Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah

Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah
Eps. 39 Pembalasan Mervin


__ADS_3

Eric terlambat ke lantai dengan keras hanya dengan satu pukulan dari Tuan Anderson.


“Ayah!” teriak Gwen terkejut, panik sekaligus takut melihat kondisi ayahnya yang sekarang.


Eric tak hanya jatuh biasa. Tapi pria itu sampai mimisan. Hal itu yang membuat Gwen khawatir. Bahkan ia pun berniat untuk menolong ayahnya tersebut.


“Tidak! Gwen! Jangan kemari, Ayah bisa mengatasinya. Lari dan pergi jauh dari sini!” Eric memberi perintah saat Gwen akan mendekat padanya.


Tentu saja Gwen langsung membeku di tempat. Ia benar-benar bingung. Menyelamatkan ayahnya tidak menjamin keselamatan pria itu dan malah keselamatan dirinya yang dipertaruhkan.


“Aku akan mengatasimu terlebih dulu, baru setelah itu aku akan berurusan dengan dia!” Tuan Anderson menatap tajam Eric, kemudian beralih menatap Gwen.


“Jika sampai kau menyentuh putriku sedikit saja maka kau akan tahu rasa!” sentak Eric, menahan sakit di tubuhnya.


“Banyak bacot kau! Sebentar lagi nyawamu akan melayang. Jadi sebaiknya kau tak usah meracau. Lebih baik kau ucapkan saja wasiat terakhirmu pada putrimu itu!” Tuan Anderson mengulas seringai.


Membuat Gwen takut dan beringin hanya dengan melihat senyumannya saja.


Bagaimana ini? Aku tak mungkin akan meninggalkan Ayah seorang diri di sini dan terluka. Tapi Aku juga tak bisa membantunya. Bagaimana ini... batin Gwen bingung.


Terlebih saat ini Tuan Anderson kembali menyerang ayahnya, dengan mudah pria itu menjatuhkan ayahnya berulang kali hingga babak belur.


“Kau ingin rasa sakit yang lama atau rasa sakit yang cepat sebelumnya nyawamu berakhir?” tanya Tuan Anderson, sembari menginjak dada Eric.

__ADS_1


Eric tak menjawabnya juga tak menggubrisnya. Saat ini prioritas utamanya adalah bisa menyingkirkan pria itu dari rumah.


Ia mencoba menyingkirkan kaki Tuan Anderson yang menginjak tubuhnya. Ia mengangkat kaki pria tersebut.


Kenapa berat sekali menggeser kaki orang ini sedikit saja? Lalu bagaimana bisa aku mengusirnya pergi dari sini jika aku saja tak berdaya seperti ini, batin Eric dengan berpeluh.


“Jangan harap kau bisa kabur dariku!” hardik Tuan Anderson lagi.


Malahan pria itu kembali memukulnya bertubi-tubi.


Uhuk! Eric sampai muntah darah dan tak bisa melawan lagi sekarang.


“Ayah!” teriak Gwen histeris. Ia langsung berhambur mendekati ayahnya. Tak peduli meski ayahnya melarangnya.


“Rupanya kau sudah tidak sabar menunggu giliranmu, ya?” Tuan Anderson beralih menatap Gwen yang bersimpuh di samping Eric.


Phak! Tuan Anderson tak menjawab dan langsung meresponnya dengan sebuah tamparan keras yang membuat Gwen sampai terhempas ke laintai karenanya.


Melihat Gwen yang terhempas ke lantai, darah Eric mendidih. Dengan tenaganya yang tersisa dia berhasil menyingkirkan kaki Tuan Anderson dari tubuhnya. Ia lalu berniat untuk menyerangnya.


“Satu kali pukulan lagi dariku, tamat riwayatmu!” Tuan Anderson menyeret Eric dan akan menghabisinya.


“Tunggu!” Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menghentikan aktivitasnya.

__ADS_1


Tiga pasang mata kemudian tertuju pada sumber suara.


“Mervin! Kau datang!” Bukan Tuan Anderson atau Eric yang bicara, tapi Gwen.


“Gwen! Kau tidak apa-apa, Sayang?” Mervin mendekat.


Pria itu pulang lebih cepat dari toko karena feelingnya tak enak. Ternyata apa yang dirasakannya itu terbukti kebenarannya. Wanitanya juga ayam mertuanya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


“Gwen, sekarang pergilah ke belakang bersama ibu. Jangan keluar sebelum kupanggil!” Mervin menatap Gwen dengan serius.


Gwen hanya bisa mengangguk dan pelari dengan cepat setelahnya ke belakang, menjauh dari mereka.


“Ayah, kau tidak apa-apa?” Mervin beralih menghampiri Eric yang terkapar di lantai.


Meskipun perlakuan mertuanya itu sangat buruk padanya tapi melihatnya terluka parah seperti ini juga membuatnya merasa iba juga geram pada Tuan Anderson, yang menyebabkan semua ini terjadi.


Eric mengangguk lemah karena rasanya tubuhnya remuk redam. Bahkan untuk bicara pun saat ini rasanya sulit.


“Ayah, tenang. Aku akan balaskan semua rasa sakitmu ini sekarang juga.” Mervin yang saat ini berjongkok di dekat Eric, berdiri lalu mendekati Tuan Anderson.


“Kau lama sekali baru datang. Aku sudah menunggumu,” ucapnya dengan santai tanpa merasa berdosa setelah melukai Eric.


“Apa masalahku denganmu? Kurasa masalah itu sudah selesai. Kau harus membayar semua yang sudah kau perbuat pada istri dan mertuaku!”

__ADS_1


Tak tanggung-tanggung kali ini Mervin yang berinisiatif duluan untuk menyerangnya.


Mervin, selama ini aku berlaku buruk padamu tapi kau membelaku, batin Erik menatap menantu sampahnya yang saat ini sedang bertarung habis-habisan dengan Tuan Anderson.


__ADS_2