
Mervin segera melompat masuk ke pintu dimensi karena saat ini pintu itu katanya melayang di udara kira-kira 60 cm dari tanah.
“Semoga saja, pintu segera tertutup sebelum beruang itu sampai kemari,” ujarnya, berharap.
“7...8...9....” Mervin menghitung sendiri untuk mengetahui secara pasti kapan pintu akan tertutup.
Tepat di detik kesembilan, beruang tadi berada di depan Mervin.
“Kenapa dia bisa begitu cepat sampai kemari?” resahnya, melihat beruang itu kini melompat ke arahnya.
Untungnya Mervin menyiapkan belati kecil tadi sebelum berangkat dan sekarang bisa digunakan.
Shat! Mervin melempar belatinya itu ke dada beruang hitam.
Groar! Beruang tadi meraung, karena merasa sakit. Dia pun jatuh terjungkal dari pintu tepat pada hitungan ke-10.
“Fyuh! Untung saja, nyaris saja tadi itu,” gumamnya lega. Dan pintu tertutup saat itu juga.
Akh! Mervin kembali berputar-putar tubuhnya di ruang hampa melewati lorong waktu.
Bugh! Ia kembali ke rumah Kakek Ethan dan langsung berdiri.
“Aku hanya mendapatkan ini, karena adanya penyusup tadi,” cicitnya mengeluarkan emas batangan dari saku bajunya.
Sebenarnya jika saja tak ada Dawson yang menyusup tadi Kelvin berencana akan mencari sesuatu yang benar-benar aktif yang tak pernah dibawa pulang sebelumnya.
Tapi karena adanya penyusup maka cukuplah baginya kembali dengan selamat dan hanya membawa satu keping emas batangan saja. Bahkan itupun harganya cukup tinggi nanti jika dijual.
“Sebaiknya aku pulang sekarang, Gwen pasti menungguku,” selorohnya, teringat kembali janjinya pada Gwen.
Mervin segera angkat kaki dari sana.
__ADS_1
“Dia sudah pergi....” gumam seseorang, dari tempat tersembunyi di luar rumah.
Pria berotot dengan tato rantai di lengan kirinya itu keluar dari persembunyiannya. Mervin tak tahu jika sedari tadi ada juga orang lain yang mengawasinya.
Klak! Bahkan kini pria itu membuka dengan paksa pintu rumah yang sudah dikunci.
“Aku tak melihat Dawson keluar dari rumah. Apa dia masih ada di tempat harta karun itu berada?” gumamnya, mencari sosok Dawson.
Sebut saja pria tadi adalah Reel. Dia merupakan salah satu anggota gangster yang ada di Berlin yang terkenal bengis dan ditakuti. Sedangkan Dawson juga merupakan salah satu anggota gangster tapi berbeda dengan Reel.
“Dasar si rakus itu pasti saat ini tak mau kembali karena sibuk membawa semua harta karun yang ada di sana, ck!” decaknya, mencebik.
Reel lalu memeriksa setiap isi rumah. Ia penasaran bagaimana caranya menuju ke tempat di mana harta karun melimpah berada.
“Dimanakah pintu rahasia itu berada?” desaunya berang, setelah memeriksa seluruh isi ruangan.
Bahkan ia yang jengah setelah beberapa saat mencari, dan tak menemukannya membuat rumah itu berantakan.
“Jangan kau kuasai sendiri harta karun itu. Perjanjian di awal kita jelas, jika kau melanggarnya maka tahu rasa kau!” hentaknya lagi, lebih keras.
di luar sana mereka berdua memang mengadakan kesepakatan untuk bekerja sama menyusup dan mengikuti baru untuk mencari harta karun dan kemudian hasilnya dibagi rata.
“Dawson!” panggilnya lagi, untuk kesekian kalinya.
Karena tak ada respon, maka ia pun kembali mengancam.
“Awas saja kau! Tamat riwayatmu setelah ini jika aku bertemu denganmu. Huh!” hardiknya, mengancam.
Reel pun pergi dari rumah itu dengan kesal. Ia bahkan membanting pintu itu dengan kasar saat menutupnya.
***
__ADS_1
“Aku akan mempostingnya di akun media sosial sekarang,” celetuk Gwen, setelah menatap barang-barang yang dibawa oleh Melvin dan kini memenuhi etalase kacanya.
Pagi itu Gwen dan Mervin membersihkan dan menata etalase barang berharga mereka.
Lebih tepatnya memolesnya. Seperti emas yang biasa kita gunakan jika lama disimpan atau terkontaminasi dengan berbagai berbagai zat di udara, maka akan membuat warnanya pudar dan mengurangi kilaunya.
“Gwen, tolong ambilkan lapnya,” ucap Mervin, yang sedang membersihkan satu persatu harta karun yang ditemukannya itu.
“Ini lapnya, sayang,” balasnya, menyerahkan lap putih kemudian kembali menatap layar ponselnya.
Mervin memoles barang antik tersebut dengan cairan khusus sehingga akan mengembalikan kilaunya, dan membuat barang itu bersinar kembali seperti barang baru.
“Kurasa, semua benda ini sudah siap untuk diabadikan,” cicit Gwen, langsung berdiri begitu Mervin sudah selesai memulai sebuah benda antik.
Cekrek! Gwen mengenal semua foto benda antik itu satu persatu dan setelahnya dia langsung memasangnya ke media sosial seperti yang sebelum-sebelumnya.
“Kita tinggal tunggu saja pembeli datang,” tukas Mervin, yang kini beralih duduk di samping Gwen.
Malam harinya, tiba-tiba ada seorang kamu misterius datang ke rumah.
“Mencari siapa?” tanya Eric, Kebetulan sekali saat itu dia yang membukakan pintu.
“Aku mau bertemu Tuan Mervin,” jawabnya, singkat.
Eric memperhatikan pria tersebut dan memindainya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seorang pria aneh dengan banyak tato di tangan.
“Dia tidak ada,” jawabnya langsung, setelah mempertimbangkan jika tamu tersebut mungkin saja akan membuat masalah di rumahnya.
“Bawa aku bertemu dengannya! Jika tidak, Maka kau akan...” Pria tadi lalu menggerakkan satu jarinya cepat ke arah lehernya seperti menyayat. “kiek!”
Erik panas dingin seketika mendengar dan melihat apa yang dilakukan oleh pria misterius barusan. Sangat mengerikan jika itu benar akan dilakukan padanya.
__ADS_1