
“Apa kau tak ingat, jika aku sering membantumu?” ucap Tuan Anderson lagi, mengingatkan.
Mervin terdiam dan tentu saja dia mengingat semuanya. Semua perkataannya dulu.
“Mervin, daripada kau duduk lama di sini menunggu pembeli lebih baik kubeli semua koranmu agar kau bisa cepat pulang.”
“Mervin, tinggal berapa koranmu hari ini? Sini biar kubeli.”
“Mervin, ini kembaliannya ambil saja, bisa kau buat modal untuk beli koran lagi.”
Di antara sekian banyak pembelinya ada beberapa pelanggan tetap, salah satunya memang Tuan Anderson.
Menurutnya memang pria itu baik. Koran Mervin hampir setiap hari habis karena dibeli oleh Tuan Anderson, dan beberapa pria lain.
Dan oleh Tuan Anderson, koran tadi dibagikan pada pekerja di kantornya. Ya, dia adalah seorang manajer di sebuah perusahaan besar. Siapa saja yang mau boleh mengambilnya.
Tapi itu tidak setiap hari dilakukan olehnya, bisa seminggu sekali ataupun dua kali. Rutin seperti itu.
Tapi sekarang setelah mendengar pernyataan yang barusan, Mervin merasa semua kebaikan pria itu palsu. Palsu karena ternyata semuanya tidak tulus.
Palsu karena pria itu meminta balasannya. Palsu karena pria itu mengharapkan sesuatu darinya.
Jika saja ia tahu ternyata kebaikan pria itu selama ini padanya adalah palsu maka ia tentunya tak akan menerima kebaikan Tuan Anderson, meski itu seujung kuku pun.
Setidaknya, bisa bicara dengannya baik-baik tidak memaksa seperti ini mungkin pikirannya akan sedikit berbeda dengan sekarang padaTuan Anderson.
“Jika Tuan meminta semua uang yang sudah Tuan berikan padaku, aku akan mengembalikannya sekarang juga,” ucap Mervin, mencoba menebak apa yang dipikirkan dan diminta pria itu.
Namun sepertinya Mervin salah tebak. Bukannya Tuan Anderson senang dengan ucapannya, tapi pria itu semakin terlihat emosi saja mendengarnya. Padahal dia tak punya maksud lain, apalagi untuk mencari masalah dengannya.
Tidak!
“Sombong sekali kau bocah! Baru kaya sedikit saja sudah berlagak! Kau bilang kau mau mengembalikan semua uangku yang kuberikan padamu?!” decaknya, sembari mencebik.
Tuan Anderson merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Mervin dengan mengatakan akan mengganti semua uangnya. Anak ingusan kemarin sore, berani menantangnya. Tentu saja ia pun tertantang pada akhirnya.
Bugh! Langsung saja pria itu melayangkan pukulan ke muka Mervin.
“Tuan Anderson, Anda salah paham dengan maksudku,” balasnya, sembari menangkis serangan.
__ADS_1
Mervin hanya menangkis tidak membalas karena ia masih mengingat kebaikan orang itu meskipun tidak suka dengan perkataannya.
“Salah paham bagaimana? Semuanya sudah jelas. Kau kira uangmu yang sekarang itu lebih banyak dari uangku? Jadi kau bilang mudah begitu, untuk menggantinya?! Aku menyesal sekali telah membantumu selama ini ternyata kau seperti ini!” makinya panjang lebar.
Mervin diam. Karena menurutnya pria itu sudah salah paham, tapi bagaimanapun juga ia menjelaskannya, sepertinya Tuan Anderson tetap tak bisa menerima. Atau tak mau mengerti?
“Cepat bawa aku ke tempat kau mendapatkan barang antik!” titah Tuan Anderson, semena-mena.
Pria itu beralih menarik kerah baju Marvin dengan kasar dan bersiap melayangkan tangannya untuk memukul.
Tatapan matanya sangat mendominasi dan juga mengintimidasi.
“Antarkan aku ke sana, ke tempat kau menemukan banyak barang antik! Cepat!” hardiknya, kasar.
