Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 19


__ADS_3

Sosok itu menampakkan dirinya sebagai orang tua yang berperawakan sedang tak begitu kekar namun kelihatan cukup tangkas. Sosok kakek tua itu memakai pakaian serba putih dari atas sampai bawah berikut ikat kepala yang melingkar di dahinya.


Ia terlihat memegang sebuah tongkat kayu sepinggang yang berukir indah. Tongkat itu ia gunakan untuk menyangga tubuhnya agar tetap tegap. Rambutnya yang hitam berbaur dengan sedikit uban dikuncir lalu dililitkan keatas membentuk sebuah stupa.


"I-iya saya adalah Chandranala, cucu sekaligus murid dari Nyai Pitaloka, kalau boleh saya tahu siapakah gerangan resi ini?" dengan agak gemetar sembari memperlancar laju nafasnya, Chandranala menjawab pertanyaan kakek tua itu.


Tanpa ba-bi-bu sejurus kemudian kakek tua itu melayangkan tongkatnya kearah Chandranala, dan dalam sekejap mata, tongkat itu akan menghantam wajahnya, spontan ia menghindar ke samping dan mengambil kuda-kuda. Serangan itu luput dan tongkat itu melayang kembali ke tangan kakek tua itu.


Kembali kakek itu menyerang Chandranala, kali ini tongkat tetap berada di genggaman kakek itu, dengan serangan yang frontal lurus kedepan dan sesekali menyabet ke sisi kiri dan kanan tubuh Chandranala.


Serangan kakek itu bertubi-tubi tanpa jeda dan Chandranala hanya mampu mengimbangi dengan menghindarinya sambil melompat kesana kemari.


Nagini yang masih terkulai lemas tak bisa menolong Chandranala yang sedang kerepotan menghadapai serangan kakek tua itu. Ia hanya bisa membatin dalam hati semoga Chandranala tak terluka parah nantinya.


Laksmi yang sedari tadi ada di kamarnya terkejut mendengar ada suara orang yang sedang berkelahi. Ia pun mendadak berlari keluar untuk memeriksa keadaan, dan betapa terkejutnya Laksmi melihat kakaknya terkapar lemas berikut Chandranala yang sudah hampir kehabisan nafas.


Laksmi hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata tak bisa berbuat apa-apa karena ia belum menguasai satupun ilmu kanuragan, dalam keadaan genting ini, timbul pikiran Laksmi untuk segera mencari seorang guru dan belajar ilmu Kanuragan agar bisa melindungi kakaknya dan dirinya kelak.


"Aku harus bisa menjadi lebih kuat, aku harus bisa! Apapun yang terjadi secepatnya aku harus bisa menjadi kuat!" teriak Laksmi dalam hati.


   Hiyaaaatttt cyahhhh..swishhh


Chandranala sekarang sudah bisa mengimbangi serangan kakek tua itu dengan pedang peraknya yang sedari tadi sudah ia keluarkan dari sarungnya.


   Ctinggg..ctingggg..swishhh swishhh..


Pedang Chandranala beradu sengit dengan tongkat milik kakek tua itu. Ternyata tongkat itu tak serapuh kelihatannya, buktinya ia mampu menangkis sabetan pedang tajam milik Chandranala. Walaupun tongkat kayu itu terlihat terbuat dari kayu, tetapi kekuatan ketahanannya melebihi sebuah besi baja.


Kakek itu terlihat santai meladeni gempuran pedang milik Chandranala, tanpa mengeluarkan keringat setetes pun, malah terlihat raut mukanya memancarkan kegembiraan dan kepuasan, layaknya orang tua yang sedang mengajak bermain anak kecil

__ADS_1


   Ctinggggg, swishhhh, ctingggg


"Hahaha gerakan mu cukup bagus anak muda, tapi sayang kurang begitu kuat karena kau belum menyatu dengan pedangmu," ucap kakek itu sambil tertawa.


"Apakah hanya ini yang di ajarkan Pitaloka padamu? Setahuku ilmu Pitaloka tak serendah ini, atau mungkin kau yang kurang berbakat, hahahah," ejek kakek itu.


"Kurang ajar! Hiyaaaaaaat!" Chandranala mengepalkan tangannya kuat-kuat dan kepalan tangannya tiba-tiba memancarkan cahaya berwarna merah dan energi itu dilesatkan langsung kedepan kakek tua itu.


   swushhhhhh..duarrrrrr!!


Kakek itu berhasil menangkis serangan itu dengan tongkatnya dan memantulkan energi berwarna merah itu kesamping menyebabkan dinding gua retak nyaris berlubang.


