
Arya menabrak seorang gadis berkacamata yang sedang menuju ke lantai atas menyebabkan ia jatuh dan buku-bukunya jatuh berantakan. Arya yang merasa bersalah karena sudah berlari segera minta maaf dan membantu membereskan buku yang berserak itu.
"Ahhh maaf ya, aku tak sengaja, kamu tak apa-apa?" seru Arya dilakukan sambil menunduk membantu mengambil buku-buku gadis itu.
"Ahh iya gak apa-apa aku juga salah gak lihat jalan," kata gadis itu sambil membetulkan kacamatanya yang sedang miring. Buru-buru ia mengambil semua bukunya dari tangan Arya, dan berlari menaiki tangga tanpa adanya basa-basi sedikitpun.
"Hmmm cantik juga, siapa ya? Kok aku gak pernah liat?" batin Arya sambil menoleh keatas.
Tanpa memikirkannya lagi, Arya lantas segera menuju ke parkiran motor untuk mengambil Betty-nya dan segera pulang untuk mengantarkan pesanan mamanya.
Sesampainya diparkiran kampus, ia melihat dua orang yang tak begitu asing baru selesai memarkirkan mobilnya. Aryapun menghampiri dan menyapa mereka. Mereka berdua adalah Dilla dan Sarah yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Widihhhh ada dua bidadari baru turun dari Honda CRV nih," sapa Arya sedikit menggoda.
"Yeee, paan sih Paijo! Gak ada kelas kamu?" tanya Sarah.
"Ehh Arya," Dilla menyapa Arya sambil malu-malu.
"Ada sih tadi barusan, cuma dosennya mendadak ijin and kelas dibubarin deh, nih aku mau balik pulang,"
"Owalah, enak dong! Aku ama Dilla juga ada kelas tapi setengah jam lagi sih," sahut Sarah sambil mengambil cermin kecil dari tas Hermes-nya.
"Ehhh ngantin bentar yuk, ngapain buru-buru balik?" ajak Sarah kepada Arya.
"Iya Arya, temenin kita yuk ke kantin bentar," sahut Dilla manja.
Arya mengikis lengan kemeja flanelnya dan melihat kearah jam G-shocknya, "Hmm, oke deh yuk, masih ada waktu kok, soalnya ntar aku mau nganterin pesanan mama ke customer," sahutnya menyetujui.
Dilla terlihat sedikit kaget sekaligus bahagia karena arloji pemberiannya masih di pakai Arya.
"Ehh, jamnya masih dipakai?" tanya Dilla.
"Iya dong, jam bagus kayak gini masa iya dianggurin? Tiap hari aku pakai kok, kan ini kado spesial buat aku. By the way, skali lagi makasi ya Dil!" sahut Arya sambil memegang permukaan arlojinya.
"Syukur deh kalau kamu suka, aku seneng kamu masih mau pakai jam itu," ucap Dilla malu-malu sambil memainkan ujung kaos pinknya.
"Ehemmm, jadi ngantin gak nih? Kalian tuh bener-bener ya, gak dimanapun gak ama siapapun pasti sosweet-sosweetan, emang dikira aku nih papan reklame apa? gak dianggap banget! hufffftt!" celetuk Sarah sambil memasukkan cerminnya kembali kedalam tas.
"Hahahah iya maaf Sar," sahut Arya.
"Kuy lah," ajak Sarah sambil menepuk lengan Arya.
Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju kantin yang terletak di sebelah timur parkiran motor. Sesampainya disana, Arya duduk bersebelahan dengan Dilla, Sarah yang masih berdiri menawarkan untuk memesan apa kepada mereka.
"Mau pesen apa nih?" Sarah menawarkan.
"Kopi susu aja satu," sahut Arya sambil meletakkan tas ranselnya dimeja.
__ADS_1
"Aku es cappuccino aja Sar," Dilla menyahut kepada Sarah.
"Okay wait," Sarah berjalan ke kasir dan memesankan pesanan mereka berikut dirinya yang memesan segelas soda gembira.
