
Mervin waspada tingkat tinggi dan siap menyerang jika pencuri itu akan menyerangnya duluan.
Bugh! Mervin menangkis pukulan pencuri tadi.
Ia memegang tangan pencuri itu berat lalu membantingnya ke dinding.
Pria berbadan besar itu pun segera bangkit. Ia tak menyangka saja Mervin yang tubuhnya separuh dari tubuhnya bisa membantingnya dengan mudah. “Badjingan kau!”
Pencuri tadi semakin geram dan menyerang Mervin dengan bertubi-tubi. Terjadi baku hantam.
Bugh!
Bagh!
Bugh!
Setelah beberapa adu pukulan, kali ini Marvin memimpin. Pencuri tadi sekarang terdesak.
“Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu merampok?!” hardik Mervin. Ia menarik kerah baju pencuri itu dan menyudutkannya ke dinding.
Pencuri yang sudah babak belur itu tak merespon dan malah membuang pandangan, membuat Mervin semakin geram saja.
“Katakan! Jika kau masih sayang dengan nyawamu. Siapa yang menyuruhmu?!” hentaknya lagi.
Ia kesal juga marah melihat semua CCTV dirusak bahkan toko dan etalasenya pun rusak parah.
Mervin bersiap melayangkan pukulan.
“Hentikan! Ya, aku akan memberitahumu, siapa yang menyuruhku,” ucapnya dengan memohon, karena masih sayang dengan nyawanya.
“Katakan! Siapa?!”
“T-Tuan Wilson.”
“Tuan Wilson?” Mervin sungguh tak menyangka sama sekali ternyata pria itu tak main-main dengan ucapannya dan terbukti kali ini dia mengirim suruhannya kemari.
Pencuri tadi terlihat gemetar, menatap biji mata Mervin yang menatapnya tajam. “Ampun...”
“Pergi kau dari sini sekarang sebelum aku berubah pikiran!” hardik Mervin, lagi.
__ADS_1
Amarah sudah membakar hatinya dan ia takut saja kalau sampai kalah dan membunuh pria itu.
“B-baik.” Pencuri tadi pun kemudian segera lari tunggang langgang sebelum dia dicincang.
Kata Boss Wilson dia lemah, ternyata dia kuat. Bahkan dia menguasai Krav maga juga.
Pencuri tadi melihat beberapa titik di tubuhnya yang kini memar dan tak karuan rasanya setelah bertarung dengan Mervin.
Selepas pencuri tadi pergi, Mervin mengambil semua barang antiknya untuk mengamankannya.
“Sepertinya aku harus memberikan pengaman tempat. ini 4 kali lipat dari ini agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini.”
Ia lalu membawa semua barang antiknya ke rumah Kakek Ethan.
“Untuk sementara waktu aku akan menyimpannya terlebih dulu di sini, sampai toko sudah diperbaiki,” gumamnya setelah masuk ke rumah.
Ia menaruh di tempat yang aman tapi itu membuatnya ragu kembali.
Jika aku meninggalkannya di sini apakah tidak akan mengundang pencuri lagi?
Mervin yang bimbang tak langsung pulang ke rumah. Ia duduk di sofa panjang di ruang tengah, berpikir.
Namun ternyata dia malah ketiduran di sana.
“Astaga! Aku malah ketiduran di sini, jam berapa sekarang?” pekiknya, lalu segera duduk dan mengarahkan tatapannya pada penunjuk waktu yang tergantung di dinding.
Pukul 23.00 dan ponselnya masih berdering nyaring karena belum dia angkat.
“Gwen?!” pekiknya, melihat siapa yang meneleponnya.
Wanita itu pasti khawatir padanya. Terlebih sudah dua jam berlalu. Ia juga lupa memberikan kabar padanya.
“Gwen, ada apa?” ucapnya segara, setelah ia menerima panggilan.
“Kau di mana sekarang? Dan ada masalah apa, kenapa belum pulang juga sampai sekarang?” balas Gwen di seberang telepon, terdengar cemas.
Mervin kemudian menjelaskan pada wanitanya itu tentang kejadian yang barusan terjadi di toko dua jam yang lalu sampai saat ini dirinya ada di rumah Kakek Ethan.
“Jika begitu aku akan menyusul ke rumah kakek sekarang,” balas Gwen, bersi keras. Karena khawatir.
__ADS_1
“Tunggu, Gwen. Ini sudah larut sekali sebaiknya kamu di rumah tak usah menyusulku ke sini dan malam ini aku akan menginap di sini sekaligud untuk menjaga barang antik dari toko,” tutur Mervin, melarang.
“Tapi Mervin...”
“Hanya malam ini saja aku akan menginap di sini besok akan kembali ke rumah,” balasnya, lalu mengakhiri panggilan telepon.
“Bisa gawat jika Gwen sampai menyusul kemari. Karena kondisi belum kondusif,” lirihnya, lalu menaruh ponsel ke meja.
Mervin yang lupa mengunci pintu, kemudian segera bangkit dari duduknya. Ia lalu memeriksa semua pintu kemudian menguncinya rapat-rapat, barulah dia tidur.
“Semoga saja tak ada hal buruk yang terjadi hari ini.”
***
Beberapa hari toko Mervin tidak buka karena sedang diperbaiki. Tak hanya diperbaiki saja, malahan Mervin juga memasang pengamanan berlapis di sana untuk mengantisipasi kejadian yang sama terulang kembali.
Baru hari ini ia membuka tokonya kembali bersama Gwen. Dan sudah ada pembeli yang datang. Memang tidak banyak yang datang ke tokonya, seperti toko sembako yang berjubel.
Tapi sekali ada yang beli, hasilnya bisa mengalahkan toko sembako. Jauh berkali-kali lipat.
“Ya, Tuan silahkan mau beli yang mana?” sapa Mervin, dengan mengulas senyum tipis.
Sebuah senyuman tentunya sangat berati bagi pembeli. Jika penjual memasang tampang jutek dan tentunya pembeli tak akan betah lalu berpindah pada toko lain.
“Aku mau lihat yang ini.”
Mervin pun mengeluarkan barang yang ditunjuk oleh pembeli dan melayaninya dengan sabar.
“Berapa harganya?”
Mervin lalu menyebutkan sebuah harga. Anehnya pembeli tadi tidak menawar sama sekali harganya yang tinggi.
“Ini uangnya.” Pembeli malah langsung membayar cash.
Selesai membayar dan mendapatkan barang yang dibeli, pembeli tadi segera keluar dari toko dengan buru-buru.
Mervin merasa ada yang aneh saja dengan tingkah pembeli tadi karena tidak seperti pembeli pada umumnya.
Langsung saja ia mengeluarkan money detector.
__ADS_1
Tiit-tiit! Alat sektor uang itu berbunyi nyaring dengan lampu merah yang berkedip-kedip.
“Astaga! Uang ini palsu!” pekiknya, terkejut.