Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 21


__ADS_3

Suara dentuman gong di susul tembang langgam Jawa tanpa lirik berkumandang di dalam bangunan utama istana ini. Terlihat beberapa makhluk siluman memainkan gamelan tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


Para penjaga istana bertubuh kekar dan berotot berdiri di setiap sudut ruangan dengan membawa tombak bermata tiga dan perisai besi.


"Wahhh besar juga aula istana ini," batin Chandranala.


Para punggawa istana nampak duduk bersila diatas sebuah permadani merah bercorak harimau yang sangat besar. Mereka duduk berhadap-hadapan satu dengan yang lainnya di temani beberapa wanita cantik (mungkin juga siluman).


Para wanita itu ada yang menyuapi para lelaki itu, ada yang duduk sambil bermanja di pangkuannya, ada pula yang sedang melakukan gerakan-gerakan menggoda penuh nafsu yang mengundan syahwat.


"Baru masuk, aku sudah disuguhi pemandangan yang seperti ini!?," gumam Chandranala pelan.


Nampaknya sedang di adakan pesta besar saat ini terlihat dari suasana riuh gelak tawa serta tersedianya makanan mewah yang berjajar begitu banyak.


Mata Chandranala tertuju pada sekelompok wanita cantik yang sedang menari bertelanjang dada, menjamu para penghuni istana dengan lenggak lenggok pinggulnya. Tubuh indah para wanita siluman itu meliuk-liuk panas dan bergelora diikuti hentakan gumpalan daging didadanya yang sesekali mengayun tak tentu arah.


Para penari itu hanya mengenakan kain tipis agak tembus pandang yang di lilitkan di sepanjang pinggangnya. Dibalik kain tipis yang menerawang itu, tersirat sekelebat bayangan berbentuk segitiga indah yang simetris. Hal ini pasti membuat para lelaki tak akan mengalihkan pandangannya walau sedetik saja.


"Astaga, apa aku sedang berada di nirwana?" Chandranala makin takjub melihat wanita-wanita itu.


Tanpa sadar Chandranala meneteskan air liur di ujung bibirnya dan tiba-tiba celana nya terasa semakin sesak, karena pusaka miliknya bergerak semakin membesar seperti hendak menembus belenggu yang mengikat di dalam celananya. Nagini yang melihat Chandranala hanya bisa tersenyum dan menegurnya.


"Sepertinya ada yang sudah tak tahan nih, aku sudah siap loh menemanimu," bisik Nagini menggoda sambil melirik bagian celana Chandranala yang sudah menyembul kedepan. Godaan dari Nagini ini sebenarnya hanya sebuah candaan untuk mengerjai Chandranala.


Sontak bisikan Nagini di telinganya membuat Chandranala mengejang dan merinding sesaat, dan itu membuat Nagini tak bisa lagi menahan tawanya.


"Hahahaha, dasar bocah," tawa Nagini pecah di antara hiruk pikuk suasana pesta di dalam istana ini.


   Prokk prokk prokk..

__ADS_1


   terdengar tiga kali tepukan tangan yang berasal dari ujung tengah aula, dan ketika tepukan ketiga berhenti, seketika itu pula keriuhan yang sedari tadi terdengar menggema di seluruh penjuru ruang tiba-tiba berubah senyap dan menjadi hening.


Tepukan itu berasal dari sosok yang sedang berdiri dari singgasananya dan sekarang semua mata memandang ke arah mereka berdua.


Tak ayal Candranala menjadi kikuk dan salah tingkah tatkala semua mata tertuju padanya. Serasa menjadi pusat perhatian begitu banyak orang yang tak ia kenal.


Nagini yang memang seorang selir di istana ini tak begitu mempedulikan orang yang ikut memandangnya. Raut mukanya biasa saja malah terkesan sedikit kesal.


"Hahaha, selamat datang wahai tamu istimewaku, aku sudah menunggu kedatanganmu," ucap lelaki agak tambun berjenggot hitam panjang tanpa kumis.


Lelaki itu bertubuh agak gemuk dan berpostur pendek, wajahnya yang terlihat agak garang menambah kesan tegas dan sedikit otoriter. Sosok itu mamakai jubah panjang mewah terbuat dari benang sutra berwarna emas dan berhias beberapa batu permata di beberapa bagian.


