
Isekai on
-----------
Setelah puas memakan santapan perjamuan yang enak dan mewah, Arya bangkit dan langsung menyandarkan tubuhnya di pilar aula di belakang bangku yang ia duduki tadi sambil selonjoran.
Sekar yang belum selesai dengan buah jeruknya seketika menoleh ke arah Arya sambil menggelengkan kepala.
"Alhamdulillah, kenyang banget. Nih makanan jin kok ya enak banget persis kayak masakan Padang ya? Koki kerajaan ini kalau buka warung nasi Padang di kampung ku pasti laris manis," celetuk Arya.
"Nih emang makanan asli atau apa ya? Takutnya ntar jadi belatung atau ulat gitu pas masuk perut kayak di pilem-pilem." pungkas Arya sambil mengelus perutnya karena kekenyangan.
"Ahh bodo amad, yang penting kenyang. Jarang-jarang aku makan makanan mewah kayak gini." gumam Arya.
Saking nikmatnya merasakan kenyangnya perut, Arya tak sadar kalau si Sekar sudah ada disampingnya, berjongkok dan bertanya.
"Gimana? Enak kan? Puas? Ya iyalah puas wong gak tumbas." Ujar Sekar sambil mengangkat alisnya.
"Waahh yo bener Sekar, makanan paling enak tuh makanan yang gak beli, gak ngeluarin duid, tinggal lebbb," sahut Arya.
Sekar hanya bisa meringis kecut mendengar jawaban Arya yang terkesan slengekan.
"Abis makan kenyang enaknya tidur nih. Bener gak?" tanya Arya sambil senyum.
"Oooow dasar kebo. Kalau mau tidur tuh tinggal nggledhak aja di bawah pilar, moga-moga aja ketiban, biar bisa tidur selamanya." jawab Sekar ketus.
"Yeeee enak aja! Malah doain yang gak bener! Jangan dulu lahhh! masih belom nikah nih aku! Enak aja di doain mokad!" sahut Arya sambil mengambil sisa makanan di sela giginya menggunakan ujung kuku jarinya.
"Iya, nikah belom, tapi kawin sering!" Sahut Sekar sambil beranjak berdiri.
"Eeehhh enak aja, gini-gini aku masih perjaka yoooo, masih ting-ting belom kesentuh wanita." Arya ngedumel.
"Iya belom kesentuh wanita, tapi perjaka udah hilang karena Tante Tari, Tangen Tengen Tangan Kiri (tangan kanan, tangan kiri)," jawab Sekar sambil cengengesan.
"Ohhh awas kamu ya!" Arya ikut bangkit dan mau mencubit Sekar, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya, membuyarkan candaannya dengan Sekar.
"Arya, kemarilah" panggil Raja tiba-tiba.
Tak lama Aryapun berjalan menuju depan singgasana di ikuti Sekar dibelakangnya.
"Iya saya paduka, ada apa paduka memanggil saya?" jawab Arya sambil membungkuk pelan kemudian berdiri tegap kembali.
"Tidak ada hal yang penting, alangkah baiknya kamu membersihkan tubuhmu dahulu dan berganti pakaian, aku sudah menyuruh dayang istana untuk menyiapkan tempat mandi dan kamarmu. Sekar, tolong antar Arya ke kamarnya," kata Raja.
"Siap ayahanda." Sahut Sekar patuh.
__ADS_1
"Trima kasih banyak paduka." jawab Arya.
"Ayo kebo, mandi dulu sana! Badan udah bau kebo beneran!" Canda Sekar sambil menutup hidungnya.
"Mandiin tapi ya," sahut Arya genit.
"Iya ntar di mandiin sama algojo istana, terus di rebus sekalian! Mau?." Jawab Sekar.
"Yeee emg aku sapi apa?"sahut Arya.
"Kan kamu kebo!" Sekar menjawab sambil berjalan agak berlari di susul dengan juluran lidahnya yang di arahkan kepada Arya.
"Oooohhh dasar stress!" Gumam Arya seraya menyusul Sekar di belakangnya.
"Melihat tingkah mereka berdua, Raja dan para punggawa istana hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saya lihat keakraban mereka berdua sudah mulai terjalin Paduka, baru kali ini saya melihat Putri Sekar tersenyum dan ceria seperti itu." Ujar salah satu punggawa yang berbadan gemuk yang duduk di dekat singgasana.
"Hahaha kau benar Kartosuro, baru kali ini aku melihat putriku terlihat ceria, rasanya sudah lama sekali aku tak melihat senyum indah Sekar sejak kepergian ibundanya. Kalau melihat kebelakang, rasanya aku tak ingin keceriaan Sekar saat ini hilang kembali," jawab Raja sambil memainkan janggutnya.
"Sayangnya dia manusia, kalau dari bangsa kita, sudah pasti kita setuju untuk menikahkan Putri dengan pemuda itu, benar bukan Paduka?" tandas Kartosuro.
"Hahah, tidak begitu juga Kartosuro, jodoh ada di tangan yang Maha Kuasa, apapun yang di takdirkan, kita hanya bisa menerima dan mengharap yang terbaik untuk kita semua, termasuk apa yang terbaik buat putriku semata wayang, Sekar," jawab Raja dengan bijak.
Kartosuro masih agak bingung mendengar jawaban Raja, tapi di paksakannya mengangguk berpura-pura mengerti.
