Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 14


__ADS_3

Yudi, perawat laki-laki yang tadi ada di tempat kejadian di ruang inkubasi, mendadak segera bergegas mengabari tim dokter bersalin serta hendak memberi tahu perihal bayi Arini kepada kedua orang tuanya. Dalam langkahnya yang tergesa-gesa, Yudi begitu menyayangkan kepergian bayi mungil yang cantik itu, "Bagaimanakah perasaan orang tua nya ketika putri semata wayangnya sudah tiada?"


Dengan nafas yang agak tersengal dan terbata-bata, Yudi sampai di ruang perawatan ibu hamil pasca bersalin. Dengan perasaan berat dan hati yang masih merasa tak tega dengan apa yang telah terjadi pada bayi Arini, diteguhkan dan diberanikanlah ia memasuki ruang kamar itu.


Mau tak mau ia harus selalu siap dengan segala sesuatu yang pasti akan terjadi di dalam rumah sakit tempat ia bekerja. Mengingat ia adalah salah satu perawat magang yang masih sangat pemula ketika terjun langsung di dunia medis.


Ceklek..kriekkkkk..


"Maaf, atas nama Bu Mella?" Yudi berjalan menghampiri Mella yang sedang terbaring sambil menatap layar ponsel dan tangan kirinya sedang aktif menggulir-gulir aplikasi dan fitur-fitur yang tak jelas.


Raut muka yang agak masam menandakan ia sangat merasa bosan dan ingin sesegera mungkin untuk kembali pulang ke rumah yang sudah sangat ia rindukan.


Bu Mella menoleh dengan tatapan sayu seraya menjawab, "iya saya, ada apa ya mas?"


Dengan mulut yang begitu enggan terbuka, Yudi dengan berat hati mengutarakan segala sesuatu yang telah terjadi terhadap putri semata wayangnya, Arini. Meskipun dengan sedikit paksaan karena ia tau, Bu Mella tak akan mudah mempercayainya.


"Mas jangan bercanda deh! Saya lagi gak mood buat becanda!" Mella menjawab kesal.


"Saya tidak bohong Bu, dan saya tidak mungkin membuat lelucon tentang kematian Bu!" Yudi mencoba meyakinkan.


Bak disambar petir di siang bolong, Bu Mella sontak berteriak secara histeris dan seketika hendak bangkit menghampiri putri nya yang katanya sudah tak bernyawa lagi.


"Tidaakkkkk mungkin!! Minggirr!! Aku akan pastikan sendiri kondisi putriku! Minggirrrr!!" Mella berteriak sambil terus memberontak.


Sebenarnya ia masih sangsi dengan apa yang telah di sampaikan oleh Yudi. Tetapi firasat seorang ibu kadang tak pernah berdusta. Tetapi ia tak akan lega sebelum dia benar-benar tau keadaan yang sebenarnya seperti apa.


"Bu mohon tenang dulu Bu!!" Yudi berusaha sekuat tenaga menahan pergerakan Mella yang semakin menjadi seperti orang yang sedang kesurupan.


Ditahannya tubuh Bu Mella yang belum begitu fit itu supaya tetap berbaring di kasur pasien, sementara Yudi memanggil rekannya dari tombol darurat pasien yang ada di sebelah meja.


"Tidaakkkkk, anakku..!!! Tak mungkin anakku mati!!" Bu Mella kembali berteriak sangat kencang dan berontak seperti orang yang kesurupan sampai-sampai jarum infus yang tertancap di punggung tangannya terlepas secara paksa membuat stand infus roboh ke samping dan punggung tangannya terluka.


"Aaarhghhhhhhh tidakkkk!! Tidak mungkin anakku mati!! Kau jangan bohong!! Arghhhhhh!!! Apa yang sudah terjadi pada anakku!! "teriak Bu Mella.


"Sabar Bu sabar, mohon tenang dulu sebentar, bayi ibu sedang di bawa ke ruang IGD, menunggu pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter ahli Bu." kata Yudi menenangkan.

__ADS_1


Setelah pergulatan yang alot, akhirnya Bu Mella agak mulai meredakan amukannya di susul isak tangis yang tiba-tiba pecah keluar dari mulut Bu Mella. Yudi tetap berusaha menenangkan, sambil memberi sedikit semangat kepada Bu Mella.


