
"Hmm memang benar, ia sedang kena pelet seorang wanita, wanita ini punya ilmu pelet lintrik, ilmu pelet kuno yang menggunakan media kartu petangan telu," Mbah Tejo menjelaskan.
"Ilmu pelet lintrik ini termasuk salah satu ilmu pelet yang susah buat disembuhkan, tapi aku akan berusaha untuk melepas pelet yang ada pada suamimu," tambah Mbah Tejo.
"Iya mbah, saya minta tolong ya Mbah," suara Soraya terdengar memelas.
"Kamu tunggu sebentar, aku mau memanggil rewangku, biar dia yang memantau ke tempat wanita itu," kata Mbah Tejo kembali menutup mata dan merapal mantra.
"Baik Mbah," sahut Soraya seraya menganggukkan kepalanya.
Poro rewang danyang demit
Rungokno panjalukku
Siro teko, isun enteni
Isun sambat pitulungan
Soko Danyang lor kidul etan kulon
Dawuh marang jabang bayiku!
Seketika asap bakaran kemenyan menjadi semakin besar dan dari gumpalan asap tebal itu muncullah sosok kuntilanak merah yang sedang menyeringai dan tertawa lantang.
"Hihihiihiihii, ada apa Mbah Tejo memanggilku!" tanya kuntilanak itu sambil menggoyangkan kepalanya.
"Aaaarrgghhhh!" Soraya terkejut dan terperanjat ketika melihat kuntilanak merah muncul di hadapannya.
"Kau tak usah takut mbak, ini adalah Kunti akan peliharaanku," kata Mbah Tejo menenangkan Soraya yang sedang gemetar ketakutan.
"I-iya Mbah," suara Soraya terdengar bergetar.
"Asih, aku perintahkan kau untuk memantau wanita yang memasang pelet pada lelaki ini, kalau kau menemukannya segera habisi wanita itu!" perhatian Mbah Tejo beralih ke arah Asih seraya menunjukkan sebuah foto seorang lelaki kepadanya.
"Hmm, lelaki yang jelek, apa benar ia dipelet? Wanita bodoh mana yang mau melet pria sejelek ini? Hihihihi," celetuk Asih sambil tertawa khas kuntilanak.
"Hushhhh, jaga mulutmu Asih!! Istrinya sedang ada disini!" bentak Mbah Tejo memarahi Asih.
"Upsss, heheheh maaf ya mbak aku gak tahu kalo sampean istrinya, hihihi," Asih menoleh ke arah Soraya.
"Iya gakpapa mbak Kunti, aku juga nyadar kalau suamiku gak begitu tampan, mungkin si wanita itu cuma ingin mengejar harta atau uang dari suamiku," Soraya tertunduk lesu.
"Nahhh, sudah kuduga, atau jangan-jangan kau juga menikahi suamimu berdasarkan harta juga? Secara kamu juga cantik mbak, kok bisa-bisanya mau menikah sama lelaki jelek kayak gini, hihihihi," mulut Asih kembali bocor.
"Hushhhh! Asih! Jogoen lambemu! Wes ndango budal!!" Mbah Tejo menjadi geram karena tingkah Asih.
__ADS_1
"Hihihihi, siappp bossss!" Asih menghilang dari pandangan mereka berdua.
"Maafkan rewang saya mbak, dia memang agak susah diatur," Mbah Tejo sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya gakpapa Mbah, memang ada benarnya kata Mbak Kunti itu, saya dulu memang tergiur oleh harta suami saya sebelum saya memutuskan untuk menikah dengannya, karena suami saya seorang pengusaha kebun kelapa sawit Mbah," sahutnya agak tak bersemangat.
"Hmm, aku mengerti, tapi biarlah itu menjadi cerita masa lalumu, yang terpenting sekarang adalah bagaimana melepas kutukan pelet yang bersemayam di dalam tubuh suamimu," kata Mbah Tejo serius.
"Iya Mbah saya minta tolong Mbah, ini mahar sebagai uang muka, Jia berhasil menyembuhkan suami saya, saya akan tambah uang maharnya mbah," sahut Soraya sambil menyodorkan amplop coklat panjang berisi sejumlah uang.
"Saya pamit undur diri dulu Mbah, karena setelah ini saya ada urusan yang harus saya selesaikan," tambahnya seraya beranjak dari duduknya.
"Baiklah kalau begitu, tunggulah kabar baik dariku, aku akan membuat suamimu kembali mencintaimu dalam kurun waktu paling lama 7 hari, jadi sampean bersabar aja," ucap Mbah Tejo sambil mengelus kerisnya.
"Baiklah Mbah, terima kasih, permisi," Soraya berjalan ke pintu dan keluar dari gubuk Mbah Tejo.
_______
Sementara itu di sebuah daerah pemukiman warga di pinggiran pusat kota,
Terlihat sesosok kuntilanak merah sedang terbang melesat melewati beberapa pemukiman warga sambil mendeteksi energi yang berasal dari wanita di maksud oleh mbah Tejo,
"Hmm, aku merasa disekitar sini deh rumah wanita itu," gumam Asih sambil terbang rendah di sekitar pemukiman warga.
