
Mervin yang penasaran pada cara kembali ke masa lampau masih mengutak-atik jam tangannya.
“Apa aku harus membongkar mesinnya lagi?” gumamnya, karena sebelumnya dia terlempar ke masa lalu saat membongkar dan memperbaiki mesin jam tersebut.
Mervin lalu mencoba untuk membongkar jam tersebut, kemudian memasangnya kembali.
“Ternyata aku belum pindah tempat, dan masih ada di sini,” pekiknya, mendapati dirinya masih berada di rumah Kakek Ethan.
“Lalu apa ada cara lain agar pindah ke sana?”
Mervin kemudian berpikir dan dia teringat saat itu jamnya mati lalu dia terlempar ke masa lalu.
“Apa aku harus mematikan jam ini?”
Ia lalu menarik tuas jarum jam dan membuatnya berhenti berdetak.
Saat jam berhenti berdetak ia pun meminjamkan matanya. Tiga detik kemudian ia membuka matanya. Ternyata dia tidak terlempar ke masa lalu.
“Bagaimana caranya sebenarnya?” Kali ini dia benar-benar memutar otaknya. Berpikir keras.
Bahkan ia kembali mengutak-atik jamnya dan melakukan berbagai cara.
“Hah, aku menyerah. Aku tak tahu Bagaimana cara menuju ke sana,” desahnya putus asa.
Ia memakai kembali jam tangannya. Karena tak ada kegiatan lagi yang bisa dilakukannya maka ia pergi ke ruang baca.
Di ruang baca itu semua buku yang ada di sana memang buku mengenai sejarah dan historical lainnya termasuk barang-barang antik.
“Mungkin dengan membaca 1 sampai 3 buku sudah cukup bagiku.”
Mervin asal comot 3 buku dari rak buku lalu membawanya kembali ke meja.
Satu buku tebal berhasil ia selesaikan dalam waktu kurang dari 60 menit. Ia mengambil buku kedua dan mulai membacanya.
Kali ini halamannya lebih tebal dari buku pertama, dan butuh waktu lebih lama tentunya untuk menyelesaikannya.
__ADS_1
“Barang antik ini sungguh menakjubkan,” gumamnya melihat gambar sebuah telur dengan dua ular naga di sisi kanan dan kiri telur dari Dinasti Zhou.
Mervin melanjutkan membuka gambar-gambar lainnya.
“Apa ada barang antik seperti ini di dunia ini?” gumamnya lagi melihat gambar patung kristal Dewi Venus yang berkilau seperti permata.
Dua jam berikutnya Marvin Mengambil buku ketiga setelah menyelesaikan buku kedua.
Baru seperempat halaman saja ia sudah menguap dan matanya berair.
“Ngantuk sekali rasanya.”
Ia menutup mulutnya dan beberapa saat setelahnya kepalanya sudah bersandar di atas buku. Matanya juga terpejam.
Satu jam berikutnya di luar. Tampak Eric sedang mengendarai mobilnya seorang diri. Entah dari mana pria itu pergi.
Tak sengaja ia melewati rumah kakeknya Mervin. Refleks ia menoleh ke samping kiri dan melihat rumah tersebut.
“Rumah itu...”
Eric melihat ada sebuah kunci tergantung di lubang kunci pintu bagian luar. Dan itu mengindikasikan jika pintu itu tidak dikunci. Alias ada yang masuk ke sana.
“Apakah Mervin ada di dalam sana?” pekiknya, karena siapa lagi yang punya kunci rumah itu selain menantu sialannya.
“Dasar pemalas dia! Rupanya dia tidak bekerja hari ini dan malah bermalas-malasan di rumah kakeknya! Awas saja jika aku menemukanmu ada di sana serta terbukti bermalas-malasan, akan ku hajar lagi kau!”
Eric pun langsung menghentikan mobilnya. Dia berjalan terburu-buru masuk ke rumah.
Brak! Eric membuka pintu dengan kasar.
Di dalam rumah ia melihat ada sepasang sepatu kets berwarna biru gelap.
“Mervin, jadi kau memang ada di sini!” gusarnya melihat sepatu yang memang dia hafal sebagai milik menantunya.
“Di mana dia?!”
__ADS_1
Eric semakin terlihat geram saja setelah melihat sepatu Mervin. Ia segera menyisir rumah tersebut untuk mencarinya.
“Mervin!” panggilnya, dengan membentak.
Bahkan suaranya itu terdengar sampai ke seluruh isi ruangan.
Mervin yang masih tidur samar-samar mendengar suara seseorang yang memanggilnya.
Siapa yang memanggilku? batinnya masih dalam keadaan terpejam.
Makin lama suara yang didengarnya itu semakin keras juga jelas.
“Hah! Itu suara ayah!” pekiknya terkejut hingga membuatnya sadar dan bangun dari tidurnya, karena saking takutnya.
Ia yakin itu suara ayah mertuanya. Bahkan dalam mimpi pun dia tetap bisa mengenali suara khas berat dan tinggi itu.
“Kenapa dia kemari?”
Pikiran Mervin langsung negatif apalagi mendengar nada penting dan kasar seperti itu. Sudah dipastikan pria itu akan marah padanya. Ia juga tak tahu bagaimana bisa Ayah mertuanya itu tahu dirinya ada di sini?
“Mervin!” Kali ini suara itu terdengar semakin nyaring dan sepertinya ada di jarak dekat dari ruang baca berada.
Aku tidak ingin bertemu dengannya. Tapi bagaimana caranya aku menghindar? Sungguh aku sedang malas dan tak ingin berurusan dengan dia saat ini, decaknya dalam hati.
“Mervin!”
Mervin kemudian melihat jam tangannya. Seandainya saja ia bisa kembali ke masa lalu maka tak perlu bertemu dengan ayah mertuanya itu.
“Mervin!”
Eric tiba di ruang baca menyisir semua ruangan dan tak menemukan keberadaan menantunya.
“Di mana dia?!”
Ternyata Mervin juga tak ada di ruang baca. Ia lalu mendengus kesal dan keluar dari sana sembari membanting pintunya dengan keras.
__ADS_1
Akh! Teriak Mervin yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain, ke masa lalu.
Ia berputar-putar di udara hampa dan merasakan sekujur tubuhnya seperti diremas.