Mervin mencoba untuk bernegosiasi.
“Tuan, Bagaimana jika aku memberimu sejumlah uang? Katakan saja berapa aku akan mengusahakannya,” ucapnya, tidak dengan nada tinggi ataupun nada sombong.
Tapi tetap saja sekali benci, Tuan Anderson tetaplah benci dan itu tak bisa merubah pemikirannya, malahan semakin membuatnya semakin benci pada kesombongan Mervin.
“Aku tak butuh uangmu! Aku hanya ingin kau mengantarku saja ke tempat sumber barang antik itu berada!” hardiknya lebih kencang.
“Maaf, aku tidak bisa, Tuan.”
“Baik, jika itu keputusanmu. jangan salahkan aku bertindak kasar!”
Bagh!
Bugh!
Bagh!
Tuan Anderson, langsung memberondongkan pukulan bertubi-tubi pada Mervin.
“Tidak! Mervin!” teriak Gwen dari kejauhan, saat melihat lelakinya diam saja dihajar pria asing yang tak dikenalnya.
Bahkan Mervin saat ini babak belur, karena ia tak melawannya.
Mervin lawan dia, jangan diam saja, batin Gwen, sampai meremat tangannya gemas.
__ADS_1
Mervin menatap sekilas Gwen yang tampak gemetar. Ia pun tersadarkan hendak ingin membuat wanitanya itu khawatir pada dirinya.
“Maafkan aku Tuan Anderson, kau duluan yang memulainya.”
Mervin kini bangkit dan membalas semua serangan Tuan Anderson. Ia balas memukul pria itu bertubi-tubi hingga jatuh terjerembab ke tanah.
Cih! Tuan Anderson bangkit dan mengusap sudut bibirnya sedikit berdarah telah terkena pukulan Mervin.
Langsung saja dia memanggil bala bantuan. Ia kerahkan anak buahnya seperti biasanya di saat terdesak.
“Hajar dia!” titahnya, setelah lima orang utusannya datang.
Lima orang itu segera maju mengikuti perintah bosnya dan menghajar Mervin. Tentu saja dikeroyok orang seperti itu membuat Mervin kalah.
Tak hanya membuat Mervin tak berdaya, Tuan Anderson juga kini menyandera Gwen.
“Mervin, tolong aku!” rintih Gwen, saat Tuan Anderson meremat kedua pipinya yang mulus.
“Kau mau istrimu ini selamat?!” ucapnya, dengan menunjukkan sering senyum di bibirnya.
“Lepaskan dia!” hardik Mervin, saat lima algojo Tuan Anderson memeganginya.
Namun Tuan Anderson sengaja membuat pertunjukan untuk mengaduk-aduk emosi Mervin. Ia bahkan tak segan menyanyat tipis leher Gwen dan membuatnya berdarah.
“Hentikan, Tuan Anderson! Aku akan melakukan apapun yang kau minta asal kau mau melepaskan dia!”
Memang kata itu yang ditunggu-tunggu oleh Tuan Anderson sedari tadi.
“Oke, aku akan melepaskan istrimu dan sebagai gantinya kau harus membawaku ke tempat harta karun itu berada.” ucapnya, dengan seringai senyum licik.
Mervin pun terpaksa tunduk daripada terjadi sesuatu pada Gwen.
“Baiklah, aku akan membawamu ke sana,”
Mervin belakangan ini sudah mengetahui cara menuju ke masa lampau dengan sadar. Cukup dengan menghentikan waktu, keinginan pergi ke masa lampau dan keadaan terdesak.
Tak! Mervin menarik tuas jam tangannya dan waktu berhenti seketika, di saat itu pula ya berharap bisa kembali ke masa lampau.
Zap! Tiba-tiba muncul sebuah pintu di depannya.
__ADS_1
Mervin lalu masuk ke pintu dimensi yang menghubungkan ke masa lampau. dan tanpa diperintah, Tuan Anderson pun berlari masuk ke pintu tersebut.