Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah

Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah
Eps. 44 Pintu Dimensi Muncul


__ADS_3

Mervin yang terus terjun bebas ke bawah dan tak ingin nyawanya melayang saat ini mencoba menyelamatkan dirinya. Ia meraih apa saja yang ada di dekatnya untuk menahan tubuhnya.


Akh! untuk beberapa saat ia berhasil menangkap dinding gunung yang kasar dan menonjol. Namun sayangnya benda yang ia pegang itu tak kuat menahan tubuhnya dan patah.


Mervin kembali terjatuh ke bawah. Tatapannya nanar tatkala melihat api yang meletup-letup di bawah sana, seperti seolah-olah siap memasaknya. Membuat rongga dadanya kian sesak.


“Tidak! Jangan sekarang kumohon. Aku bersusah payah mencarinya dan tak ingin kehilangan,” pekik Mervin, tatkala satu-satunya berlian yang ia dapatkan dan ia genggam dengan erat pada tangannya terlepas, jatuh dari sana saat ia berusaha meraih pegangan lagi.


Berlian dalam genggaman tangannya jatuh dan pegangannya lepas. Tak ada yang bisa ia harapkan sekarang.


“Setidaknya aku bisa membawa kembali berlian yang kutemukan tadi. Kenapa tadi aku tak mencoba mengambil banyak sekali Mungkin saja aku bisa membawa pulang lebih dari satu,” sesal Mervin. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang.


“Apapun caranya aku harus bisa membawa kembali berlian itu. Belum tentu aku bisa mendapatkannya lagi,” tekad Mervin kuat.


Pria itu lalu malah bergerak seolah mempercepat dirinya agar jatuh ke bawah dengan tujuan untuk menangkap berliannya tadi.


“Dapat! Aku mendapatkannya!” seru Mervin.


Ia pun segera menyelipkan berlian tersebut ke saku baju celana yang malunya sempit dan bisa menahan berlian tersebut tidak jatuh kembali.


Sekarang mitranya terpaku pada letupan apa panas di depannya dia hanya bicara 10 meter saja. ya paksakan pikirannya yang kacau untuk tenang dan berpikir mencari jalan keluar.


“Aku tidak tahu pasti tapi tak ada salahnya aku mencoba.” Di tengah pikirannya yang kalut dan jarak semakin terkikis yang menyisakan jarak lima meter saja, Mervin terpikirkan sebuah ide.


Ia meraba jam yang melingkar di tangan kanannya lalu segera menarik tuasnya. Untung saja topi milik Kakek Ethan masih tergantung di lehernya.

__ADS_1


Mervin sebenarnya tak suka memakai topi. Ia menyiasatinya dengan mengikat tali topi itu pada lehernya sehingga topi itu tetap tergantung di sana dan tidak jatuh.


“Aku mohon pintu dimensi ke masa lampau muncul lah,” gumam Mervin.


Ia sudah pasrah jika nyawanya benar-benar melayang kali ini setelah melakukan upaya dan usaha meskipun hasilnya sia-sia belaka. Karena jarak semakin terkikis dan menyisakan satu meter saja sebelum ia benar-benar masuk dalam lava panas yang akan membuatnya matang seketika.


Mervin sampai tak berani membuka matanya. Ia benar-benar pasrah...


Gwen, maafkan aku. Aku tak bisa menepati janjiku untuk pulang ke rumah dan bersamamu hingga ujung waktu bersama anak cucu kita.


Brak! Tiba-tiba Mervin merasa kepalanya membentur sesuatu yang keras.


Kenapa aku seperti membentur sebuah pintu. Bukankah aku seharusnya masuk dalam kubangan lava?


Mervin memberanikan diri membuka matanya dan ternyata dia membentur sebuah pintu dimensi yang seketika terbuka tepat di saat tubuhnya berada dalam jarak 30 senti, akan masuk ke dalam lava panas.


Setelah beberapa saat pintu tertutup, ia pun kembali terombang-ambing dalam ruang hampa di balik pintu dimensi. Entah ke mana pintu itu akan melemparnya ke masa lalu kali ini.


Tap! Beberapa saat kemudian dia mendarat.


Akh! Mervin mengangkat pantatnya terasa panas setelah terbentur jalanan yang keras untuk berdiri.


“Di mana aku berada sekarang?”


Dilihatnya sekitar dengan seksama. Ia berada di tempat asing yang tak dikenalnya. Kembali ia berada di sebuah jalanan ramai.

__ADS_1


Dia berdiri di tepi trotoar. Di depannya ada sebuah jalan raya. Tak ada kendaraan bermotor yang lewat di sana. Hanya ada pejalan kaki yang berseliweran memadati jalan.


Bugh! seseorang berjalan dengan cepat di depannya kemudian menyenggol bahunya, seorang pria yang berjalan dengan tergesa-gesa.


Hiss!


“Maaf, Tuan. Aku tak sengaja menabrakmu.”


Mervin masih terkejut saat pria itu bicara padanya. Bagaimana bisa pria tadi itu menyentuhnya dan malah kini bicara padanya?


Berarti orang ini bisa melihatku?


“Tak apa, Tuan.”


Mervin memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh pria itu, pakaian dengan tampilan kuno. Warna tuxedo di zaman ini merupakan warna cerah.


Jenis model pakaian kerja pria seperti itu adalah model pakaian kerja seorang pria di tahun 1950.


“Tuan, maaf bertanya padamu jika boleh. Ini di mana dan tahun berapa?”


Pria asing yang menabrak Mervin barusan nampak mengerutkan keningnya sebelum menjawab.


Pria ini aneh sekali bertanya begitu padaku.


Lalu ia perhatikan pakaian yang dikenakan oleh Mervin sangatlah berbeda dengan dirinya.

__ADS_1


Dari mana pria ini berasal? Apakah dia berasal dari kota lain?


“Tuan ini tahun 1951. Dan ini adalah kota London. Permisi aku buru-buru.”


__ADS_2