Pintu depan ruang terbuka dan masuklah Nabila berserta salah satu dokter senior yang berperawakan gemuk dan berkepala agak botak serta memakai kacamata bulat.


"Permisi Bu Mella, saya Dokter Johan, saya telah memeriksa kondisi bayi ibu, dan dengan berat hati saya sampaikan, ibu yang sabar yah, Putri bu Mella mengalami disfungsi peredaran darah yang signifikan menyebabkan kurangnya asupan aliran darah ke jantung, dan jantungnya berhenti secara mendadak, saya juga masih tidak begitu mengerti kok bisa terjadi pada anak sekecil itu. Itu masih dugaan sementara Bu, pasalnya diagnosanya juga kurang begitu akurat bu. Saya mohon maaf tidak bisa menyelamatkan putri ibu, saya sudah melakukan semuanya semaksimal mungkin. Ini semua sudah suratan yang Maha Kuasa, yang sabar ya Bu Mella." kata dokter Johan seraya berjalan pergi meninggalkan ruang itu untuk segera menuju ruangan lain.


"Tidak mungkin dok!! Tidakkkk!! Arini anakku!! Huuuuhuuuu,"


Terasa hancur luluh hatinya setelah mendengar pernyataan dari dokter Johan. Tak kuasa membendung kesedihan yang sudah seberat gunung Tangkuban perahu, tangis pilu Bu Mella pun pecah di tengah sunyinya paviliun rumah sakit itu.


Bu Mella meraung dan menangis sejadi-jadinya, membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan kesedihannya yang begitu mendalam karena telah kehilangan putri semata wayangnya, putri yang sudah lama ia damba-dambakan kehadirannya.


Nabila yang sedari tadi berdiri terpaku, turut merasakan sedih yang teramat dalam sambil berusaha menenangkan Bu Mella di tengah suara tangis pilunya yang memenuhi seisi ruang.


Deru raungan kepedihan yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam bergaung menggema membuat siapapun yang mendengarnya merasa trenyuh, memang tak setiap orang bisa menahannya apabila hal yang sama menimpa dirinya.


Saat itu juga pak Ridwan juga di beri kabar oleh pihak rumah sakit mengenai hal yang telah menimpa putrinya, dan seketika juga pak Ridwan segera menuju ke rumah sakit tempat istri dan putrinya berada.


Tak berselang lama, pak Ridwan akhirnya sampai ke rumah sakit itu. Setelah mendengar penjelasan dokter dan juga Nabila, berbeda dengan Bu Mella yang langsung shock dan histeris, pak Ridwan lebih memilih berusaha tegar menghadapi kenyataan meskipun air mata nya tak kuasa ia tahan dan akhirnya menetes tanpa ia sadari.


Dengan pikiran yang kalut dan hati yang hancur bercampur perasaan sedih yang teramat dalam, pak Ridwan menenggelamkan pikirannya seraya memejamkan mata sejenak.


"Ya Allah cobaan apa lagi yang kau berikan kepadaku dan keluargaku? Hamba yakin semua ujian-Mu pasti memiliki jalan keluar dan di balik itu semua pasti ada hikmahnya. Tabahkanlah hamba dan istri hamba menghadapi ini semua ya Allah. Amin ya rabbal alamin."tak terasa air mata menetes kembali di pipi pak Ridwan.


Setelah mengurus semua administrasi rumah sakit, dengan berat hati dan masih merasa ada sedikit ganjalan karena masih belum terima bahwa putrinya sudah meninggal dunia , akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah meskipun keadaan Bu Mella masih belum begitu baik. Mereka segera meminta pihak rumah sakit untuk mengantarkan jenazah bayi Arini ke rumahnya.


Di perjalanan pulang tak henti-hentinya Bu Mella menangis dan sesekali terdiam melamun. Pandangan nya tetap kosong tatkala pak Ridwan berusaha menghiburnya dan memberinya penjelasan untuk tetap bersabar menghadapi ujian dari Tuhan yang Maha Kuasa.