Di kepalanya tersemat sebuah mahkota emas berukuran agak besar dan meninggi ke atas menyerupai puncak sebuah candi. Dia adalah sosok raja negeri ini, Raja Sudrapala.


"Hadirin sekalian mari kita sambut tamu istimewaku, ia adalah cucu dari sahabat baikku," ucap Raja Sudrapala seperti sedang berorasi.


"Kemarilah nak, duduklah," perintah raja Sudrapala.


"Baik Baginda, terima kasih," ucap Chandranala seraya melangkahkan kaki ke depan menuju tempat duduk yang telah di sediakan.


Nagini mengikutinya dari belakang tetapi tak ikut duduk melainkan naik menuju area singgasana dimana berkumpulnya beberapa selir yang lain lalu duduk bersimpuh di sebelah kiri raja Sudrapala.


"Semuanya, silahkan lanjutkan, bergembiralah dan nikmati semua hahahah," raja Sudrapala kembali tertawa, bak seorang kapten baja laut yang sedang berpesta di atas kapal bersama anak buahnya.


Chandranala yang sedari tadi bingung harus bagaimana, cuma bisa mengerling ke arah Nagini, namun ia hanya tertawa kecil menanggapi lirikan mata Chandranala. Dan itu membuat Chandranala sedikit menggerutu.


Saat pandangan Chandranala bergeser pelan ke samping, tak sadar bahwa sedari tadi ternyata Resi Arthasena berada di sebelah kanan raja Sudrapala sedang menikmati santapannya, sontak membuat Chandranala agak terkejut seraya membungkukkan badan kearahnya. Arthasena hanya membalas senyum sambil mengangguk.


"Nak bagaimana kabar nenekmu? Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Apakah dia masih sibuk membuat ramuan dan obat-obatan yang aneh? Hahahah," Raja Sudrapala bertanya disertai sedikit tawa yang terkesan agak di paksakan.

__ADS_1


"Hahaha iya Baginda, beliau masih berkutat dengan ramuannya dan beliau masih sehat dan awet muda,"


"Maaf Baginda, mengenai kedatangan hamba kemari," perkataan Chandranala terpotong tiba-tiba.


"Jangan terburu-buru nak, aku sudah tahu maksud kedatanganmu, Pitaloka pasti menyuruhmu untuk meminjam pusaka Brajamusti yang aku miliki, tenanglah dan nikmati dulu keramah-tamahanku,"


"Baiklah Baginda," Chandranala menyahut disertai anggukan kepala.


   Prokprokprok


Seketika datanglah beberapa wanita cantik yang membawa nampan berisi makanan mewah dan beberapa buah segar yang ranum, berikut dengan kendi minuman yang langsung disuguhkan kehadapan Chandranala.


"Mari silahkan di nikmati nak," Raja menunjuk nampan itu. Candranala membalas nya dengan senyuman dan anggukan.


Belum memulai menikmati hidangan yang tersaji dihadapannya, Chandranala kembali dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang menurutnya paling cantik yang pernah ia temui. Serasa terhipnotis, tanpa sadar kedua mata Chandranala bergerak mengikuti kemana arah wanita itu melangkah.


Dilihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, tak ada kekurangan sedikitpun, sempurna bak bidadari yang turun dari honda beat abang grab.


Wanita itu memakai gaun panjang seperti kebaya berwarna putih kebiruan khas putri kerajaan lengkap dengan selendang sutra yang tergantung dikedua pundaknya.


"Ahhh, cantik sekali wanita itu, seperti Dewi," batin Chandranala.


Author : "Dewi saha Bambang?"


Chandra : "Dewi janda kampung sebelah thor!  ngapain sih ikut nimbrung! udah sono lanjutin nulisnya!"


Author : Ehem, lanjut!


Terlihat kilau terpancar dari beberapa permata kecil sebagai detailnya. Ia juga mengenakan sewek berwarna coklat muda bermotif bunga yang indah. Saat Chandranala fokus memandangi gadis cantik bak malaikat itu, tiba-tiba...

__ADS_1


__ADS_2