Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 39


__ADS_3

"Arghhhhhh!!"


Arya berteriak sekencang-kencangnya karena terkejut melihat ada seorang wanita tak dikenal tidur di sebelahnya.


"Kyaaaaaaa," Asih ikut berteriak karena kaget dengan teriakan Arya barusan. Mata Asih seketika tertuju pada telapak tangan Arya yang sedang mencengkeram salah satu gumpalan dadanya.


Plaaaakkkk


"Mesummmm!!!" Asih berteriak seraya melayangkan tamparan keras di pipi Arya.


"Aryaaaa nakkkk, sudah bangun kamu?? Kenapa teriak-teriak??" terdengar suara mama Mella dari arah dapur.


"Ahhhh iya ma baru bangun, gak ada apa-apa kok ma, Arya cuma kaget bangun-bangun  ngelihat ada laba-laba gede," teriak Arya berbohong.


"Kenapa aku ditampar sih!! Sakit tau!! Siapa kamu!! Tiba-tiba tidur di sebelahku!" sahut Arya kesal sambil memegang pipinya yang sudah mulai memerah.


"Salah sendiri kamu mesum!! Jangan salahin aku kalo aku gampar!" sahut Asih sambil bangkit dari posisi tidurnya.


"Kan aku juga gak tau kalo kamu di sebelahku!" timpal Arya tak mau kalah.


"Lagian kamu siapa tiba-tiba ada di kamarku? Jangan-jangan kamu penguntit ya?  Diam-diam masuk kamar orang, lalu hiiiii!" Arya bergidik.


"Sana pergi-pergi! ntar bahaya kalo mamaku tahu!!" Arya mengibaskan kedua tangannya seperti gerakan menghalau ayam.


"Yyyeee enak aja!! Aku cewek baik-baik tau! Kamu tuh yang mesum! Uda pegang t*t*k gak minta maaf!" ucap Asih sedikit ngotot.


"Trus kalo mamamu tau, mau ngapain? Dia gak akan bisa lihat aku," sahut Asih seperti menantang.


"Iya-iya maaf, ayok jawab pertanyaanku tadi!! Ehhh wait, gak bisa lihat kamu? Maksudnya?? Jangan-jangan kamu juga jin kayak mbak Prameswari??" tanya Arya penasaran.


"Yupppp betul banget! Hihihi," suara seram khas kuntilanak keluar dari tawanya.


"Aku suruhan Nyi Prameswari, aku di suruh jagain kamu sementara dia balik ke alam jin," ujarnya sambil memainkan rambutnya yang panjang.


"Hmmm, pantesan, Kunti ya??" tanya Arya santai tanpa rasa takut.


"Kok tau??" Asih penasaran.


"Karena kau telah meng-hihihihi kan hatiku, hahahah," sahut Arya sambil ketawa menirukan Asih.


"Haaaaa, garing!" timpalnya.


"Yah tau lah, wong ketawamu kayak gitu!". dengus Arya sedikit kesal.


"Iyah juga sih heehe," jawab Asih.


"Tapi Kunti kok cantik?" timpal Arya menggoda.


"Emang mau lihat muka seremku?" tantang Asih kepada Arya.


"Yahh gak lahhh," sahut Arya sambil melotot.


"Makanya jangan bawel! aku pake wujud ini karena disuruh Nyai Prameswari, dia gak mau kamu ketakutan kalo lihat wujud asliku," ucap Asih seraya duduk sambil menggoyangkan kakinya.


"Namamu siapa?" tanya Arya seraya bergeser posisi mendekati Asih.


"Suciasih, panggil aja Asih," sahutnya menoleh ke arah Arya.

__ADS_1


"Aku Arya," timpalnya.


"Udah tau," jawab Asih cuek.


"Yeee jutek amat sih nih kunti!" sahut Arya kesal.


"Terus aku kudu gimana coba?" Asih menoleh kembali ke arah Arya.


"Yah gak gimana-gimana sih," Arya merasa kikuk lalu menggaruk belakang kepalanya.


"Ngomong-ngomong kamu disuruh jagain gimana ama mbak Prameswari?"


"Yah disuruh jagain kamu dari gangguan hal ghaib dan sejenisnya, begitulah," jawab Asih datar.


"Ohhh, makasi yah sebelumnya," Arya tersenyum seraya mengangguk pelan.


"No problem, lagian juga yang nyuruh Nyi Prameswari, mau gak mau yah harus nurut," sahut Asih sambil mengangkat bahunya.


"Loh? Kenapa gitu?" Arya melongok mendekat ke wajah Asih.


"Yah kan dulu Nyi Prameswari udah nolongin aku, jadi untuk membalas budinya, aku sekarang mengabdikan diri ke beliau," Asih menjawab sambil menundukkan wajahnya.


"Emang kamu dulu kenapa?" tanya Arya semakin penasaran dengan cerita Asih.


"Ihhh nanya mulu kayak reporter!" Asih berdengus sebal.


"Yah pengen tau aja, kalau gak mau bilang ya gakpapa, aku gak maksa," Arya mengangkat kedua bahunya.