***
Sementara itu Bu Agustina yang telah keluar kampus mendadak berhenti dibahu jalan karena mobilnya mogok.
"Aduh, nih mobil kenapa lagi sih!" Agustina mendengus kesal.
Ia keluar mobil dan membuka kap depan mobilnya seraya memeriksa apakah ada yang trouble pada mesinnya. Ia memeriksa setiap sudut mesin dan tak menemukan keanehan. Mungkin juga ia kurang begitu paham masalah mesin mobil. Ia pun mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
"Halo Mas, kayaknya aku telat deh datang kesana, nih mobilku tiba-tiba mogok," kata Agustina kepada orang yang ia hubungi sambil menyalakan tombol videocall dan mengarahkan kamera belakangnya ke mobil Honda Jazz merah miliknya yang sedang terparkir dibahu jalan.
"Waduh trus gimana dong Tin? Aku gak bisa jemput kamu, nih lagi riweh soalnya, coba kamu hubungi mekanik online aja, ntar aku yang bayar," ucap orang itu.
"Ya uda deh kalau gitu, aku cari mekaniknya dulu ya mas," Agustina menyetujui saran orang itu dan menutup teleponnya. Setelah menemukan nomor mekanik online yang bisa dihubungi, Agustina langsung meneleponnya.
"Halo selamat siang, ada yang bisa di bantu?" terdengar suara laki-laki mengangkat telepon dari Agustina.
"Halo selamat siang mas, bisa tolong benerin mobil mogok didaerah mayjen panjaitan gak? Di daerah deket tandon air mbetek,"
"Iya mbak bisa kok, mbak shareloc aja yah lokasi tepatnya, tapi nunggu skitar 30 menitan gak apa apa mbak? Soalnya saya baru aja selesai benerin mobil di daerah Blimbing," jawab laki-laki itu.
"Oke mas gak apa-apa saya tunggu ya mas, terima kasih," jawab Agustina menyetujuinya.
***
"Aku duluan ya Dil, Sar," Arya berpamitan kepada Dilla dan Sarah setelah tegukan terakhir kopi susunya.
"Ya uda yuk bubar, aku juga mau masuk kelas, sluuuurrrpp," sahut Sarah sambil menyedot sampai habis es soda gembiranya.
"Mau balik sekarang Arya? Ati-ati dijalan ya," kata Dilla penuh kelembutan.
"Iya nih Dil, bye, sampai ketemu besok ya," Arya menggambil tasnya seraya melangkah kembali menuju parkiran motor.
Setengah berlari, Arya sampai di parkiran motor dan mengambil Betty-nya. Setelah itu ia langsung tancap gas keluar dari lingkungan kampus. Di perjalanan, ia ingat kalau saldo shopeepay-nya tinggal sedikit, ia memutuskan untuk mampir dahulu ke Indomaret untuk top-up.
Setelah perempatan lampu merah, ia melanjutkan perjalanannya sambil sesekali menengok kanan dan kiri mencari Indomaret. Akhirnya ia menemukan indomarket dikanan jalan di daerah jalan Mayjen Panjaitan.
Setelah memarkir motor dan turun dari motornya, Arya melangkah ke depan pintu masuk Indomaret dan terkejut melihat Bu Agustina yang sedang memainkan ponselnya sambil duduk di bangku depan Indomaret.
"Lohh, sensei? Kok ada disini? katanya tadi buru-buru?" sapa Arya dengan nada terkejut.
Bu Agustina mendongak dan melihat ke arah Arya, "Ehh Arya, iya nih mobil ibu lagi mogok, tuh lagi dibenerin montir," sambil menunjuk ke arah mobilnya di sebrang jalan.
"Lahh katanya ibu buru-buru? Mau aku anterin Bu?" Arya mencoba menawarkan bantuan.
__ADS_1
''Gak usah Arya, Gak apa-apa ibu nunggu mobil sampai beres aja," kata Bu Agustina pura-pura menolak padahal sebenernya ia ingin di antar oleh muridnya yang ganteng ini.
"Hmm biasanya sih kayak gitu agak lama Bu, kalau misal ibu keburu, biar aku saja yang anterin," Arya kembali menawarkan bantuan yang terkesan sedikit memaksa.
