Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah

Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah
Eps. 18 Menolak Paksaan


__ADS_3

“Tidak! Perjanjian kita hanya berlaku saat itu saja, tidak untuk kali ini,” jawab Mervin tegas.


“Berani kau ya?!”


Tuan Anderson pun mulai beraksi dan mengajar kembali Mervin.


Tapi Mervin yang bepergian seorang diri saat ini, tak takut melawannya ataupun menahan serangannya.


Tanpa kehadiran Gwen disisinya, ia bebas untuk menyerang. Tentu saja ia bebas melampiaskan rasa kesalnya pada Tuan Anderson juga.


“Jadi cepat beritahukan padaku bagaimana cara menuju ke masa lalu!” hardik Tuan Anderson, dengan sorot mata rakus.


Rakus karena ingin kembali ke masa lalu untuk mengambil semua harta karun sepuasnya. Rakus karena sebagai seorang manajer dia sudah kaya. Bahkan dia punya anak buah.


Jadi untuk apa mengumpulkan harta yang melimpah, jika bukan orang rakus namanya.


Bahkan Mervin pun bisa melihat kilat sorot rakus di biji mata pria tersebut yang seolah tiada kenyang meski semua sudah tercukupi.


“Aku tidak tahu!” bantah Mervin.


“Tidak mungkin kau tidak mengetahuinya. Tapi yang jelas kau memang tak ingin memberitahukannya padaku!”


Karena sebelumnya Mervin yang membawanya ke masa lalu. Dan pria itu pula yang membawanya kembali ke masa sekarang. Jadi sudah bisa dipastikan kunci menuju ke sana ada di tangan Mervin.


“Aku tak akan mengulanginya Untuk yang kesekian kali, Tuan Anderson. Aku bilang aku tidak tahu, itu semua hanya kebetulan dan keberuntungan saja,” imbuhnya lagi.


Sungguh ia tak rela orang serakah seperti Tuan Anderson menguasai semua harta karun yang ada di masa lampau. Akan jadi apa jika pria itu berhasil menguras semua harta karun? Sikapnya saja yang asli baru ketahuan. Ternyata dia pria temperamen dan kasar.

__ADS_1


Parahnya lagi, bisa-bisanya Mervin dulu percaya dengan mulut manisnya juga kebaikan palsunya yang ternyata semuanya tak dilakukan dengan cuma-cuma tapi ''ada udang di balik batu.''


“Banyak omong kau Mervin! Ternyata dibalik sikapmu yang pendiam dan santun itu seperti ini rupa aslimu?!”


Tuan Anderson sudah tak bisa menahan lagi emosinya yang sudah meluap-luap dan berada di ujung tanduk, siap untuk pecah kapanpun ada yang menyinggungnya sekali lagi.


Mervin sendiri juga panas hatinya saat ini mendengar umpatan juga hujatan dari Tuan Anderson, yang coba ditahannya dari tadi. Namun ternyata kupingnya panas juga.


“Terserah apa katamu, Tuan. Kau boleh memakiku atau menghujat diriku sepuasnya. Tapi itu justru meyakinkan diriku jika aku tak perlu menghormatimu lagi, menghargaimu lagi sebagai orang tua yang pantas dihargai!”


“Bocah tengik kau!”


Meledak sudah amarah Tuan Anderson. Tangannya les dari tadi terkepal erat kini mulai melayang di udara.


Bugh!


Bugh!


Baku hantam di antara keduanya mulai terjadi. keduanya mulai saling pukul tanpa menahannya sedikitpun.


Mervin masih ingat beberapa waktu yang lalu pria itu menyuruh algojonya untuk mengejarnya hingga babak belur.


Dia tidak bersama para algojonya kali ini, jadi ini kesempatanku, batin Mervin setelah mengamati keadaan sekitar dan hanya ada mereka berdua.


Saat itu Mervin kalah bertarung karena dikeroyok tapi bagaimana hasilnya jika sekarang lawannya imbang atau lawan satu ada bantuan dan tak ada kecurangan seperti sebelumnya?


Bugh!

__ADS_1


Mervin melayangkan pukulan terkuatnya pada dada Tuan Anderson.


Pria itu terhempas hingga menabrak sebuah pohon di tepi jalan.


Sialan! geram Tuan Anderson dalam hati.


Ia tak menyangka saja Mervin benar-benar lepas kontrol hingga membuat pinggangnya terasa remuk setelah menabrak pohon.


Hiss!


Pria itu sampai mendesis menahan rasa sakitnya tapi tak ia Tunjukkan kelemahannya itu di depan lawannya, sama sejatinya dengan mengakui kekalahannya lebih awal jika begitu.


“Mervin, jika kau bersih keras tetap tak mau memberikannya padaku, maka lihat saja satu per satu keluargamu akan habis di tanganku!”


Tuan Anderson kembali mengancam dan menakut-nakuti mermaid karena sebelumnya hal itu bekerja padanya. Sedangkan saat ini kondisinya tak memungkinkan baginya untuk kembali bertarung. Maka ia cukup panjang emosinya saja.


“Coba saja! jika berani menyentuh keluargaku maka aku tak akan segan-segan menyentuh keluargamu juga,” balasnya dengan berani. Karena ia tahu Tuan Anderson hanya menggertaknya saja.


Bugh! Satu pukulan terakhir dari Mervin, setelah beberapa kali pukulan dan juga tendangan, berhasil merobohkan Tuan Anderson.


Pria itu kalah telak. Tuan Anderson tak berdaya.


“Maaf, Tuan. Aku tak bermaksud melukaimu. Tapi kau yang memulainya lebih dulu,” ucap Mervin, lalu pergi dari sana.


Tuan Anderson menatap punggung Mervin dengan penuh kebencian, ia berjanji akan membalas kekalahannya hari ini, suatu saat nanti.


“Aku akan balas semua kekalahanku hari ini. Dan aku juga akan mencari tahunya sendiri bagaimana cara menuju ke masa lampau ke tempat surga harta karun berada,” seloroh Tuan Anderson sembari tertawa lebar, hingga ia melupakan rasa sakit di sudut bibirnya yang memar.

__ADS_1


__ADS_2