Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 20


__ADS_3

Di dalam ruangan yang sudah dalam keadaan porak poranda itu, sosok kakek misterius itu mendekati Chandranala seraya menyunggingkan senyum di atas jenggot putihnya.


"Kau sudah besar dan kuat sekarang, Le," kata kakek tua itu seraya mengusap-usap kepala Chandranala penuh perhatian layaknya seorang kakek kandung kepada cucu kesayangannya.


Chandranala di buat melongo seperti kethek ketulup (monyet yang kena sumpit) tatkala melihat sikap kakek tua itu berubah drastis 180 derajat. Begitupun Nagini yang melotot serasa tak percaya dengan apa yang ia lihat serta Laksmi yang sedari tadi menangis di balik dinding ruang sebelah juga ikut terbelalak penuh tanya.


Padahal sedari tadi kakek tua itu memancarkan aura ingin membunuh yang kuat, tapi sekarang aura itu mendadak berubah menjadi aura hangat dan lembut.


"Maksudmu apa pak tua!" seru Chandranala membuyarkan usapan dikepalanya.


"Hahaha maafkan aku Chandra, aku sedari tadi hanya mengujimu, menguji tekad dan kemampuanmu. Rupanya kau telah benar-benar belajar banyak dari nenekmu, Pitaloka," jawab kakek tua itu.


"Gerakan pukulan dan tendanganmu juga sangat mirip dengan Argadhanu, hahah,"


"Sekarang duduk dan lipatkan kakimu, lalu bukalah kedua telapak tanganmu," ucap kakek tua itu.


"Buat apa? Apa yang akan kau lakukan? Bagaimana kau bisa mengetahui namaku serta guruku? Siapa kau sebenarnya pak tua!" Chandranala masih belum mempercayainya dan belum mengerti apa maksud kakek itu.


"Aku mengetahui semua yang tak kau ketahui di alam jin ini hahahah, sudahlah menurut saja, aku tak akan membahayakanmu lagi," sahut kakek tua itu sambil tertawa.


"Mengetahui semua yang tak diketahui? Jangan-jangan pak tua itu, tidak-tidak, tidak mungkin," batin Nagini sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak mau percaya apa kata hatinya.


Mau tak mau Chandranala mengikuti arahan pak tua itu, ketika tangannya di tengadahkan, pak tua itu menelungkupkan kedua telapak tangannya menempel di atas telapak tangan Chandranala.


Sinar putih terang terpancar dari telapak tangan pak tua itu lalu menjalar pelan ke seluruh tubuh Chandranala. Dalam sekejap tubuh Chandranala pulih seperti sedia kala, malahan semakin segar seolah baru bangun dari tidur panjang.


"Nahh, bagaimana keadaanmu?" ucap pak tua itu seraya menarik tangannya.


"Terima kasih pak tua, tapi aku masih belum mengerti maksud anda," ujar Chandranala yang sekarang mulai melunak.

__ADS_1


"Sebentar," pak tua itu bangkit dan berjalan ke arah Nagini dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepada Chandranala beberapa saat tadi.


"Terima kasih banyak kakek Resi," ucap Nagini berterima kasih.


"Maaf, siapakah gerangan anda resi?" Nagini menambahkan.


"Sebelumnya kakek minta maaf ya le, Nduk, aku adalah Arthasena dan ini bukan tubuh asliku, melainkan ajian malihrogo ajian yang bisa menggandakan tubuh menyerupai tubuh asli, tubuh asliku sedang berada di dalam istana Rudrosengkolo saat ini,"


Serasa mau copot jantung Nagini dan Chandranala mendengar pengakuan sebenarnya dari sosok kakek itu. Sosok yang sedari tadi mereka gunjing sekarang benar-benar telah muncul di hadapan mereka.


Kali ini Nagini harus pasrah menuruti tebakan kata hatinya yang ternyata benar adanya. Ketakutan menjalar di sekujur tubuh mereka berdua tatkala mendengar diluaran sana siapa sebenarnya Arthasena.


"Aku mengetahui yang sebenarnya apa maksud kedatanganmu kemari, kau pasti mencari mustika Brajamusti milik Sudrapala atas perintah nenekmu bukan?"


