblrrrrrr..
Ctashhh..dhuarrrrr!
Prameswari berhasil menangkis serangan bola api Brajapati dengan mudah, kemudian ia tersenyum penuh keangkuhan.
"Cuma ini yang kau punya? Hahaha, masih perlu seribu tahun lagi agar kau bisa menandingi ku!" ucap Prameswari seraya melayang di udara.
"Dasar bajing*n! Hyaaaaahh!" Brajapati kembali menyerang Prameswari menggunakan ilmunya.
Kali ini ia menghentakkan kakinya dan seketika tanah bekas hentakan kakinya terangkat keatas dan melayang. Gumpalan tanah padat yang besar itu tiba-tiba diselimuti api yang berkobar, dan seketika melesat kedepan dengan kecepatan tinggi mengarah ke Prameswari dan Asih.
Siyuuuuuttttt, bllrrrrrrrrr
"Hmmph, serangan yang lemah!" Asih melompat menyongsong ke arah datangnya serangan itu dan seketika membelahnya menjadi dua bagian, dan tiap bagiannya terlempar sejauh beberapa meter dan menabrak beberapa pohon lalu terbakar.
Jedhuaaarrrrr! bbrrrllllrrrrr
"Mati kau makhluk rendahan!" tanpa aba-aba Prameswari melesat ke arah Brajapati yang masih terengah-engah karena mengeluarkan banyak energi.
Jlebbbbbbb! sringggggg!
"Arrghhhhhhh, kurang a-," teriakan Brajapati tiba-tiba terhenti ketika tubuhnya terbelah dua lalu musnah di telan kegelapan karena terkena tusukan dan sabetan pedang Prameswari.
Prameswari hanya menghela nafas dan kembali berbalik ke arah Asih sambil menyarungkan pedangnya. Ia pun menghampiri Asih yang meringkuk lemah di atas tanah. Dengan sentuhan jari lentiknya, ia berhasil melepas belenggu Asih dengan mudahnya.
"Heii bangunlah, kau sudah aman, apa kau masih sadar?" Prameswari menggoyangkan tubuh lemah Asih.
"Errghhh, awwwww, i-iya mbak, t-teri-ma ka-sih," suara Asih terdengar sangat lemah dan terbata-taba.
"Siapa namamu?" tanya Prameswari.
"A-asih, Suciasih," suara Asih hampir tak terdengar.
"Bangunlah, aku akan menyembuhkanmu," sahut Prameswari seraya membantu Asih untuk bangkit.
Setelah Asih bangkit dalam posisi duduk bersimpuh, Prameswari mengalirkan energi berwarna putih ke tubuh Asih secara perlahan. Sedikit demi sedikit luka Asih sembuh dan kembali seperti sedia kala. Raut wajah kesakitan pun kini berubah jadi rona bahagia.
"Sudah lebih baik?" ucap Prameswari sambil tersenyum. Terlihat sorot matanya yang lembut membuat Asih terasa nyaman berada di dekatnya.
__ADS_1