
Dawson terus mengambil emas batangan yang sangat menyejukkan matanya itu dalam dua wadah kantong besar yang sudah disiapkannya dari rumah.
“Tidak bermodalkan apapun tapi kembali dengan hasil sebanyak ini. Aku akan jadi miliarder selanjutnya,” pungkasnya, tersenyum penuh kemenangan.
Tak henti-hentinya Dawson memasukkan semua emas batangan tersebut dalam dua wadahnya yang sudah penuh, tapi masih dimasukkannya juga dengan menekan-nekan supaya muat.
Bahkan, saat sekarang tempat itu tidak muat, ia memasukkan emas batangan itu ke setiap saku bajunya. Mungkin saja jika menyimpan emas dalam perut mudah diambil, mungkin saja ia akan memakannya juga.
Ck! Mervin berdecak menyaksikannya. Sungguh ia melihat pria yang benar-benar rakus. Tak ada bedanya dengan babi yang terus makan meskipun sudah kenyang, hingga perutnya membuncit dan membuat babi itu kesusahan sendiri.
“Sebentar lagi, aku akan memberimu pelajaran,” cerocosnya kesal.
Mervin menunggu momen yang tepat. Ia pun menuju ke tempat harta karun itu berada, lalu mengambilnya satu. Meski sebenarnya ia kurang tertarik. Tapi yang ada saat ini hanyalah itu, dan dia bukanlah tipe pemilih.
“Kenapa kau hanya mengambil satu saja? Tidak kurang?Atau tidak bawa tempat untuk menyimpannya? Kasihan kesali!” ledeknya, dengan senyum rakus yang memuakkan untuk dilihat.
Kenapa semua emas yang diambil pria itu tidak kembali dan tetap berada di tempatnya? batin Mervin, merasa aneh. karena biasanya hanya bisa ambil satu saja.
“Ambil saja sesukamu dan nikmatilah selagi kau bisa menikmatinya,” decihnya, tersenyum tipis.
“Kau sendiri yang bilang begitu. maka biarkan semua emas ini menjadi milikku seorang.”
Mervin diam tak merespon. Malas, juga buang-buang tenaga saja.
Srak! Mervin bisa mendengar ada suara dibalik semak yang ada di belakang Dawson.
Apakah itu ular?
Mervin seketika siaga, takut itu adalah ular piton seperti sebelumnya. Atau bisa jadi binatang buas lainnya yang tidak ia ketahui.
“Hey, Kenapa mukamu terlihat takut seperti itu? Dasar pecundang kau!” Ledek Dawson, dengan terkekeh. Mengira Mervin takut padanya.
__ADS_1
Mungkin sebaiknya aku pergi saja dari sini, batin Mervin untuk berjaga-jaga. Terlepas dari apa sebenarnya yang ada di balik semak itu.
Mervin berjalan mundur agak cepat sebelum sosok yang tidak diketahuinya itu keluar.
“Dasar, penakut! nyalimu kecil juga setelah bertemu dengan diriku!” Celetuk Dawson, memandang Mervin sebelah mata.
Mervin tak menghiraukan itu. Bahkan ia segera lari secepat mungkin menjauh dari sana, karena tak ingin bertemu sesuatu yang membahayakan dirinya, bisa jadi nyawanya terancam jika itu memang buaya atau lainnya.
Groar!! Tepat di saat Marvin sudah menjauh dari sana keluar seekor beruang besar dari balik semak.
“Baiklah, kurasa emas batangan yang kubawa kali ini sudah cukup,” decihnya, menarik dua wadah karung besar.
Bahkan sakunya pun penuh dengan emas batangan yang menyembul dan terlihat dari luar.
“Apa itu? Kau pikir lucu menakuti ku seperti itu? Aku sama sekali tidak takut padamu!” hentaknya, kasar.
Dawson mengira suara beruang tersebut adalah suara Mervin yang dibuat-buat untuk menakuti dirinya.
Groar!! Beruang tadi menghampiri Dawson.
“Astaga! Apakah itu benar beruang?!” pekiknya, gemetar sampai dua karung yang dipegangnya terlepas dari tangannya.
Beruang itu berukuran dua kali lipat lebih besar daripada ukuran beruang pada umumnya. Jadi jika berdiri bersebelahan, tinggi Dawson hanyalah sepertiga beruang tadi.
“Tolong, jangan sakiti aku,” mohonnya dengan mengatupkan kedua tangannya seperti orang minta ampun.
Beruang itu meneteskan air liur saat menatap Dawson yang membuat pria itu bergidik ngeri hanya dengan menatapnya saja.
“Apakah dia mengira aku santapannya?”
Dawson mundur pelan-pelan, itupun dia sudah memaksakan kakinya untuk bergerak karena sebelumnya terasa kaku sekali dan berat, namun ia tetap memaksanya.
__ADS_1
“Jangan, please!”
Ia mundur dengan tatapan mata mendelik menghindari tatapan buas binatang yang kelaparan itu.
“Akh!” teriaknya, saat beruang itu mengayunkan tangannya. Dan cakarnya yang tajam mengoyak wajah Dawson.
Sungguh perih dan luar biasa sekali sakitnya,saat dagingnya terkoyak dan darah membasahi tubuhnya.
“Tolong, ampun. Aku bukan santapanmu. Jika kau lepaskan aku, aku akan memberimu makan daging segar setiap hari,” desisnya di tengah sakit yang mendera, mencoba merayu.
Tapi beruang itu tidak tahu apa yang diucapkan Dawson padanya. Darah pria itu yang muncrat di hidung membuatnya semakin tambah lapar saja.
Akh! Terdengar suara jeritan lagi. Kali ini suaranya sangat memilukan sekali.
“Hiss!” Mervin mendesis merinding kala melihat beruang itu mencabik Dawson lalu menyantapnya.
“Orang serakah akan mati dengan harta yang dibawanya,” cicit Mervin lalu segera berbalik karena tak tahu melihat pemandangan mengerikan itu.
“Mungkin sekarang saatnya aku kembali,” ceplosnya, padahal ia bermaksud memberikan pelajaran.
Ternyata beruang itu datang membantu dan menggantikan tugasnya untuk memberi Pelajaran Dawson.
Mervin lalu menarik tuas jam yang melingkar di tangan kirinya, sembari memakai kembali topi koboy milik Kakek Ethan yang tadi disimpannya. Agar topi itu tidak rusak.
Aku ingin kembali ke masa depan dan bertemu Gwen, harapnya dalam hati.
Zap! Pintu dimensi menuju ke masa depan pun muncul di hadapan Mervin.
Groar! Ternyata beruang tadi mencium kehadiran manusia lain di sana.
“Gawat,” pekiknya.
__ADS_1
Beruang itu menatapnya dan kini beralih mengejarnya.