
Sore hari yang nampak cerah tanpa awan, matahari yang sedikit terik terlihat mulai condong ke arah barat. Suasana kota Malang yang ramai dan sedikit macet sudah biasa terjadi pada saat jam pulang kerja para pekerja seperti saat ini.
Arya dan Asih yang sedang berboncengan di atas motor matic berwarna putih, nampak berhenti di lampu merah di daerah Kajoetangan, terlihat beberapa musisi dibahu jalan sudah mempersiapkan venue mereka sebelum tampil nanti malam di acara rutin Malang Heritage.
"Wahh rame banget ya Arya," ucap Asih tiba-tiba ketika kedua matanya melihat sekeliling.
"Ya iyalah wong jam segini, jamnya orang kantoran pada pulang," sahut Arya sambil tetap mendongak ke arah lampu merah digital yang sedang berhitung mundur.
"Masih jauh kah?" tanya Asih seraya menempelkan dagunya ke bahu Arya disusul pelukannya yang semakin lama semakin erat di perut Arya.
"Yah lumayan, mungkin 20 mnitan lagi," sahut Arya yang sekarang mulai menarik tuas gas motornya karena lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau.
Arya memacu motornya dengan kecepatan 50km perjam, kecepatan ini tergolong sedang jika melaju di jalan poros kota. Terlihat gaun Asih berkibar tertiup angin serta rambut hitam Asih berkilau terkena sinar matahari sore.
"Wah, baru kali ini aku ngerasain kayak gini, jalan-jalan sore naik motor bareng cowok ganteng, hihihi, aku seneng sekali Arya, makasih ya," ungkap Asih penuh kejujuran.
"Kalau kamu suka, aku gak keberatan ngajak kamu jalan-jalam kayak gini lagi Asih," ucap Arya tetap fokus melihat ke depan.
"Beneran nih Arya?" tanya Asih.
"Iya beneran sumpah!" sahut Arya meyakinkan.
"Makasi banget ya Arya, aku bahagia," senyum merekah di wajah cantik Asih dan kedua tangannya pun memeluk erat tubuh Arya dari belakang.
"Iya sama-sama, aku seneng kok kalo liat kamu bahagia," kembali kata-kata gombal Arya keluar dari lambe lamisnya.
"He'em, yang jelas hari ini aku bahagia banget Arya," dagu Asih kembali di sandarannya di bahu Arya.
Kali ini Asih tak menolak gombalan Arya seperti sebelum-sebelumnya, karena tiba-tiba Asih merasakan getaran yang tak biasa di dadanya dan jantungnya terasa berdegup tak karuan. Mungkin benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di hatinya, hanya saya ia belum menyadari sepenuhnya.
Setelah melewati jalan satu arah di daerah Mayjen Panjaitan, mereka melewati kampus universitas Brawijaya,
"Ini kampusku Asih, aku kuliah disini," Arya memberi tahu Asih seraya menunjuk deretan bangunan universitas Brawijaya yang membentang di sepanjang jalan.
"Wahh gede banget Arya," Asih merasa takjub tanpa berkedip sedikitpun.
"Aku jadi pingin tau dalemnya," ucap Asih kembali merekatkan pelukannya.
"Iya kapan-kapan aku ajak kamu kesini, ikut aku ngampus," jawab Arya sedikit menoleh kebelakang.
"He'em, aku tunggu ya Arya," jawab Asih penuh harap.
__ADS_1
Setelah melewati kampus, mereka berbelok ke arah utara melewati jembatan Soekarno Hatta. Jembatan yang membentang di atas sungai brantas yang mengalir dari kota Batu.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya tibalah mereka di sebuah tempat nongkrong yang lumayan terkenal di kota Malang. Tempat itu bernama Kopdar, yang berdiri sudah lama sejak Arya masih duduk di kelas 6 SD.
Arya mematikan motor lalu memarkirkannya di samping pintu masuk, terlihat susah ada motor Denny yah terpakir agak jauh. Setelah mengunci stang motornya, Arya dan Asih berjalan menuju ke dalam tempat itu.
"Weee lakone teko keri," (tokoh utamanya datang terakhir) teriak Denny kepada Arya dari meja di ujung pintu masuk.
"Lumayan macet bro di kayutangan," sahut Arya menyalami Denny.
Asih yang tak pernah melihat tempat seperti ini mendadak menjadi serba ingin tahu, dia melayang berkeliling sambil melihat dengan serius semua hal yang menurutnya menarik.
