
Acuh dengan permohonan lelaki itu, Argadhanu melesatkan kembali energinya ke sosok makhluk itu tetapi nasib baik masih berpihak padanya, serangan Argadhanu meleset dan hanya mengenai tanduk sebelah kiri makhluk itu dan mematahkannya.
"Kurang ajar kau tua bangka! Tunggu pembalasanku!" ancam lelaki itu!
Karena ketakutan, lelaki itu pun terbang menjauh dari Argadhanu bermaksud untuk melarikan diri darinya. Argadhanu tak mengejarnya, tetapi langsung menghampiri wanita yang sedang terkapar lemas itu.
"Kau tak apa-apa nyai?" tanya Argadhanu seraya menjulurkan tangannya membantu wanita itu untuk bangkit.
"Terima kasih kisanak, sungguh baik hatimu kiranya sudi menolong orang yang tak kau kenal seperti diriku," jawab Nyai Pitaloka sambil meraih tangan Argadhanu.
"Sebenarnya aku masih kesal karena semediku terganggu, tetapi ketika aku melihat kau yang sedang bersusah payah melawan dua cecunguk itu, aku pun memutuskan untuk sedikit mengulurkan tangan,"
"Sekarang duduklah bersila membelakangiku, aku akan mengobatimu," perintah Argadhanu.
Nyai Pitaloka menurut dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Argadhanu, kemudian dengan duduk bersila juga dibelakang Nyai Pitaloka, Argadhanu meletakkan kedua telapak tangannya di punggung Nyai Pitaloka.
Dengan sekali tarikan nafas, Argadhanu menyalurkan energi dari dalam tubuhnya melalui lengannya dan kemudian energi itu lambat laut menjalar merasuk ke dalam tubuh Nyai Pitaloka.
Sedikit demi sedikit wajah nyai Pitaloka yang tadinya pucat pasi menjadi sedikit merona merah. Dan akhirnya luka dalam di seluruh tubuh Nyai Pitaloka berhasil disembuhkan oleh Argadhanu.
"Syukurlah luka dalam yang kau alami tak begitu fatal, aku jadi bisa dengan mudah menyembuhkan seluruhnya, beristirahatlah, pasti keadaanmu akan segera membaik," pesan Argadhanu seraya melepaskan kedua tangannya dari punggung Nyai Pitaloka.
"Terima kasih banyak kisanak..."
"Panggil saja Argadhanu, kau?"
"Pitaloka."
*****
Itulah sekilas tentang pertemuan mereka berdua, kebersamaan mereka terjalin harmonis hingga saat ini, meskipun hubungan mereka berdua hanya sebatas rekan, tetapi kedekatan keduanya sudah melebihi saudara.
__ADS_1
(Lalu bagaimanakah cerita kilas balik pertemuan Chandranala dengan kedua gurunya? Ntarrrr, ada waktunya sendiri bakal ane kupas tuntas, so tetep staytuned yaaa)
Kembali ke part Chandranala di panggil dadakan oleh kedua gurunya....
*****
"Saya sudah berhasil merebut botol pelahap jiwa dari tangan manusia laknat itu nek," jawab Chandranala seraya menunjukkan botol berwarna keemasan itu dan menyerahkannya kepada Nyai Pitaloka"
"Hmm rasanya tak asing, sepertinya aku pernah melihat pusaka ini, entah dimana aku tak terlalu ingat," kata Nyai Pitaloka sambil memutar-mutar dan membolak-balikkan botol kecil itu.
"Apa Nyai pernah memegang botol ini sebelumnya? Atau pernah bertemu orang yang pernah menggunakannya?" tanya Argadhanu yang penasaran ikut melihat dari dekat botol keemasan itu.
"Hmm, mungkin sudah lama sekali dan aku tak mengingatnya," sahut Nyai Pitaloka menambahkan.
"Yang pasti kita harus segera melakukan pembentukan tubuh fisik untuk jiwa bayi Arini ini," ujar Nyai Pitaloka melanjutkan.
"Baik Nyai, aku sudah siap," sahut Argadhanu.
"Le, kau pergilah ke kerajaan Rudrosengkolo di ujung barat, temui Raja Jin disana, namanya Raja Sudrapala. Bilang saja kau muridku, dia sudah tau apa maksudmu datang kepadanya," perintah Nyai Pitaloka.
"Baiklah Nek, aku akan pergi sekarang, murid undur diri dulu nek, guru," Chandranala membungkuk memberi hormat kepada kedua gurunya lantas terbang melesat ke arah ia muncul tadi.