"Aku juga sudah tahu mau di apakan mustika itu, kau tau untuk mendapatkan mustika itu sangatlah sulit, untung saja nenekmu mengenal baik Sudrapala, kalau tidak, perlu lebih dari 600 tahun untuk menemukan mustika yang serupa, hahahah,"


"Ahahahah bagaimana kabar nenekmu? Sudah lama aku tak bertemu Pitaloka, apakah si Argadhanu juga masih bodoh? Huahahah," Resi Arthasena tertawa terpingkal mengingat kejadian dahulu saat bersama Pitaloka dan Argadhanu.


"Panggil saja kakek," timpal Arthasena tiba-tiba.


"Asal kau tahu, ajian Kalasutra yang kau gunakan tadi, akulah pembuatnya hahahah, jadi secara tak langsung aku juga gurumu," Arthasena menambahkan ucapannya.


Sontak pernyataan Arthasena membuat Chandranala kembali melongo dibuatnya. Lagi-lagi Chandranala dibuat terkejut olehnya. Ternyata Arthasena menyimpan sejuta misteri yang tak di ketahuinya.


"Setelah ini, pergilah menuju istana Sudrapala, ia sudah menunggumu disana, kau jangan khawatir Chandranala, selama aku ada disana, kau akan aman," Arthasena menyuruh Chandranala untuk segera bersiap-siap.


"Nagini, temanilah Chandranala menuju ke istana, aku akan pergi dulu kembali ke tubuh asliku,"


"Baik Resi Arthasena," sahut Nagini menyetujui.

__ADS_1


Tak lama Resi Arthasena lenyap dari pandangan mereka, Laksmi yang sedari tadi bersembunyi karena ketakutan lantas berlari kencang kearah Nagini dan langsung memeluknya erat.


"Kakak tidak kenapa-kenapa kan? Hiks," Laksmi kembali meneteskan air mata nya dan segera air mata itu di seka oleh jari lentik Nagini.


"Kakak tidak apa-apa Laksmi, sudah kamu jangan bersedih, kamu jaga rumah yah jangan kemana-mana, kakak akan pergi ke istana dulu bersama Chandranala," ucap Nagini kepada Laksmi seraya mengusap atas kepalanya.


"Iya kak hati-hati di jalan," Laksmi menyeka sisa air mata di pipinya seraya mengembangkan senyuman manis untuk kakak tercintanya.


"Kau siap Chandra? Ayo kita berangkat," ajak Nagini seraya menangkupkan selendang di bahunya serta memakai kembali hiasan kepala yang tadi sempat terlepas.


Nagini berdiri dan kembali mengucap mantra pembuka portal pemindah. Portal indah yang sebelumnya dilihat Chandranala beberapa saat lalu sekarang terbuka kembali.


Mereka segera memasukinya dan sedetik kemudian mereka telah sampai di pelataran istana yang indah dan luas. Di hiasi bunga-bunga berwarna warni dan juga kolam ikan yang berada di kanan kiri jalan menuju ke pintu utama istana.


Berbeda dengan istana Wesibuwono yang bernuansa putih dan emas, di istana Rudrosengkolo ini hampir semua bernuansa biru cerah kehijauan, begitu memanjakan mata, ornamen-ornamen perak tersemat di beberapa titik, tak begitu mencolok namun tetap memancarkan keindahan yang hakiki.


Bnyak terdapat ornamen yang berbentuk kepala harimau bermotif seperti sambaran kilat di sekelilingnya. Ornamen itu juga terpampang jelas di depan pintu masuk utama istana Rudrosengkolo.


Belum cukup puas memandangi lingkungan istana yang menakjubkan, Chandranala dikagetkan dengan panggilan dari Nagini yang terdengar begitu keras. Ternyata Nagini sudah berada di depan pintu utama istana. Sedangkan Chandranala tertinggal jauh di belakang.


"Oi..! Chandra! Mau sampai kapan kamu melamun disitu? Cepat kesini!" Nagini melambaikan tangannya.


"Heheheh iya, iya tunggu aku," Chandranala berlari menuju Nagini yang berada di ujung paling atas anak tangga sedang menatap ke arah pintu besar itu.


Ketika Chandranala menginjakan kaki ke anak tangga terakhir, tiba-tiba pintu raksasa itu terbuka dengan sendirinya.


Kkrieeeekkkk..krtkt..krtkt


"Silahkan masuk wahai tamu istimewaku," dari kejauhan terdengar suara menggelegar memerintahkan mereka berdua untuk segera memasuki istana.

__ADS_1


********


__ADS_2