Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah

Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah
Eps. 41 Pergi Bersama Max


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu. Barang antik Mervin yang ada di toko saat ini jumlahnya semakin menipis dan tinggal sedikit dengan permintaan semakin meninggi.


“Apa sebaiknya aku pergi ke masa lalu sekarang?” tanyanya pada Gwen.


Gwen saat ini menemaninya berada di rumah Kakek Ethan. Dia memang tidak ikut menjaga toko tapi selalu ada di rumah Kakek Ethan, sembari menunggu Mervin menutup toko.


“Aku ikut denganmu. Sudah lama sekali aku tak pernah ikut denganmu,” tutur Gwen.


Sejak terakhir kali dia pergi ke masa lampau dengan Mervin terhitung sudah tiga bulan lebih sampai sekarang dia belum pernah kembali ke sana.


“Jangan Gwen. Aku tidak tahu ada Bahaya apa di sana Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu.”


“Bukankah terakhir kali kau bilang terlempar ke masa di tahun 1935 an?”


“Iya, tapi waktu itu aku tidak sengaja terlempar ke sana dan sampai detik ini pun aku tidak tahu bagaimana cara menuju ke sana. Yang aku bisa menuju ke masa lampau seperti biasanya dengan bantuan jam ini.”


Mervin pernah mencoba beberapa kali pergi ke masa lampau dengan tujuan di tahun 1935 seperti sebelumnya, namun rupanya dia tak bisa ke waktu itu dan tetap ke tempat biasanya, di sebuah hutan belantara atau tempat gelap.


Tanpa Gwen dan Mervin ketahui, di luar rumah ternyata ada beberapa pasang telinga yang mendengar setiap kata yang mereka ucapkan.


Ternyata, begitu caranya dia bisa pergi ke masa lampau. Melalui sebuah jam? Aku akan membuat perhitungan denganmu lagi, Mervin, batin pria kekar memakai setelan tuxedo rapi.


Pria itu memang Anderson. Dia sudah pulih dari lukanya setelah bertarung bersama Mervin beberapa waktu yang lalu di rumah Eric.

__ADS_1


Sampai sekarang kebenciannya pada Mervin tidaklah surut, pun rasa penasarannya yang cukup tinggi tentang bagaimana cara menuju ke masa lampau. Ia masih penasaran dan terus mencari tahu bagaimana jalan menuju ke masa lampau ke tempat sumber harta karun berada. Berbagai cara ia tempuh untuk memperoleh informasi ini.


“Bersenang-senanglah dulu selagi kau bisa bersenang-senang mungkin sebentar lagi aku akan mengambil jam itu dari tanganmu.” Anderson menerbitkan senyum lebar di bibirnya.


Ia kemudian segera pergi dari sana, masuk ke mobilnya yang dia parkir di ujung jalan.


“Mervin berhati-hati lah di sana, dan cepat kembali,” ucap Gwen sebelum lelakinya itu benar-benar menghilang dan pergi ke masa lampau.


“Tentu saja. Aku akan segera kembali.” Mervin memeluk wanitanya itu beberapa saat sembari mengecup puncak keningnya.


Max ada di sana dan dia menjadi pengikut setia Mervin. Ke mana pria itu pergi, dia selalu mengikutinya. Beberapa kali ke masa lampau Anjing itu juga ikut dengannya.


Guk! Max mengendus kaki Gwen, hal yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bersama Mervin. Mungin maksudnya salam perpisahan dan berpamitan pada majikan wanitanya.


Setelahnya dia mengambil topi hitam, topi milik Kakek Ethan dan memakaikannya pada Mervin.


“Gwen, aku pergi dulu,” pamit Mervin. Ia kemudian segera menarik tuas jam yang melingkar di tangannya.


Lima detik setelahnya Mervin dan Max menghilang dari pandangan Gwen melalui sebuah pintu dimensi.


Akh! Mervin berteriak setelah pintu dimensi tertutup dan hilang dari pandangan Gwen.


Dia berputar terombang-ambing pada ruang hampa bersama Max.

__ADS_1


Bugh! Setelah beberapa saat mereka berdua terombang-ambing, akhirnya mereka mendarat di sebuah tanah.


“Max, kita sudah sampai!” decak Mervin.


Guk!


Mereka tiba di sebuah hutan belantara tepatnya berada di area sebuah pegunungan. Rumput hijau setinggi setengah meter memenuhi tanah. Beberapa pohon gandum ada di tiap sudut lahan. Di depan ada sebuah gunung menjulang tinggi.


Gunung itu berbeda dengan kebanyakan gunung yang pernah ada selama ini. Gunung tersebut tidak berwarna hijau melainkan berwarna putih. Warna dominan putih mendominasi dari puncak sampai ke dasar gunung.


“Apakah itu salju?” pekik Mervin, melihat pemandangan yang sangat kontras.


Di tempat yang diinjak berwarna hijau, bahkan ada beberapa bunga liar yang bermekaran di sana. Sedangkan di gunung itu diselimuti oleh salju.


Guk! Max yang terlihat tidak sabar segera berlari, menyibak semak menuju ke gunung yang tertutup oleh lapisan salju.


“Max! Tunggu! Jangan ke sana dulu.” teriak Mervin. Ia pun mau tak mau Akhirnya segera mengejar Max, daripada terjadi sesuatu pada peliharaannya itu.


Meski gunung itu nampak besar dan cukup dekat jaraknya dengan tempatnya berada sekarang, ternyata titik tempat gunung itu berada cukup jauh. Setelah berlari jauh hampir 1000 meter barulah Mervin berhasil menyusul Max.


“Max, kau jangan pergi jauh lagi.” Mervin mengusap puncak kepala Max.


Mereka berdua kemudian menyusuri sekitar gunung bersalju tersebut.

__ADS_1


“Ada apa ini?!” pekik Mervin. Tiba-tiba saja tanah di sekitarnya berguncang. Makin lama goncangan itu semakin hebat. Bahkan gunung bersalju itu pun ikut berguncang.


__ADS_2