"Ohh begitu ya," setelah diam berpikir sejenak, Bu Agustina akhirnya menyetujui tawaran Arya.
"Oke deh Arya, ibu mau, tapi ibu bilang ke montirnya dulu biar mobilnya langsung di antar kerumah kalau udah beres," kata Bu. Agustina seraya beranjak menuju kesebrang jalan tempat montir itu sedang memperbaiki mobilnya.
Beberapa menit kemudian bu Agustina kembali ke Indomaret dan segera menghampiri Arya yang sudah berada di atas motornya. Ibu Agustina pun segera naik keatas Betty dan meraih perut Arya sebagai pegangan. Dengan perasaan dag-dig-dug tak karuan, Arya memacu motornya menuju kearah yang di tuju dosennya yang cantik itu.
"Ke arah mana sensei?" tanya Arya sambil agak menolehkan kepalanya yang tertutup helm bogo.
"Kamu lurus saja sampai jalan Ijen, trus belok ke arah Wilis," sahut Bu Agustina seraya menempelkan dagunya ke pundak Arya. Arya menjingkat agak kaget karena kedua gumpalan kenyal Bu Agustina ikut menempel juga dipunggungnya. Membuat Arya merasakan sensasi nikmat yang sulit untuk di ungkapkan.
"Lurus depan dikit, Arya." seru dosennya sambil menunjuk ke arah depan.
"Iya sensei," Arya mengangguk.
"Nahh depan pager putih, itu rumahku," tunjuk Bu Agustina kerumah minimalis tapi indah dan tertata rapi. Setelah mesin ia matikan, bu Agustina turun untuk membuka gembok pagar lalu ia mengajak Arya masuk untuk mampir minum dulu.
"Gak usah sensei, Arya langsung pulang saja, katanya sensei juga lagi buru-buru?" sahut Arya menolak, tetapi sebenarnya ia pengen mampir karena haus.
"Gak begitu keburu juga, lagian aku juga udah ngabarin kalau datang telat, udah ayo mampir dulu gpp," ajak Bu Agustina sedikit memaksa.
"Ya uda deh sensei, maaf ngerepotin," Arya mengangguk sambil mendorong Betty masuk ke garasi rumah dosennya.
Mereka berdua memasuki ruang tamu yang bernuansa putih gading dan beberapa sudut ruang diberi warna soft cream, membuat terlihat lebih elegan dan nyaman.
"Kamu duduk dulu gih, aku bikinin minum dulu yah, mau apa? Teh, kopi, atau.....susu?" nada suara Bu Agustina penuh penekanan pada pilihan terakhir sambil tersenyum sedikit menggoda.
"Eeehhh, hmmm air putih aja sensei," Arya menyahut kikuk.
"Yakin gak mau susu?? Hmm?" Bu Agustina menyandar dimeja sambil menegakkan punggungnya, gumpalan gunung kenyalnya sontak ikut terangkat.
"Ano, sensei, suami sensei lagi kerja ya? Kok sepi banget rumahnya? Anak juga Kemana?" Arya bertanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Hahah, dapat berita darimana kamu aku punya suami dan anak? Aku udah janda 3 tahun ini, aku bercerai dari suamiku karena dokter memvonis kalau mantan suamiku itu mandul, udah deh aku masuk dulu, aku bikinin minum, tunggu ya," ucap Agustina seraya pergi masuk kedalam.
"Hah? Janda? What? aku di rumah janda sendirian?" batin Arya seraya memikirkan hal yang tidak-tidak.
Setelah sekitar 10 menit, Bu Agustina pun keluar menghampiri Arya yang sedang mamainkan ponselnya sambil duduk bersandar.
"Arya, maaf yah nunggu lama," suara Bu Agustina sedikit mendesah penuh goda.
"Ahh iya sensei, tidak apa-ap-,"
Arya terkejut dan melongo melihat dosennya yang baru muncul ini, sampai-sampai ponsel yang dipegangnya melorot dari genggaman tangannya.
__ADS_1
********