"Arini, anakku, huhuhuuuuu, begitu cepat kau ninggalin ibu nak, ibu belum ssempat memelukmu, Arini..."


"Ma, sabar ma mungkin ini sudah kehendak Gusti Allah ma, papa juga sedih, tapi kita tak bisa melawan takdir yang sudah ditetapkan ma," pak Ridwan berusaha menenangkan Bu Mella.


Usaha pak Ridwan tak membuahkan hasil, bahkan sampai mereka berdua sampai di rumah, Bu Mella tetap tak membuka suara sedikitpun kecuali isakan tangis yang sedu sedan di hiasi teriakan-teriakan histeris mengingat apa yang sudah terjadi terhadap putrinya.


"Mama, cukup ma, terus terhanyut dalam kesedihan tak akan merubah apapun ma," ucap pak Ridwan.

__ADS_1


Tak berapa lama ambulans pun datang bersama dengan jasad bayi Arini. Sungguh sangat di sayangkan bayi secantik dan selucu itu hanya mampir sebentar di dunia ini sebelum meninggalkannya kembali ke pangkuan yang Maha Kuasa.


Pak Ridwan segera mengabari tetangga sekitar dan juga pak RT untuk mengurus pemakan bayi Arini sesegera mungkin. Tak ketinggalan juga pak Ridwan mengabari sanak saudara dekat maupun jauh perihal kematian buah hatinya yang ia sangat sayangi.


***


Telolet telolet telolet..(suara ponsel berbunyi)


"Halo Wan, ada apa? Tumben telpon?" Ki Dharmo mengangkat telpon dari adiknya, Pak Ridwan.


"Mas, sampean bisa ke rumahku? Anakku barusan meninggal dunia," kata pak Ridwan.


"Innalillahi, anakmu yang mana? gimana ceritanya Wan? perasaan kapan hari aku bertemu kamu dan istrimu, dia masih hamil gitu." jawab ki Dharmo agak bingung.


"Iya mas, anakku yang baru lahir mas, umurnya aja baru 3 hari. Dia lahir hari Selasa kemarin, tapi hari ini Allah sudah menjemputnya kembali. Anakku meninggal di rumah sakit umum Gondanglegi mas. Dokter juga belum jelas mendiagnosa secara detail dan jelas kenapa Arini tiba-tiba meninggal." Terdengar suara pak Ridwan sudah mulai bergetar. Matanya juga sudah berembun, berkaca-kaca.


"Astaga! Arini?? Bentar-bentar apa istrimu juga bernama Mella ya?" Tanya Ki Dharmo masih tak percaya.


"Iya mas anakku, aku menamainya Arini, iya istriku namanya Mella, kan mas sudah tau, kenapa malah tanya nama istriku?" Sahut pak Ridwan ikutan bingung.


"Yang bener Wan! Kamu jangan bercanda!" Kata Ki Dharmo terkejut. Saking terkejutnya, ia sampai tak sengaja menjatuhkan ponselnya.


"Mas..mas..haloo..mas.." dari balik telpon, Ridwan memanggil-manggil kakaknya karena baru saja terdengar suara benturan yang cukup keras.


Tutttt..tuutttt..tuttt


"Apa bayi perempuan yang di maksud Mbah Brajatirto adalah anak dari Ridwan? Terus kenapa juga aku gak ngeh dengan nama Mella yg ternyata nama istri Ridwan juga Mella. Bodoh banget aku!" Batin Ki Dharmo.


Batin Ki Dharmo berkecamuk antara sedih, marah dan juga merasa sangat bersalah kepada adiknya. Meskipun dia seorang paranormal, pantang baginya untuk mengganggu saudaranya, apa lagi mencelakai anggota keluarganya.


"Aku sudah berbuat dosa besar kepada adikku! Apa jadinya kalau dia tahu kenyataan yang sebenarnya? Apakah dia akan memaafkanku? Ini semua salah Brajatirto! Tapi dia kan hanya menunjukkan syarat ritual tanpa tau asal-usul siapa korbannya." di dera kebingungan dan kemarahan, Ki Dharmo memukul kaca buffet dan berteriak sekencang-kencangnya.


"Arrrgghhhhh sialannnnn! bangs*t!"


*******

__ADS_1


__ADS_2