***
Arya berjalan pelan di belakang Sekar yang sedang menyusuri lorong paviliun istana menuju bagian belakang bangunan utama. Tak sengaja tiba-tiba Arya memikirkan teman-temannya dan juga orang tuanya.
"Bagaimana keadaan teman-teman dan orang tuaku sekarang ya setelah tau aku tiba-tiba menghilang? Apakah mereka mencariku? Apakah mereka khawatir tentang keadaanku?" batin Arya.
"Oiiiii Kebo! Buruannnn! Lelet amat jadi laki!" Seru Sekar dari kejauhan sambil membulatkan kedua telapak tangannya di depan mulutnya ketika sadar langkahnya sudah terpaut jauh dengan Arya.
Seketika itu teriakan Sekar membuyarkan lamunan Arya dan Aryapun bergegas mempercepat langkahnya.
"Iya-iya baweeel, sabar dikit napa? orang lagi jalan juga!" sahut Arya kesal.
Sekar yang cengar-cengir seketika meraih lengan kiri Arya dan segera berpaut lengan dengannya.
Tanpa sadar muka Arya sudah mulai memerah karena gundukan marshmellow sebelah kanan milik Sekar terasa menempel di lengannya.
Hal itu membuat semua pikiran Arya tentang teman dan keluarganya menjadi buyar bak debu tertiup angin.
Mereka pun jalan bersama menuju tempat yang ada di belakang bangunan utama istana sambil bergandengan sesekali becanda ringan layaknya sepasang kekasih yang dimadu kasih.
__ADS_1
Terlena akan kebersamaan nya bersama Sekar, Arya tidak tahu bahwa di sisi lain dunia, Dilla begitu mengkhawatirkannya.
Hubungan mereka tidak begitu jelas di karenakan mereka berdua sama-sama saling suka tetapi belum ada yang secara terang-terangan mengakui dan mengutarakan perasaan masing-masing.
Arya pun di buat bingung dengan sikap si Sekar terhadapnya, dia begitu terasa dekat dan nyaman saat bersamanya. Tetapi Arya juga sadar tidak mungkin Sekar menyukainya pasalnya mereka hanya baru kenal sehari. Tidak mungkin secepat itu Sekar menyukai dirinya, dikarenakan mereka berdua dari alam dan kehidupan yang berbeda.
Arya pun hanya bisa menikmati dan menjalani apa yang ada di hadapannya seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir.
Tiba-tiba sekelebat bayangan wajah manis Dilla yang sedang tersenyum manja terlintas di benak Arya.
"Dilla..." batin Arya.
***
Flash Back On
"Ma, Arya berangkat dulu, ada kelas pagi soalnya," pamit Arya ke mamanya.
"Iya nak ati-ati di jalan. Jangan lupa nanti kamu mampir ke rumahnya Denny buat nganterin pesanan Tante Ratih, mama nya Denny." Sahut mama Arya.
"Iya ma siap, tapi nanti siang aja ya, aku balik pulang kok abis kelas pagi, ntar aku anterin pesanan nasi tumpengnya pakai mobil," sahut Arya sambil terburu-buru mengeluarkan motor maticnya.
"Ya udah kalau gitu, tapi jangan sore-sore ya nganterin tumpengnya, keburu dibuat selametan soalnya," pesan mama Arya sambil berjalan menuju depan rumah untuk membukakan pagar.
"Iya mama Mella sayang, suiappppp!" Balas Arya sambil menghidupkan motornya.
Di sela-sela kesibukannya mengurus kegiatan sebagai ibu rumah tangga, Bu Mella membuka usaha online catering kecil-kecilan, yah itung-itung buat mengisi waktu luang dan menambah pendapatan harian di luar jatah yang di berikan suaminya, pak Ridwan.
Ayahnya Arya, pak Ridwan sekarang sedang bekerja di luar kota dan jarang pulang, paling-paling sebulan sekali baru pulang. Di tengah kesendiriannya di rumah karena Arya kuliah dan banyak di luar rumah sedangkan suaminya bekerja di luar kota, disibukkanlah dirinya mengerjakan pesanan tumpeng dan berbagai masakan rumahan dari customer-customernya.
"Berangkat dulu ma, Assalamualaikum." salam Arya seraya melajukan motor maticnya.
"Waalaikumsalaam," sahut mama Arya.
"Kasian si Arya jadi anak semata wayang, kalau kakaknya masih hidup, dia pasti sangat menyayanginya." batin mama Arya sambil menutup pagar dan menuju ke dalam rumah.
Sebenarnya sebelum Arya lahir, Bu Mella sempat hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik dan lucu, tetapi takdir berkata lain, kakak Arya itu meninggal tepat pada usia 3 hari setelah kelahirannya. Adapun penyebabnya masih belum jelas, pasalnya dokter juga tidak bisa mengidentifikasi apa penyebab bayi kakak Arya sampai meninggal.
Adapun beberapa saudara dari ayah Arya yang mempunyai "kelebihan", menebak kalau kematian kakak Arya ada sangkut pautnya dengan sesuatu yang berbau ghaib.
Tetapi Ayah dan ibu Arya hanya menganggap ini semua adalah ujian dari yang Maha Kuasa dan merupakan sebuah takdir yang sudah tertulis untuk keluarga mereka.
Wallahu'alam.
**********
__ADS_1