Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 8


__ADS_3

Flashback 22 tahun yang lalu...


Salah satu paman Arya adalah orang pintar di desanya. Beliau adalah kakak kandung dari ayah Arya. Orang-orang sekitar Gunung Kawi kerap meminta pertolongannya perihal segala sesuatu yang menyangkut hal ghaib. Entah  itu untuk pelaris usaha, mendapatkan jodoh, menemukan barang yang hilang, hingga hal yang paling ekstrim yakni teluh dan santet.


Tak kurang dari 3 sampai 5 orang setiap hari datang ke kediaman paman Arya ini untuk berobat atau mengutaran keperluannya hingga berkonsultasi perihal dunia ghaib dan metafisika. Hingga suatu malam..


Tok..tok..tok..


"Permisi, assalamualaikum," teriak seorang pria yang berdiri di depan sebuah pintu kayu jati yang berukir.


Ceklek ..krieeekkk..


Seorang wanita berumur 30 tahunan menyembulkan kepalanya sambil tetap menahan daun pintu di sisi satunya.


"Ya, wa'alaikum salam, ada perlu apa ya pak malam-malam begini bertamu?" tanya wanita itu.


"Maaf mbak, apa benar ini rumah Ki Dharmo?" Tanya pria itu.


"Iya benar pak, ada perlu apa ya?" sahut wanita itu.


Dari dalam, seorang bapak-bapak berkumis dan berkopyah hitam baru keluar dari dalam kamar yang remang-remang. Dari balik kamar itu menyeruak asap mengepul yang berasal dari kemenyan yang di bakar, seketika satu rumah penuh dengan bau asap menyan.


"Siapa dek?" Sahut pria itu kepada mbak-mbak yang berdiri di balik pintu.


"Ini mas ada orang nyariin sampean.". Jawab mbak-mbak itu.


"Di persilahkan masuk saja gak papa dek, Mas sudah tau apa tujuannya datang kemari." kata Ki Dharmo.


"Monggo pak silahkan masuk dulu."


"Iya Trima kasih mbak," pria itu menunduk sambil melangkah masuk kedalam rumah Ki Dharmo.


Saat masuk kedalam rumah, pria itu clingak clinguk, pasalnya hawa di dalam rumah itu begitu aneh dan sesekali membuat bulu kuduk merinding. Di sepanjan tembok ruang tamu, berjajar beberapa Keris dan mata tombak yang di susun sedemikian rupa untuk menambah kesan mistis.


Aroma menyan yang begitu kuat di ikuti bau minyak Misik dan minyak Zhafaron yang bercampur aduk membuat siapapun yang berada disini akan menjadi mual.


"Silahkan duduk dulu, biar istri saya membutakan minuman dan menyiapkan makanan kecil," kata Ki Dharmo.


"Tak usa repot-repot ki," sahut pria itu.

__ADS_1


"Sudah, santai saja mas..Dek Isma, tolong bikinin kopi," Ki Dharmo meminta tolong.


Mbak-mbak yang sedari tadi sibuk di dalam ruang keluarga menyahut dari dalam.


"Iya mas sebentar."sahut mbak Isma.


"Maaf ki malam-malam begini datang bertamu, perkenalkan Nama saya Trisno, saya datang dari Surabaya Ki, saya dengar dari kenalan saya, Ki Dharmo bisa membantu untuk menangani masalah penglaris," kata pak Trisno to the point.


"Iya mas Trisno, saya juga sudah tahu apa maksud tujuan mas kesini, usaha mas Trisno sudah mulai surut karena ada beberapa kompetitor baru yang muncul setahun belakangan ini." Jawab ki Dharmo sambil menyalakan sebatang rokok Surya 12.


"Iya benar sekali Ki, saya juga sempat kesana kemari mencari bantuan orang pintar, tetapi masih nihil hasilnya. Akhirnya saya disarankan rekan saya untuk datang menemui Ki Dharmo." Kata Trisno membenarkan.


"Hmmm ya ya ya, saya paham, saya bisa melakukannya, tapi ada dua pilihan, mas mau yang berproses agak lama tapi syaratnya gampang, atau yang instan, tetapi syaratnya susah," ujar Ki Dharmo.


"Waduh, kalau saya yah maunya yang instan, yang cepat Ki, kalau menunggu lama-lama lagi, bisa-bisa usaha saya bangkrut duluan." jawab Trisno cemas.


"Sudah kuduga sampean bakal pilih pilihan yang kedua. Tapi, apa kira-kira sampean sudah siap dengan semua syarat yang akan saya ajukan?" tanya ki Dharmo menegaskan.


"Saya siap Ki, siap berapapun mahar dan siap apapun syaratnya." Tegas Trisno meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu, saya akan catatkan apa-apa saja yang perlu di persiapkan," kata Ki Dharmo sambil mengambil secarik kertas dan pulpen seraya menuliskan beberapa catatan.


"Ritual keseluruhan ada 3 tahap, tahap yang paling susah adalah tahap terakhir ritual. Ingat, sekali ritual dijalankan, pantang untuk dihentikan di tengah jalan. Dan jangan lupa, usahakan semua syarat yang ada di kertas ite tersediasemua ketika kamu balik lagi kesini." Pesan ki Dharmo menekankan.


