Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 22


__ADS_3

Tingginya yang semampai dan langsing serta kulitnya yang putih mulus tanpa noda, dengan rambut hitam panjang yang terurai disertai hiasan runcing dari emas berbentuk daun yang di sematkan dibalik telinga membuat kecantikannya kian terpancar, membuat siapapun yang melihatnya pasti terpesona dan dimabuk kepayang. Begitu sempurnanya wanita ini hingga berjuta kata indah pun rasanya tak cukup untuk melukiskan kecantikannya.


Tak terasa makanan yang semula sedang menari lincah didalam mulutnya jatuh tepat diatas gelas berisi air yang masih penuh, sontak membuat suara "cepluk" yang lumayan keras, hal itu membuat orang disekitarnya seketika tertawa terbahak-bahak. Menahan rasa malu, Chandranala hanya bisa mengernyit dan tertunduk.


Wanita cantik yang sudah hampir tiba di tempat duduknya itu menoleh ke arah Chandranala seraya tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya dengan kedipan genit.


Lagi, Chandranala dibuat kalang kabut karena tersedak daging sapi yang belum begitu halus dikunyah.


Uhukkk uhukkkk..


Secepat kilat Chandranala mengambil gelas air minum tadi yang sempat tercemar limbah dari mulutnya sendiri. Tak memusingkan hal itu, diteguklah air minum itu sampai habis tak tersisa. Membuat orang yang duduk disebelahnya kembali dibuat guling-guling terbahak-bahak melihat tingkah konyolnya.


"Hahahaha, wakakaakak baru kali ini aku tertawa sekencang ini, kau membuat ku sangat terhibur anak muda," ujar pak tua yang ada di sebelah Chandranala.


Ia menepuk-nepuk punggung Chandranala seolah sedang memberi semangat kepada seorang mahasiswa yang berulang kali gagal skripsi. Fiuhhh.


Tak menggubris kelakar pria disampingnya, Chandranala kembali memandang wanita itu dan bertanya-tanya dalam hati, "Siapakah wanita cantik ini,  kiranya kelak aku bisa mengenalnya lebih dekat,"


Hati Chandranala berbunga-bunga seakan lupa ingatan bahwa Chandranala sudah mempunyai calon pasangan yakni bayi Arini yang sekarang tengah membutuhkan pertolongan darinya. Arthasena yang mengetahui gelagat pemuda konyol itu langsung berteriak di dalam otaknya dengan menggunakan telepati.


"Heii anak bodoh! Jangan sekali-kali kau punya perasaan suka kepada wanita itu, asal kau tahu, ia adalah Ratu Padmasari istri dari Raja Sudrapala!"


Chandranala yang clingak-clinguk kebingungan mencari darimana asal suara itu di kagetkan kembali dengan teriakan didalam kepalanya, "Hei ini aku Arthasena bocah bodoh! aku menghubungimu lewat telepati,"


Hal itu membuat Chandranala langsung menoleh ke arah Arthasena yang sedang duduk dan matanya terlihat sedikit melotot kepadanya.


"Aku berpesan jangan sekali-kali kau berniat mendekati ratu Padmasari kalau kau masih ingin kepalamu menyatu dengan badanmu, kau tidak tahu seberapa bahayanya Raja Sudrapala kalau sudah murka,"


"Aku bisa saja membantumu kalau terjadi hal yang tak diinginkan, tetapi aku harus tetap menjaga hubungan diplomatis dengan kerajaan ini, jangan sampai hubungan antar kerajaan jadi hancur karena kebodohan satu pemuda sepertimu," kembali Arthasena memberi nasihat kepada Chandranala yang sekarang mengangguk penuh rasa khawatir.


"Baiklah kek, aku mengerti, maaf atas kebodohanku kek, aku tak kuasa menahan untuk tidak melihat wanita itu kek," jawab Chandranala berbisik sambil tertunduk.


Wanita cantik itu telah duduk di sebelah raja Sudrapala. Sorak sorai para penghuni istana menggema menyambut kedatangan Permaisuri kerajaan yang mereka banggakan.

__ADS_1


Selain cantik dan menawan terdengar desas desus kalau permaisuri Padmasari itu sekuat suaminya. Ia tak kenal ampun terhadap semua musuh-musuhnya dan terkenal bengis.


Dari atas singgasana, Raja Sudrapala berdiri bangkit lantas memanggil Chandranala untuk menghadapnya.


"Kemarilah Chandranala, ikut aku,"


"Baik Baginda," Chandranala bangkit dari duduknya lalu menghadap raja sambil sedikit membungkuk.


Raja Sudrapala segera berlalu diikuti beberapa dayang dan selirnya, tak ketinggalan juga Nagini yang ikut dibelakangnya berikut sang ratu Padmasari juga ikut serta. Chandranala hanya bisa terdiam patuh mengikuti raja itu.


"Mungkin enak ya jadi raja, selalu di kelilingi wanita cantik," pikiran Chandranala melanglang buana tak tentu arah.