"Ahhh disana!" Asih seketika melesat mempercepat laju terbangnya menuju sebuah rumah sederhana di ujung jalan dekat dengan sebuah lapangan.
Asih terbang masuk menembus rumah itu dan sampailah ia di sebuah kamar dengan ranjang besi bersusun dan di kamar itu duduklah seorang wanita dewasa yang sedang memakai daster tidur dan duduk bersila.
Ia menghadap hamparan kartu aneh seukuran kartu domino yang berwarna hitam dan merah, kartu itu bergambar motif aneh berupa lingkaran, lengkungan, dan garis. Kartu-kartu itu adalah kartu untuk meramal dan pelet, yakni kartu Lintrik.
Tak ketinggalan juga kepulan asap kemenyan yang di bakar serta bunga kenanga yang baunya bercampur menjadi satu sebagai sarana ritualnya.
Tanpa wanita itu sadari, Asih telah berdiri di belakangnya dan memandangi wanita yang sedang memegang sebuah foto lelaki yang sama yang ditunjukkan oleh Mbah Bejo.
Wanita itu tengah fokus menjalankan ilmu peletnya, di asapinya foto lelaki itu dengan asap kemenyan sambil diputar searah jarum jam lalu ia pun membaca sebuah mantra,
Kertu-kertu kertas
Kertu kertas tinggalane Chino Londho
Chino goroh, Londho goroh
Yen kertu ora biso goroh
Yen goroh keno bedhone Gusti Kang Moho
__ADS_1
Kertu-kertu kertas
Temu turu, tangek’no
Temu lungguh, lakok’no
Ojo pati mandek yen durung iso
memeti, kumantil, kelingan
marang jabang bayiku
Setelah selesai membaca mantra pelet lintrik, wanita itu mengocok tumpukan kartu dan membaliknya satu persatu dan melihat hasil yang ditunjukkan dari balik kartu tersebut.
Belum selesai wanita itu melakukan ritual pelet lintriknya, Asih secara tiba-tiba menampakkan diri dan hendak menyerang wanita itu.
"Hihihihi," suara tawa melengking Asih yang menyeramkan terdengar di seluruh penjuru kamar.
"Hah! kuntilanak! Mau apa kau kemari!" bentak wanita itu setelah menoleh ke arah Asih.
"Aku akan menghabisimu! Hihihi," sahut Asih seraya mengangkat tangan kanannya yang berkuku sangat panjang dan hitam.
"Suruhan siapa kau!! Berani-beraninya kau menganggu lelakonku!" Wanita itu sekarang berdiri dan mengambil sebuah benda berbentuk tasbih yang terbuat dari kayu.
Tanpa mengindahkan pertanyaan wanita itu, Asih melayangkan cakarannya ke arah wanita itu dan wanita itu berhasil menghindarinya. Cakaran kedua berhasil mengenai sedikit lengan wanita itu, tetapi wanita itu membalas dengan sabetan tasbih yang mendarat dipipi Asih, Asihpun berteriak karena kesakitan. Asap mengepul dari bekas sabetan tasbih wanita itu.
"Aaaarrgghhhh! Kurang ajar kau wanita j*l*ng!" Asih geram dan kembali menyerang wanita itu.
Serangan Asih kembali luput karena Asih terpental kebelakang setelah tasbih wanita itu mengenai dadanya.
"Arghhhhh!" Asih kembali mengerang kesakitan.
"Hahaha, kau sudah mengetahui dan merasakan kemampuanku bukan? Rasakan itu! Hahaha," sahut wanita itu sambil tertawa menghina.
"Ughhh, siapa kau sebenarnya!" Asih tersungkur sambil memegangi dadanya yang berasap.
"Namaku Rina, sekarang jelaskan apa tujuanmu menyerangku? Kalau kau tak menjawab, akan ku musnahkan kau sekarang juga!" ancam Rina seraya memutar-mutar tasbih kayu miliknya.
"Aku Asih, tolong jangan musnahkan aku, aku hanya disuruh oleh dukun yang bernama Mbah Tejo untuk menghentikanmu memelet orang itu," kata Asih mengaku sambil menunjuk foto yang ada di lantai.
"Hmm, rupanya Soraya menyuruh dukun itu untuk menghentikanku, hahahah dasar bodoh!" Rina menyeringai ke arah Asih yang sedang duduk bersimpuh.
"Sekarang kembalilah ke dukun itu! Bilang padanya, dia tak akan bisa menghentikanku! Hahahah," perintah Rina kepada Asih yang masih meringis kesakitan.
Tanpa menyahut, Asih pun terbang melesat menembus tembok dan berniat kembali ke tuannya, yaitu Mbah Tejo yang sedang menunggu kedatangannya.
__ADS_1
*******