"Hmm, okay baiklah,"


"Tapi suatu ketika saat aku ngelakuin sebuah tugas, aku gagal, lalu aku disiksa dukun itu,"


"Saat dukun itu menyiksaku di lereng gunung Bromo, aku bertemu dengan nyi Prameswari, kemudian beliau menyelamatkanku dari siksaan dukun itu,"


"Tugas apa yang gagal? Trus kamu disiksa seperti apa?" Arya penasaran lagi.


"Makanya dengerin dulu! Jangan buru-buru nanya!" Asih memukul pundak Arya.


"Aduh! Iya-iya maap, lanjut gih," Arya kembali menatap penuh antusias.


"Waktu itu aku disuruh buat menyerang seorang wanita bernama Bu Rina, ia diduga seorang pelakor oleh seorang wanita yang datang ke dukun yang melihara aku," Asih terlihat serius.


"Wanita itu bernama Soraya, ia mempunyai suami bernama Pak Agus, seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit,"


Seketika Asih mendongak ke atas mengingat kejadian pedih yang pernah ia alami.


Flash back ON


Langit terukir jingga kemerahan di sepanjang mata memandang. Senjakala di ufuk barat tinggal sejengkal lagi terbenam seluruhnya, pertanda malam penuh kesunyian akan segera tiba.


Di sebuah gubuk kecil dipinggiran desa Banjarejo, kabupaten Malang, seorang pria tua setengah renta berumur 70 tahunan tengah duduk bersila menghadap kepulan asap yang berasal dari menyan madu yang dibakar, pria tua tersebut bernama Mbah Tejo.


Mbah Tejo adalah seorang dukun yang sudah terkenal di daerah Malang selatan dan sekitarnya, banyak yang datang untuk meminta pesugihan, minta pangkat, pelet, sampai santet.


Terlihat dukun itu menghunuskan sebilah keris berwarna hitam lalu diasapi di atas bara kemenyan.


Ora ngobong-ngobong menyan

__ADS_1


Dupo sadempu ingkang kemepul


Kembang kanthil kembang telon


Suguhane siro kang mbaurekso


Baturono lelakonku


Danyang kidul Ki Lembusuro


"Lembusuro, datanglah!" Mbah Tejo memejamkan mata setelah membaca sebuah mantra.


Dari kepulan asap kemenyan muncullah sesosok makhluk tinggi besar namun berkepala sapi jantan. Sosok itu bermata merah menyala, bertanduk melengkung dikedua sisi kepalanya.


"Ada apa kau memanggilku Tejo?" tanya Lembusuro.


"Aku ada tugas buatmu, pergilah menuju ke daerah Kepanjen, dan habisi orang ini, terserah bagaimanapun caranya," ucap Mbah Tejo seraya menunjukkan sebuah foto wanita setengah baya kepada Lembusuro.


"Hmm baiklah, akan aku lakukan, jangan lupa siapkan sesajen seperti biasanya, ahahaha." Lembusuro tertawa dan langsung menghilang dari pandangan Mbah Tejo.


Ketika Mbah Tejo kembali berkutat dengan ritualnya, tiba-tiba,


Tok tok tok


"Permisi."


Terdengar suara ketokan di depan pintu rumah mbah Tejo disusul suara seorang wanita yang sedang memanggil.


"Silahkan masuk," teriak Mbah Tejo dari dalam. Dan disaat yang bersamaan, muncullah seorang wanita yang lumayan cantik masuk kedalam rumah Mbah Tejo.


Wanita itu berpostur tak begitu tinggi namun berisi, ia mengenakan setelah blues kantor berwarna biru navy lengkap dengan blazer yang serasi. Rambutnya panjang dan bergelombang berwarna darkbrown, serta menenteng tas tangan branded berwarna mocha.


"Apa benar dengan Mbah Tejo?" ucap wanita itu sedikit membungkuk ke arah Mbah Tejo.


"Iya benar itu aku, silahkan duduk," Mbah Tejo menunjuk ke arah tikar di depannya.


"Namamu siapa dan apa keperluanmu datang kemari?" tanya Mbah Tejo.


"Nama saya Soraya Mbah, saya punya masalah nih, akhir-akhir ini suami saya jarang pulang ke rumah, sekalinya pulang kerja, dia tak pernah memperhatikan saya, saya curiga ada wanita lain mengganggu rumah tangga saya Mbah,"


"Ketika saya ajak ngobrol juga dia selalu cuek mbak, pokoknya dia berubah drastis Mbah sejak 3 bulan yang lalu," tambah Soraya menjelaskan.


"Kamu ada fotonya? Dan apa weton suamimu?" tanya Mbah Tejo.


"Sebentar, ini Mbah, kalau weton, wetonnya Sabtu Pahing Mbah," kata Soraya sambil menunjukkan foto suaminya kepada Mbah Tejo.


"Siapa nama suamimu?" tanya Mbah Tejo sambil memandangi foto suami Soraya.


"Agus Mbah, Agus Harianto," jawabnya penuh keseriusan.


"Baiklah, saya kan menerawang sebentar,"


Mbah Tejo menutup mata dan menggumamkan sebuah mantra yang terdengar tidak jelas, dan setelah itu ia memandangi foto suami Soraya dengan fokus.


Tiba-tiba Mbah Tejo seketika membelalakkan matanya seakan terkejut...


*******

__ADS_1


__ADS_2