"Wahyu ama Kemal udah ente wa?" tanya Arya kepada Denny.
"Udinn, eike udah wa sejak jaman Belanda, mereka masih otw katanya," sahut Denny bernada kaum pelangi.
"Lohh kok belum pesen minum?" tanya Arya sambil melihat ke arah meja yang masih kosong.
"Udah pesen barusan cuma belom di anter," jawab Denny sambil memajukan dagunya.
"Nahhh baru aja diomongin," timpal Denny ketika dari kejauhan ada mbak-mbak waitress yang sedang berjalan ke arahnya membawa secangkir creamy latte di sebuah nampan.
"Iya makasi yah mbak Winda," sahut Denny menarik cangkir kehadapannya.
"Loh kok tau namaku mas?" tanya Winda keheranan.
"Lhah itu?" Denny menunjuk ke arah nametag di dada kiri Winda.
"Ohh iya, hahaha maaf mas khilaf," tawa garing terlontar dari bibir mungil Winda si waitress.
"Ada lagi mas?" imbuhnya.
"Eh mbak aku pesen americano aja," ucap Arya sambil menunjuk gambar kopi hitam di buku menu.
"Oke mas di tunggu ya, gak sekalian snacknya?" Winda sedang melakukan upselling.
"Hhmm, apa yah, bingung mbak, hahaha," jawab Arya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah, pesen frenchfries aja satu mbak, nanti kalo temen-temenku yang laen udah dateng, aku pesen lagi," ucap Denny sambil menuang gula pasir di atas minumannya.
"Oke kak kalau begitu, di tunggu yah mas," terlihat sekilas Winda mengerling ke arah Arya, Arya yang menyadarinya hanya membalas dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Huuffftt, cewek ganjen!" sahut Asih Bu yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Arya sambil bertolak pinggang.
"Uda puas kelilingnya?" tanya Arya kepada Asih sedikit berbisik.
"Ehh siapa yang keliling?" Denny menyahut heran.
"Ahhh bukan ente, aku cuma ngomong sendiri, hahaha," sahut Arya salah tingkah.
"Hihihihi," Asih hanya tertawa melihat Arya yang salah tingkah.
"Hmm, ojo kumat loh, gara-gara bucin ama Dilla sampe stress," celetuk Denny.
"Yee, sapa juga yang bucin," sahut Arya kesal di godain.
"Cieee Dilla ciyeee, iihiyyy," Asih ikut menggoda Arya. Aryapun hanya bisa melotot ke arah Asih yang sekarang sedang terbang mengambang pelan menuju meja kasir.
Asih kembali berkeliling karena rasa penasaran. Tiba-tiba,
"Kyaaaaaaaaa!" terdengar suara teriakan wanita dari dalam kitchen. Sontak hal itu membuat beberapa customer dan juga karyawan kopdar menjadi terkejut.
Sementara itu di dalam kitchen,
"Mir, Mira! kamu kenapa? Kenapa teriak?" Tanya seseorang karyawan laki-laki sambil memegang lengan seorang karyawati yang sedang terduduk lemas bersandar pada dinding.
"A-aku takut, ta-tadi aku melihat gelas shaker melayang sendiri Jo!" ucap Mira dengan terbata-bata ketakutan.
"Ahh jangan ngaco kamu Mir, ini masih sore, kamu ngehalu mungkin," kata Jojo tak percaya.
"Mungkin si Mira lagi kecapekan aja, jadi halusinasi," jawab laki-laki lain yang baru masuk ke dalam dapur.
"Serius sumpah demi Tuhan aku bohong Jo, Din!" Mira masih bersikukuh dengan apa yang telah ia alami.
"Nih minum dulu Mir," Winda yang juga baru masuk pun memberikan segelas air putih kepada Mira.
"Dino, tolong kamu anterin Mira ke loker, biar dia istirahat dulu, aku tinggal nganterin pesanan dulu ke meja 10," ucap Winda menyuruh Dino.
"Yuk Mir, kamu istirahat dulu," Dino membantu Mira berdiri dan menuntunnya menuju ke ruang loker karyawan. Mira pun menurut dan tubuhnya masih terlihat gemetar ketakutan.
"Yok yok balik kerja lagi, semangat-semangat!" Winda mengajak yang lainnya untuk kembali bekerja. Windapun keluar dari dapur menuju meja barista untuk mengambil minuman pesanan Arya.
******
__ADS_1