Beberapa detik kemudian Chandranala terbang kembali menghadap gurunya dan bertanya, "Anu, jalan keluarnya dimana ya Nek?" tanya Chandranala sambil menggosok bagian belakang kepalanya.
"Huahahah, makanya to le..le, mbok ya tanya dulu jalan keluarnya dimana, jangan asal pergi saja, memang kamu tau ini dimana?" jawab Nyai Pitaloka diiringi gelak tawa.
Argadhanu hanya bisa ikut tertawa melihat tingkah Chandranala yang sedari tadi membuat perutnya sakit karena terlalu banyak tertawa.
Setelah tawanya berhenti, Nyai Pitaloka memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang, saat hembusan nafasnya dihempaskan, dari ujung depan aula terdengar suara batu besar yang sedang bergeser pelan membukakan jalan keluar.
Grudukkkk...grudukkkk..
__ADS_1
"Sekarang pergilah le, ingat pesanku, setelah sampai di kerajaan milik Sudrapala kau harus menjaga sikap dan tutur kata selama berada disana, Sudrapala mempunyai perangai yang buruk apalagi menyangkut hal yang berasal dari kerajaan Agniamartho di bagian selatan ini, hanya aku dan kenalanku saja yang bisa dengan mudah keluar masuk ke istana Sudrapala sebagai pengecualian mengingat ia punya hutang budi padaku," nyai Pitaloka menjelaskan.
"Satu lagi, jaga pandanganmu dari istrinya, karena istri Sudrapala memiliki kecantikan yang sangat luar biasa, banyak yang sudah dibinasakan oleh Sudrapala hanya karena mereka memandangi istrinya secara sengaja karena terbuai oleh kecantikannya," tambah nyai Pitaloka.
"Baiklah Nek, saya sudah paham semuanya, saya akan menjalankan semua perintah nenek sebaik mungkin," setelah mengucapkan itu, Chandranala melesat terbang kearah jalan keluar yang baru terbentuk tadi menuju ke kerajaan Sudrapala.
"Kira-kira tahan tidak ya si Chandra? wong istrinya juga suka menggoda laki-laki, apalagi Chandranala memiliki wajah yang tampan, ahh mudah-mudahan tak terjadi apa-apa disana," kata Argadhanu tiba-tiba seraya memainkan jenggot tipisnya"
"Kita serahkan semuanya ke Chandranala, dia sudah menjadi pria yang dewasa, ia pasti sudah bisa mengatasi segala macam masalah yang datang. Kalaupun Chandranala tidak bisa, kan masih ada kita yang pasti siap membantunya," sahut Nyai Pitaloka sambil berlalu pergi dari sisi Argadhanu menuju ke meja besar di dekat altar utama.
"Sembari kita menunggu Chandranala kembali, ada baiknya kita persiapkan dulu segala sesuatu untuk persiapan ritual ini," Nyai Pitaloka mulai menata dan mengumpulkan bahan-bahan yang akan di gunakan untuk ritual.
"Baiklah Nyai, aku akan membantumu, tetapi sebelum itu, aku akan memanggil rewangku kesini untuk membawakan makanan, sedari tadi perutku belum terisi apa-apa," kata Argadhanu sambil mengelus-elus perutnya.
"Sekalian bawakan aku juga, masa kamu saja yang mau makan?" celetuk Nyai Pitaloka sambil menaikkan satu alisnya.
"Ahahah baiklah Nyai, sebentar," Argadhanu tertawa kecil menanggapi celetukan Nyai Pitaloka.
Mata Argadhanu seketika terpejam dan memanggil satu nama dengan begitu pelan,
Rakuti, datanglah atas perintahku!"
Sekonyong-konyong muncullah sesosok wanita cantik berkebaya jingga dari udara kosong, dan wanita itupun menunduk hormat kepada Argadhanu.
"Sendiko dawuh, Batara, ada perlu apa panjengan memanggil hamba," tanya Rakuti.
"Ambilkan beberapa makanan di rumahku dan bawa kemari, sekalian tolong ambil pusaka Keris Tundhorogo yang ada dikotak berwarna perak," perintah Argadhanu kepada Rakuti.
"Sendiko ndoro," dengan satu kedipan mata, Rakuti lenyap begitu saja.
"Berguna juga ya si Rakuti, tidak seperti ndoro-nya ahahahahah," nyai Pitaloka tiba-tiba nyeletuk.
__ADS_1
"Hahahah, yah kadang didikan juga berpengaruh nyai. Sambil menunggu makanan datang, aku akan bersemedi sebentar Nyai," ujar Argadhanu seraya duduk bersila dan memejamkan mata.
*******