Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 18


__ADS_3

Nagini hanya bisa tersenyum melihat adiknya yang malu-malu ketika bertemu dengan lawan jenis, hal ini terlihat dari sikapnya yang ia tunjukkan di depan Chandranala beberapa saat yang lalu. Tingkah khas seorang remaja yang beranjak dewasa.


"Lucu juga ya adik kamu Nagini," kata Chandranala setelah matanya mengikuti arah Lasmi masuk ke dalam.


"Yah begitulah dia hahaha, baiklah aku akan memberitahumu apa tujuanku mengajakmu berbincang disini," Nagini buru-buru mengganti topik pembicaraannya.


"Sebenarnya aku memang secara khusus diperintahkan oleh Raja Sudrapala untuk menjemputmu, aku adalah salah satu selir beliau, lebih tepatnya selir terakhir yang paling dipercaya oleh Raja Sudrapala. Beberapa puluh tahun lalu aku adalah seorang ahli spiritual kerajaan Rudrosengkolo, karena Raja menyukaiku, beliau mencopot jabatanku lalu menjadikanku salah satu selirnya," Nagini bercerita dengan serius.


"Aku di utus secara khusus karena raja Sudrapala tidak ingin para petinggi dan punggawa istana mengetahui hubungan khususnya dengan kerajaanmu, kerajaan Agniamartho, karena kamu tahu sendiri sejak dulu kerajaan kami memang selalu berselisih dengan kerajaanmu siapapun yang menjadi rajanya," tambah Nagini seraya menuangkan minuman tuak itu kedalam gelas yang terbuat dari tembaga dan menyodorkannya di depan Chandranala yang sedang menahan dagu dengan kedua tangannya.


"Lantas, mengapa kau mengajakku kesini? Kenapa kita tidak langsung saja menuju ke istana tempat raja Sudrapa?" tandas Chandranala sembari meneguk tuaknya.


"Ada beberapa alasan khusus aku mengajakmu singgah terlebih dahulu disini, pertama di istana sedang di adakan rapat penting yang di hadiri semua penatua dan juga para petinggi istana, yang kedua adalah yang paling serius untuk di hindari, istana kedatangan tamu penting dari kerajaan Wesibuwono, salah satu ahli sihir yang sudah terkenal seantero jagat dunia jin," keseriusan terpancar dari wajah anggun Nagini.


"Lalu, apa hubungannya pertemuanku dengan raja Sudrapala dengan ahli sihir dari Wesibuwono itu?" Chandranala nampak agak kebingungan.


"Hahaha meskipun tampan, kau ternyata polos juga ya," Nagini tertawa sambil sedikit menutup mulutnya dengan telapak tangan.       "Ahli sihir itu bernama Arthasena dan bergelar Begawan Narankara, apakah kau pernah mendengarnya?" tanya Nagini.


"Hmm..sepertinya aku pernah mendengarnya saat nenekku bercerita dulu tentang masa kejayaannya, beliau pernah menantangnya dan hasilnya nenek menyerah dan mengaku kalah," sahut Chandranala.


"Yah kau benar, Begawan Narankara memang terkenal kuat dan sulit di hadapi dengan cara apapun walau dengan cara licik sekalipun,"


"Apa kau tahu kenapa dia diberi gelar Begawan Narankara?" (Candranala hanya bisa menggeleng lesu menanggapi pertanyaan Nagini)

__ADS_1


"Hahaha kau harus belajar lebih rajin mulai saat ini Chandra, sesuai gelarnya yang berarti Seorang Pertapa yang Berkekuatan Mendekati Tuhan, karena kekuatannya yang di luar nalar, dia juga bisa dengan mudah mendeteksi dimana posisi lawan secara akurat, ataupun menembus pikiran dan bisa membaca isi hati lawan bicaranya,"


"Begawan Narankara juga bisa mengintip sedikit ke masa depan," Nagini terlihat begitu antusias menceritakan Begawan Narankara ini sedangkan Chandranala hanya mengangguk pelan sedari tadi.


"Ada desas desus juga kalau dia bukan murni keturunan bangsa Jin, banyak yang berspekulasi kalau Begawan Narankara itu keturunan Raja Iblis," Nagini menjelaskan dengan mata yang agak melotot menekankan setiap kalimatnya.


"Kok sekarang jadi membahas Begawan itu? Bukannya perbincangan kita mengacu pada bagaimana pertemuanku dengan raja Sudrapala?" kata Chandranala mulai tak sabar.