Dari dalam, keluarlah mbak Isma membawa nampan berisi kopi dan singkong goreng. Di letakkannya nampan itu di tengah meja.


"Monggo mas silahkan di sambi."kata mbak Isma sambil menunjuk nampan dengan jempol tangan kanannya.


"Nggeh mbak maturnuwun." Sahut pak Trisno.


Sejenak, pak Trisno melayangkan pandangannya ke secarik kertas yang ia pegang. Tidak ada yang sulit menurutnya. Tak sesusah syarat-syarat yang diberikan dukun-dukun sebelumnya. Tetapi Trisno tidak mengetahui betapa susahnya syarat ritual puncak, yakni ritual terakhir di gunung Kawi.


Syarat-syarat yang tercatat di kertas itu antara lain degan ijo 2 buah, nasi tumpeng lengkap dengan lauknya, satu ekor ayam cemani jantan, telur ayam kampung 3 butir, kembang telon, minyak Zhafaron satu botol, dan kemenyan madu satu bungkus.


"Baiklah Ki kalau begitu saya pamit pulang dulu, dua hari lagi saya datang kesini membawa barang-barangnya. Saya mungkin kemari agak sorean Ki, karena siangnya saya ada rapat dengan para petinggi di Resort milik saya Ki." kata pak Trisno setelah menghabiskan segelas kopinya dan beranjak bangkit dari kursinya.


"Baiklah hati-hati di jalan mas." Jawab ki Dharmo sambil melangkah mengantarkan Pak Trisno menuju depan pagar rumahnya.


Setelah masuk ke dalam mobil Pajero Sportnya, pak Trisno membuka jendela mobil dan menganggukkan kepala ke arah ki Dharmo.

__ADS_1


__________


Di hari yang sama, di rumah sakit umum tepatnya di kecamatan Gondanglegi, sepasang suami istri sedang berbahagia karena kehadiran buah hati mereka yang baru pertama kali membuka mata melihat indahnya dunia. Ya, mereka adalah ayah dan ibu Arya. Tetapi bayi yang lahir itu bukan Arya, melainkan mendiang kakak perempuannya.


"Alhamdulillah yah ma, bayi kita lahir dengan selamat, cantik pula seperti ibunya." puji sang suami terhadap istrinya sambil menggendong buah hatinya disamping tempat tidur pasien.


Terlihat seorang wanita yang masih lemah terbaring di tempat tidur pasien, sedang mengangguk dan tersenyum. Air mata kebahagiaan tercurah dari sela-sela kelopak matanya yang sayu berikut peluhnya yang sesekali menetes di pelipisnya menghiasai wajahnya yang terlihat letih setelah 3 jam lebih berjuang antara hidup dan mati melahirkan putri kecilnya yang cantik.


"Iya Alhamdulillah pa, bayi kita sehat, mau di kasih nama apa pa?" tanya bu Mell kepada suaminya.


"Hmmm..bagaimana kalau Arini? Nama yang cantik dan anggun bukan?" jawab sang suami.


"Boleh juga pa, nama yang bagus."sahut Bu Mella.


Mereka berdua menimang dan sesekali mengajak bicara bayi yang baru lahir itu.


"Permisi pak Ridwan, Bu Mella akan kami pindah ke ruang rawat." Kata perawat yang baru saja masuk ruang bersalin tempat Bu Mella terbaring.


"Iya silahkan mbak."jawab pak Ridwan.


"Oh iya pak, apa ari-arinya mau di bawa pulang atau pihak rumah sakit yang akan menguburnya?" tanya perawat itu.


"Ohh iya mbak, saya bawa aja skalian nanti saya akan kubur di rumah." jawab pak Ridwan.


"Baik pak sebentar, setelah ini saya  ambilkan," sahut perawat itu.


Setelah proses pemindahan Bu Mella di lakukan, dan pak Ridwan telah selesai mengambil ari-ari putrinya, ia bermaksud untuk langsung pamit ke istrinya pulang dulu untuk mengubur ari-ari putrinya dan segera beristirahat karena besok pagi akan pergi bekerja.


Sementara itu Bu Mella melakukan perawatan intensif di rumah sakit sampai kondisinya benar-benar pulih.


"Ma, papa pulang ke rumah dulu ya mau ngubur ari-ari Arini terus mandi dan istirahat, besok setelah pulang kerja, papa balik kesini lagi," kata pak Ridwan sambil membelai kepala istrinya.


"Iya pa, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa makan dulu, papa kan dari tadi siang belum makan, di jaga kesehatannya," pesan Bu Mella.


"Iya sayang, kamu juga istirahat ya, semoga cepat pulih biar kita bertiga bisa cepat pulang ke rumah." Ucap pak Ridwan seraya mengecup mesra kening istrinya.


Setelah berpamitan, pak Ridwan pun keluar dari rumah sakit, menuju parkiran mobil dan berkendara menuju rumahnya. Tak lupa pak Ridwan mampir ke toko gerabah dan membeli sebuah gendok (sebuah kendi bertutup yang di gunakan untuk menyimpan ari-ari bayi sebelum menguburnya) serta membeli beberapa bahan untuk melengkapi gendok berisi ari-ari yang akan di kuburkan itu.


***********

__ADS_1


__ADS_2