Raja, permaisuri, serta para selir dan dayang berjalan melewati paviliun istana. Mereka berjalan beriringan sampai kedepan tangga yang menuju ke bawah di samping bangunan utama. Tangga itu menuju kedalam sebuah ruang bawah tanah.


Nagini merasakan ada yang ganjil, seharusnya raja tak membawa Chandranala ke tempat ini. Mustika Brajamusti seharusnya tak berada di tempat ini.


Lagi, Nagini memang mempunyai firasat yang sangat tajam. Tapi kali ini, Nagini hanya pasrah tak bisa berbuat apa-apa karena ini menyangkut urusan dengan Rajanya, seraya membiarkankannya begitu saja mengalir seperti air.


"Silahkan duluan nak," kata Raja Sudrapala seraya menyuruh Chandranala untuk berjalan turun terlebih dahulu. Tanpa curiga sedikitpun, Chandranala pun menuruti perintah raja itu.


Sementara itu di aula utama istana, Arthasena diam-diam menerawang mengikuti Chandranala. Arthasena juga sudah sangsi dengan kebaikan Raja Sudrapala diawal pertemuan mereka, dan ia pun tak murka ketika istrinya dipandang untuk waktu yang lama oleh Chandranala.


Tapi untuk saat ini Arthasena masih mengawasinya tanpa berbuat apa-apa karena posisinya sebagai wakil dari kerajaan Wesibuwono.


Setelah anak tangga terakhir mereka lalui, sampailah mereka berdua di depan sebuah pintu dari besi yang berukuran besar. Pintu besi itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya saat tangan Sudrapala menyentuh bagian mulut patung kepala harimau yang ada di sebelahnya.


"Masuklah," ucap raja seraya mengangkat tangan kanannya.


"Baik Baginda," kembali Chandranala menuruti perintah raja itu.


Setelah melewati pintu besi yang besar itu, seketika pintu kembali menutup dengan sendirinya dan sekarang mereka berdua berada dalam sebuah ruang yang yang berbentuk bilik-bilik sempit berjendela kecil seperti penjara.


Bilik-bilik itu tak terlihat berapa banyaknya karena penerangan hanya dari obor yang jumlahnya sedikit. Setiap bilik di jaga oleh 1 orang siluman yang seram dan berbadan besar.

__ADS_1


Sejurus kemudian..


Siyuuuttt..Jedduaghh..


"Arghhhhh!" Chandranala merintih kesakitan diikuti cairan kental berwarna merah menyembur keluar dari mulutnya. Chandranala tersungkur ketanah.


Rupanya Sudrapala menyerang Chandranala dari belakang ketika ia sedang lengah mengamati sekitar. Dengan pukulan yang mengandung kekuatan spiritual, Sudrapala memukul punggung Chandranala sampai tersungkur kedepan.


"Apa maksudmu Sudrapala! Kenapa kau menyerangku dari belakang! Pengecut kau Sudrapala!" teriakan murka Chandranala memecah kesunyian.


"Kau tak perlu tau apa tujuanku yang sebenanarnya Chandranala! Hahahah! Penjaga, masukkan ia kedalam!" perintah raja Sudrapala kepada para penjaga itu.


"Arghhhh lepaskan aku baj*ngan!" Chandranala yang masih tak tahu tujuan sebenarnya dari Sudrapala, hanya bisa berontak tak bisa melawan balik dikarenakan serangan Sudrapala tadi mengenai titik vitalnya dan membuatnya melemah.


"Hahahaha, tak semudah itu aku memberikan Mustika Brajamusti yang berharga secara cuma-cuma kepadamu begitu pula gurumu!" tandas Sudrapala menyombongkan diri.


Penjaga itu melemparkan Chandranala dengan begitu keras kedalam penjara sampai tubuhnya membentur dinding yang terbuat dari batu itu. Chandranala mengerang dan berusaha bangkit berusaha keluar, tetapi penjaga itu sudah terlanjur menutup pintunya.


Chandranala berteriak dan mencoba menyerang pintu itu, nihil serangannya tak ada yang berefek pada pintu itu.


"Bangs*t! Baji**an kau Sudrapala!"


Swinggg Duarrr..Duarrrr


Energi yang berbentuk sinar merah terang yang berasal dari telapak tangan Chandranala bertubi-tubi menghujam pintu besi itu. Tak terhitung jumlah energi yang sudah ia keluarkan tetapi sayang pintu besi itu tetap berdiri kokoh tak tergores sedikitpun.


"Percuma saja bocah bodoh! Kau tak akan bisa menghancurkan pintu itu!" ejek Sudrapala meremehkan.


"Membusuklah di dalam penjara ini! Hahaha kau tak akan bisa menembusnya, karena penjara bawah tanah ini sudah dilapisi oleh sihir pelindung tingkat tinggi, tak sembarang orang bisa menghancurkan selubung energi yang terpasang di tempat ini, hahahaha!" Sudrapala berlalu pergi meninggalkan Chandranala yang sekarang sedang meringkuk didalam bilik sempit itu.


"Arrghhhh sialannnn!"


********

__ADS_1


__ADS_2