"Hahaha iya maaf Chandra, aku jadi bersemangat kalau membicarakan sosok yang kuat, sampai mana kita tadi?" Nagini tersenyum salah tingkah.


"Sampai kepulau harapan untuk segera memilikimu," celetuk Chandranala seraya mengangkat kedua alisnya yang tebal seperti ulat bulu pohon jati.


"Ahahaha gombal!" sahut Nagini sambil tertawa renyah.


"Yah namanya juga becanda, mana berani aku menggoda selir seorang raja, apalagi selir Raja Sudrapala!? Bisa-bisa kepalaku terpisah dari tubuh," Chandranala mengaitkan kedua lengan memeluk badannya sendiri menyiratkan adegan yang sedang menggigil ketakutan.


"Lantas kenapa kamu bersedia menjadi selir kalau hanya untuk menjadi alat pemuas raja? Terus, mengorbankan hati dan perasaanmu? Aneh kamu," celetuk Chandranala tanpa merasa bersalah.


"Ini semua semata-mata demi mengamankan posisi ras siluman ular yang semakin tergeser dan terancam oleh bangsa siluman lain,"


"Selain itu pula ayahku mendapat sedikit ancaman dari seseorang yang mengakibatkan mau tak mau aku harus bersedia menjadi selir Raja Sudrapala," sahut Nagini sambil menuang tuak lagi di gelas milik Chandranala.


"Siapa yang mengancam ayahmu?" Chandranala semakin tertarik dengan cerita Nagini, terlihat dari badan Chandranala yang semula bersandar, sekarang malah semakin condong ke depan menatap Nagini begitu fokus.

__ADS_1


"Hahaha itu hanya cerita lama, kau tak perlu tau sedetail itu, kita juga baru bertemu, ada saatnya aku akan menceritakan semua kisahku kepadamu, silahkan," Nagini menyuruh Chandranala untuk minum lagi.


Chandranala merasa agak malu mendengar ucapan Nagini lalu menenggak minumannya dengan tergesa-gesa, kini wajah lebih kelihatan merah padam setelah banyak minum tuak. Tangannya pun buru-buru menyabet apel merah yang tersedia di meja lalu menggigitnya. Kesan salah tingkah yang begitu terlihat mencolok.


"Bagaimana denganmu?" Nagini tiba-tiba bertanya sambil menyangga dagu dengan punggung telapak tangannya.


"Apphbbanyuaa?" Mulut Chandranala penuh kunyahan apel yang belum sempat ia telan.


"Yahhh sembari kita menghabiskan waktu sebelum kita pergi ke istana, coba kamu ceritakan kisahmu, yah segala sesuatu tentangmu, aku ingin mendengarkannya, termasuk hubungan asmaramu," Nagini bertanya dengan penuh penekanan diiringi senyum dan tatapan genit menggoda.


"Uhukkk uhukkkkk.." Chandranala terbatuk karena terkejut. Sambil berusaha menelan sisa apel yang masih ada di dalam mulutnya, ia pukul-pukul dadanya berulang kali.


"Hahaahah," Nagini tertawa begitu keras melihat kelakuan Chandranala yang begitu konyol.


Saat mereka berdua tengah bercanda mencairkan suasana yang sedari tadi tegang dan serius, tiba-tiba dari udara kosong sekonyong-konyong muncullah sosok yang begitu asing di hadapan mereka.


Ketika sudah mulai terlihat jelas penampakan bentuk sosok itu, Nagini secara tak sadar membuka mulut lebar-lebar diiringi matanya yang terbuka begitu lebar seakan-akan bola matanya akan menyembul keluar dari kelopaknya.


Aura di dalam ruangan seketika menjadi berat dan penuh tekanan yang tak terlihat, membuat Nagini dan Chandranala sulit untuk bernafas.


Chandranala yang terdiam sambil memegang dada kirinya, berusaha untuk tetap konsentrasi menghadapi tekanan yang diberikan sosok yang baru menampakkan diri ini.


Nagini yang sedari tadi terkejut, tak kuasa menahan kuatnya aura kehadiran sosok itu dan akhirnya terkulai lemas tak berdaya diatas kursinya.

__ADS_1


"Apakah kau cucu dari Pitaloka?" sosok itu bertanya tiba-tiba. Suaranya yang menggelegar menggetarkan setiap sudut dinding ruangan.


*******


__ADS_2