Kakek tua itu menoleh kearah retakan di dinding dan tersenyum mengejek.


"Kalau kau menyerangku dengan kekuatan yang hanya sekecil itu, aku tak akan menangkisnya, malahan akan kusuruh kau untuk membidiknya tepat di dahiku, ahahahah," kembali kakek tua itu tertawa sambil mengejek Chandranala.


   Swushhhhh swushhhhh swushhh


"Bed**bah l*knat!" Umpat Chandranala seraya melompat kebelakang dan memasang kuda-kuda yang sepertinya tak asing di mata kakek tua itu. Chandranala menengadahkan telapak tangan kiri di depan perut, disertai telapak tangan kanan terbuka yang ujung jarinya menghadap keatas, lalu di gerakkan tangan kanan itu perlahan-lahan keatas sampai menyentuh depan dahinya.


Di putar lah telapak tangan kanan itu berkeliling kepalanya, kemudian ia melipat ketiga jari dan hanya menyisakan jari telunjuk dan jari tengah yang sedang teracung. Sambil membaca sebuah mantra,


   Ingsun amatek ajiku, aji Kolosutro


   Danyangku lungguh, rewangku mbathur


   Babahan karekep barukut Wesi


   Wesi sacengkang, Tirto sakepyak

__ADS_1


   Agni sakilan, Bayu sadempu


   Sakehing brojo tan ono nedhasi


   Sajroning jagat pinembahi


"Hmm, kau mau menggunakan ajian itu ya," batin kakek tua itu.


"Hahaha, mari kita lihat kemampuanmu menggunakan ajian itu!" kakek tua itu terlihat siap dengan serangan yang akan dilancarkan oleh Chandranala.


Setelah sekumpulan energi berwarna keemasan berkumpul semakin banyak dan semakin padat di ujung jarinya, dengan satu hentakan kaki kanan dan ayunan lengan kanannya, Chandranala melepaskan energi itu sekuat tenaga menerjang lurus kedepan menuju kakek tua itu.


   Siyuuuuuttttt..jedhummmmmm


Kilatan cahaya emas itu melesat dan tepat menghantam dada kakek tua itu. Ia sengaja tak menghindari serangan terkuat Chandranala dan akibatnya ia terpaksa harus melangkah mundur sambil sedikit menahan beban tubuhnya menggunakan kaki kirinya dengan salah satu tangan yang memegang bagian dadanya. Dengan keadaan yang seperti itu, kakek itu masih bisa tertawa.


"Hahahaha, lumayan. Tetapi tetap masih belum cukup untuk mengalahkan ku, dan juga ajian Kalasutra harus dilakukan dua orang yang mempunyai hubungan khusus, agar kekuatan sebenarnya bisa dikeluarkan,"


"Kali ini Pitaloka benar-benar mengajarimu dengan sungguh-sungguh, maafkan aku anak muda, aku sudah meremehkanmu, Tak kuduga kedua guru dan murid ini menggunakan ajian yang sama kepadaku, hahahah, "


"Uhukkkk, kurang ajar! Siapa kau sebenarnya! Bagaimana nenek bisa mengenal orang sepertimu yang tanpa alasan menyerang orang yang tak di kenal!" teriak Chandranala geram.


Setelah berteriak seperti itu, Chandranala terhuyung kebelakang dan terjatuh. Rupanya ia sudah kehabisan tenaga setelah mengeluarkan ajian pamungkasnya.


Nagini yang awalnya merasa puas karena ajian Chandranala mengenai kakek tua itu sekarang kembali memasang muka masam karena kakek itu tak terluka parah seperti yang ia harapkan.


Hal yang sama dirasakan oleh Laksmi yang sedari tadi menonton secara live acara pertarungan Chandranala dengan kakek tua yang tak diketahui asal-usulnya.


Setelah mengeluarkan ajian pamungkasnya, kini. Chandranala hanya bisa bersimpuh pasrah kehabisan tenaga karena ia sudah tak mempunyai ajian yang lebih kuat dari ajian Kalasutra yang mungkin bisa membuat kakek misterius itu tumbang.

__ADS_1


Senyum kepuasan tersirat dari raut wajah kakek itu sambil melangkahkan kakinya berjalan menuju ke tempat Chandranala terduduk lesu, kakek tua itu menjulurkan tangan kanannya ke arah kepala Chandranala. Candranala hanya bisa menutup kedua matanya seakan pasrah pada keadaan apakah ini akhir dari hayatnya.


********


__ADS_2