
Mervin yang putus asa berhenti mengutak-atik jam tangannya, khawatir jika jam tangan itu akan rusak dan menyebabkan dirinya terjebak di masa lampau, tak bisa kembali ke masa depan.
Ia break sejenak untuk beristirahat juga memikirkan cara lainnya untuk membuka pintu ke masa depan.
Mervin mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Ia menemukan sebuah pohon rindang di tepi sungai, lalu duduk bersandar di bawahnya.
Sambil duduk ia perhatikan lagi telur emas naga yang dibawanya tadi. Ia perhatikan dengan memutar telur dengan diameter 15 senti tersebut.
Selain ada pahatan dua ekor naga, di sana juga ada huruf pinyin China kuno berukuran kecil tersusun berjajar di ujung atas bagian telur, entah apa artinya.
“Barang ini pasti mahal sekali,” ucapnya, masih menatap telur emas tadi.
Mervin lalu menaruh telur emas tersebut di atas perutnya, setelah beberapa saat kemudian ia merasa rasa lelahnya sudah hilang.
Ia berpikir kembali bagaimana caranya bisa kembali ke masa depan.
“Setiap kali aku terlempar kemari jam tangan ini selalu dalam keadaan berhenti,” cicitnya, mengingat lagi kejadian yang sudah-sudah.
Dia pun yakin jika jam itu berhenti berdetak, maka ia akan bisa kembali ke masanya.
“Aku akan mencobanya lagi.”
Mervin lalu menarik tuas jamnya dan membaca berhenti berdetak. Lalu menatap ke sekitar.
“Kenapa aku masih belum kembali juga ke masa depan?” pekiknya, menurutnya tak ada yang salah. Tapi kenapa masih tak bekerja juga. “Atau mungkin jam ini harus berhenti berdetak sendiri?”
Mervin diam dan mengingat kembali selain jamnya yang Berhenti Berdetak dia mencari hal lain yang bisa membuka pintu waktu ke masa depan.
Ia lalu mencoba mengingat kejadian yang sudah terjadi sebelumnya
Hingga ia terpikirkan jika dia selalu berpindah dalam keadaan terdesak.
“Apa terdesak yang membuatku bisa membuka pintu ke sini?” pekiknya, menyimpulkan.
__ADS_1
Tapi ia belum yakin juga apa memang dua hal itu yang membuatnya terlempar ke masa ini.
“Hal apa yang bisa membuatku terdesak?” gumamnya lagi, berpikir.
Mervin pun menarik nafas panjang, tak bisa berbuat apapun selain menunggunya saja untuk membuktikan dugaannya.
Ia menatap kosong ke arah sungai yang ada di sampingnya. Tiba-tiba dari dalam air terlihat sesuatu yang berkilauan. Sinar putih terang yang menyilaukan.
“Apa itu?”
Sinar putih yang sangat menyilaukan itu sangat mengganggu sekaligus membuatnya penasaran, hingga membuatnya menuju ke arah sinar itu berada.
“Astaga, itu patung cristal Dewi Venus!” pekiknya tak percaya akan apa yang dilihatnya.
Ada patung Dewi Venus yang terbuat dari kristal berada di dalam sungai, tersangkut pada sebuah akar bakau yang tumbuh di sana.
Byur! Mervin pun segera melompat menceburkan diri ke sungai.
“Dapat!” pekiknya, berhasil meraih patung tersebut. Lalu segera berenang cepat muncul ke permukaan.
Tak sengaja Mervin melirik jam tangannya, dan jam tangan itu mati. Mungkin karena terkena air.
Tiba-tiba dari arah belakang, dari dalam sungai terlihat air berbuih. Dari dalam sana nampak seekor buaya berukuran besar 2 kali lebih besar daripada ukuran normal muncul dari sungai dan kini mengejarnya.
“ASTAGA! BUAYA!!” pekiknya terkejut.
Buaya itu dengan cepat naik keluar dari sungai dan kini mengejarnya.
Akh! Mervin pun berlari secepat mungkin untuk menghindari kejaran buaya itu dengan membawa dua harta karun, telur emas dan patung kristal.
Dia terdesak saat buaya tadi berjarak semakin dekat dengannya. Terlebih kini jaraknya tinggal setengah meter saja.
Buaya tadi membuka mulutnya lebar, hampir saja ia tergigit Jika saja tidak menambah kecepatan larinya.
__ADS_1
“Terima ini!” hardiknya, terpaksa melempar telur emas tadi ke mulut buaya untuk menghentikan pergerakannya.
Di saat tersesat begini dia pun teringat sembari melirik jam tangannya yang belum menyala.
“Apakah aku akan bisa kembali ke masa depan?”
Ia terus berlari dan sekali menoleh ke belakang. Buaya tadi sudah tak mengejarnya. Ia berhenti mengejar Mervin karena tengah sibuk mengeluarkan telur emas tadi yang tercekat di tenggorokannya.
Haah! Mervin bisa bernafas lega. Dia pun memperlambat larinya.
Tiba-tiba saja ada semua sinar terang di depannya yang sangat menyilaukan mata.
Di tengah sinar itu terlihat sebuah pintu yang kemudian terbuka.
“Apakah itu pintu menuju ke masa depan? Jadi, dis hal itu yang membuatku bisa melintasi waktu?” gumamnya lagi, akhirnya menemukan dua kunci pokok yang bisa membawanya melintasi waktu.
Ternyata sinar di depannya itu nyalanya semakin meredup dan pintunya sedikit tertutup.
“Apakah pintu itu akan tertutup?”
Mervin khawatir, ternyata pintu itu tak lama terbuka. Ia juga takut jika pintu itu sampai tertutup.
Tepat di saat dia berada di depan pintu dimensi yang berada 3 meter depannya itu, dan akan masuk, tiba-tiba ada terdengar suara auman di belakangnya.
Seekor macan tutul bergerak cepat menerjang ke arahnya.
Mervin berusaha menghindar, lalu Kembali ke tempat pintu dimensi tadi berada.
“Sial! Pintunya sudah tertutup!” decaknya kesal, melihat pintu tadi sudah hilang dari sana bersama Sinar yang kian meredup dan menghilang.
Tak ada pintu dimensi lagi saat ini, dan yang ada saat ini seekor harimau lapar yang sedang memburunya.
Terlihat saliva binatang buas bertotol itu menetes menatap Mervin.
__ADS_1