Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah

Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah
Eps. 8 Harta Karun Kedua


__ADS_3

Eric yang gusar kembali mencarinya. Ia melihat ada tiga buku di sebuah meja dan satu buku terbuka. Tapi tak menemukan sosok Mervin di sana.


“Sembunyi di mana dia?!” geramnya, mengira menantu sampahnya itu takut lalu bersembunyi.


Mervin! Keluar kau!” sentaknya, namun tak ada respon.


Hening.


“Sembunyi di mana dia?”


Eric yang yakin jika menantu tak bergunanya itu bersembunyi di ruang baca berjalan dengan cepat dan menggeledah setiap tempat itu.


Ia menuju ke setiap sudut, bahkan membuka sebuah ruangan kecil di sana yang tertutup dan ternyata tak ada pula.


“Mervin! Keluar kau!” sentaknya lebih marah lagi.


Namun tetap saja tak ada respon. Bahkan ia menghitung sampai hitungan kelima dengan mengacam juga, namun tak ada jawaban atau nampak Mervin muncul dari suatu tempat.


“Benar-benar anak ini!”


Eric yang tetap tidak menemukan keberadaan menantunya itu keluar dari ruang baca. Sekali lagi, dia menyisir rumah untuk mencari keberadaan Mervin.


“Pintar sekali dia bersembunyi seperti tikus. Entah di mana dia bersembunyi,” umpatnya kesal.


Daripada membuang waktu di sana maka Eric pun memutuskan untuk pulang saja.


Deru motor terdengar berisik dan meninggalkan rumah Kakek Ethan setelahnya.


Akh! Mervin masih berteriak menahan rasa sakit.


Entah kenapa kali ini perjalanan ke masa lalu terasa sakit, tak seperti pertama kalinya ia ke sana.


Setelah berputar-putar dalam ruang hampa selama 3 menit akhirnya dia jatuh di sebuah tempat.


“Di mana aku?”

__ADS_1


Mervin segera bangkit dan melihat ke sekitar. Ia lagi-lagi berada di sebuah tempat yang gelap. Tapi tidak, kali ini tempat itu tidak terlalu gelap seperti sebelumnya. Remang.


“Jadi, aku terlempar kah masa lampau?!” pekiknya girang, setelah yakin dia berpindah tempat dan bukan mimpi.


Seingatnya tadi, jamnya berhenti berdetak tanpa sebab dan lagi ia tak mengutiknya sama sekali. Lantas, bagaimana dia bisa terlempar ke masa lampau?


“Sudahlah, aku akan pikirkan itu nanti. Jika aku terlempar ke masa lalu berarti aku bisa mencari harta karun lagi,” lirihnya tersenyum tipis.


Sebenarnya sudah lama ia memang ingin kembali ke masa lampau untuk mencari harta karun tapi terkendala tak bisa masuk ke sana dan belum menemukan jalan serta cara menuju ke sana.


Mervin lalu berjalan untuk mencari pintu keluar. Untungnya ia membawa korek api tadi.


Klak!


Mervin menyalakan korek apinya lalu berjalan menyisir tempat tersebut.


Dengan nyala korek apinya, ia bisa melihat dengan jelas. Jika dirinya berada di sebuah ruangan.


Ia terus berjalan dan menyisir tempat kosong yang menurutnya seperti rumah itu.


Mervin tidak tahu, sekarang ini siang atau malam. Karena bisa saja ada perbedaan waktu di masanya dia tinggal dan tempatnya berada saat ini.


Ia mematikan korek apinya kembali untuk menghemat bahan bakarnya juga, agar tidak habis.


“Pintu?”


Ada pintu di depannya. Langsung saja Mervin menarik tugasnya dan pintu terbuka.


Rupanya di luar masih siang. Terlihat sinar matahari masih bersinar dengan terang.


“Di mana ini sebenarnya?”


Mervin berhenti dan berbalik menatap tempat yang ada di belakangnya. Sebuah rumah kuno bergaya Eropa dan nampak usang, karena lama terbengkalai.


Sedangkan di depannya terhampar semak belukar lebat. Di samping kanan dan kirinya terbentang sungai dan gunung.

__ADS_1


“Jalan satu-satunya hanyalah semak lebat di depan ini,” celetuknya, berpikir taktis.


Meski tak tahu ada apa di depan sana, Mervin nekat melewati semak lebat tersebut. Karena tak ada jalan lain lagi.


Mungkin lain kali aku harus siap sedia pisau lipat ataupun sejenisnya jika sewaktu-waktu terlempar masa ini, jadi bisa kupakai untuk menebas semak seperti ini, batinnya saat kesulitan menyingkirkan beberapa semak yang menutupi jalan utama.


Sejauh mata memandang hanya ada hamparan semak belukar di sana. Tak ada makhluk hidup lainnya, selain dirinya.


Ia terus berjalan hingga melihat sebuah goa yang berada tiga meter di depannya.


“Goa di tengah hutan belantara begini? Ku harap itu bukan sarang ular dan sejenisnya,” desisnya.


Namun Mervin tetap penasaran dan ingin melihat apa isi di balik goa tadi.


Ia mempercepat langkahnya dan tiba di depan mulut goa.


“Di dalam sana pasti gelap,” gumamnya, lalu mencari kayu atau sejenisnya yang bisa dijadikan penerangan.


Mervin melihat banyak batang kayu di dekatnya. Ia mengambilnya dua saja dan menyalakan pemantik apinya.


Benar saja, di dalam ternyata gelap gulita. Untungnya nyala dua obor yang dibawanya bisa menerangi.


Ada jerami di sana berukuran besar, 2 kali lipat dari ukuran jerami normalnya yang membuatnya merinding. Jangan-jangan ada phyton di dalamnya.


Mervin terus berjalan dengan was-was, juga waspada. Saat hampir berada di ujung goa, ada sinar terang berkilauan di balik tumpukan jerami.


“Apa itu?”


Karena penasaran, ia pun membongkar jalannya tersebut untuk melihat ada apa di dalamnya.


“Telur emas dengan simbol penjaga dua ular naga?” pekiknya terkejut.


Benda itu mirip sekali dengan benda yang tadi dibacanya pada buku di rumah Kakek Ethan, telur emas dari zaman era Dinasti Zhou.


“Astaga! Aku menemukan harta karun!” pekiknya girang.

__ADS_1


Ia pun segera kembali dengan membawa telur tadi keluar dari goa, namun di tengah jalan ia mendengar suara mendesis.


“Anaconda?!” pekiknya terkejut, bahkan sampai ia mundur saking takutnya.


__ADS_2