Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah

Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah
Eps. 23 Tawaran Kerja Sama


__ADS_3

“Cepat! Panggil Mervin kemari segera!” hardiknya lagi, tak ingin menunggu lama.


“Y-ya....” jawab Eric, dengan gemetar.


Sebelum pria misterius da kasar itu melakukan sesuatu yang lebih membuatnya takut, maka ia pun segera pergi dari sana.


Mervin...! Ini semua gara-gara kau! Sudah kubilang untuk tidak membawa tamu asing atau aneh kemari, tetap saja kau melakukannya, geramnya kesal.


Ingin sekali ia membuat babak telur menantu sampahnya itu lagi seperti sebelumnya.


Brak!


“Ayah, ada apa?” tanya Mervin, kaget. Tiba-tiba saja mertuanya itu masuk dengan membuka pintu secara kasar.


Feeling-nya sudah buruk melihat pintu yang digebrak begitu.


Pasti ada sesuatu, batin Mervin.


“Keluar kau sekarang juga!” hentaknya, geram, dengan mata yang membuat penuh.


“Ayah, ada apa?” Kali ini Gwen yang balik bertanya, sampai memegangi ayahnya pulang khawatir pria itu akan memukul lelakinya.


“Keluar! Dan temui tamumu yang brengsek seperti dirimu, di depan sana!” hardiknya lagi, sampai semua otot di rahangnya terlihat kaku.


“Tamu?” Mervin mengerutkan keningnya. Ia tak ada janji dengan siapapun malam ini.


Tapi melihat kemarahan mertuanya, dia sudah bisa menebak tamu itu pasti pembeli barang antik. Karena selama ini yang mencarinya hanyalah kolektor dan pembeli biasa yang ingin mengoleksi barang antik miliknya.


“Gwen, kau mau ke mana?!” ucap Eric, langsung menarik Gwen, menghalanginya keluar mengikuti Mervin.


“Aku ingin menemui tamu itu bersama Mervin, Ayah. Lepaskan aku,” rontanya, namun ayahnya tidak melepaskannya.


“Kau di sini saja. Aku tak mau sesuatu terjadi padamu.”

__ADS_1


Eric melepas Gwen, tapi setelahnya dia menutup pintu bahkan menguncinya dari luar. Semua itu bukan tanpa alasan ia lakukan, tapi demi keamanan Gwen. Mengingat di depan tadi pria gila itu mengancam akan membunuhnya, bisa jadi itu dia lakukan pada Gwen pula.


“Ayah, tolong bukakan pintunya,” pinta Gwen sembari memukul-mukul pintu.


Sayang sekali, Eric sudah pergi dari sana. Dia juga khawatir pada istrinya, maka langsung menuju ke ruang belakang.


Itu kan suara Gwen, seperti mengucap sesuatu?! batin Mervin, di tengah jalan.


Ia berniat akan balik untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Gwen.


“Tak mungkin ayah akan melukai putranya sendiri,” desisnya, setelah mempertimbangkan.


Mervin meneruskan langkahnya kembali menuju ke depan.


“Anda....” Mervin menautkan kedua alisnya, sedikit familiar dengan sosok pria itu.


“Wilson,” ujarnya menyebut namanya.


“Oh, ya, Tuan Wilson. Ada yang bisa kubantu?” balasnya, setelah ingat.


Tuan Wilson adalah boss di sebuah pertokoan di jalanan biasa ia mangkal untuk menjajakan koran dulu. Ia merupakan pemilik ruko yang disewakan ada banyak penjual di sana.


Di kala senggang, pria itu sering mengobrol dengan Mervin. Bahkan Mervin pun dulu pernah minta pekerjaan padanya. Tapi pria yang punya banyak link itu tak mau membantunya dengan berbagai alasan. Salah satunya karena pengalaman kerjanya yang hanya seorang loper koran dan ijazahnya yang hanya lulusan SMU.


“Ya, aku kemari untuk menawarkan kerjasama denganmu,” ucap Tuan Wilson langsung.


“Kerja sama seperti apa yang Tuan, maksud?” balasnya, karena memang tak mengerti.


“Mitra emas.” Mervin masih mengerutkan keningnya, semakin tak mengerti.


Tuan Wilson lalu menjelaskan secara gamblang. Ia bersedia memfasilitasi Mervin untuk promosi juga menyediakan tempat untuk menjual semua barang antiknya secara gratis, tapi sebagai gantinya, ia minta bagi hasil.


“Aku senang sekali atas tawaran kebaikan kerjasama Anda, Tuan. Tapi menurutku, itu tidak fair,” tolaknya langsung.

__ADS_1


Meskipun Mervin bukanlah lulusan sarjana seperti lainnya tapi dia masih bisa berpikir dengan taktis jika pria itu hanya ingin memanfaatkan dirinya saja.


Tuan Wilson menawarkan semua fasilitas gratis padanya tapi dia minta bagi hasil fifty:fifty. Sedangkan menurut perkiraannya hasil penjualannya tidak sepadan dengan semua yang diberikan oleh Tuan Wilson.


“Tidak fair bagaimana? Kau tahu sendiri menyewa satu ruko di tempatku itu berapa harganya lalu ditambah lagi dengan promosi, bisa kau perkirakan sendiri. Itu tidak kecil.”


“Tuan, harga sewa ruko plus biaya iklan jauh di bawah harga perolehan penjualanku. Apa itu sepadan?” balas Mervin, memperjelas tanpa maksud menggurui.


Karena ia sadar dirinya bukanlah orang berpendidikan, makanya tidak menjadi pekerja kantoran seperti kebanyakan pria lainnya.


Ternyata dia tidak bodoh juga, batin Tuan Wilson.


“Jika begitu aku bisa menambahkan beberapa pengamanan di area itu gratis agar sepadan,” selorohnya, membujuk Mervin.


Huft! Mervin menghembuskan nafas berat, karena masih tak imbang, namun Tuan Wilson terus mendesaknya.


“Tuan, Bagaimana jika aku menempati salah satu ruko dan menyewanya saja? Menurutku itu lebih fair.” ucapnya, karena seimbang. Take and give.


Dulu menurutku pria ini bodoh tapi sekarang dia cerdas. Apa kaya dalam waktu singkat bisa meningkatkan iq-nya? batin Tuan Wilson, hampir kehabisan ide untuk membujuk Mervin.


“Bagaimana jika tetap seperti awal tapi keuntungannya berbeda bagi hasilnya, 60:40. Bagaimana?” desaknya, sedikit memaksa.


Mervin diam, menurutnya hal itu tetap merugikan dirinya dengan sistem pembagian yang kelihatannya banyak seperti itu.


Padahal tanpa perlu tempat ataupun iklan dia sudah mendapatkan keuntungan banyak. Terlebih soal iklan, Gwen rajin memposting di akun media sosial dan menurutnya itu sama saja. Bahkan malah lebih efektif.


“Maaf, Tuan. Aku tetap menolak bekerja sama denganmu,” jawabnya tegas.


Brak! Tuan Wilson pun yang kehabisan ide dan kesabaran sampai menggebrak meja.


Tak hanya membuat rumah berisik tapi kali ini dia sudah berdiri dan mencengkram kerah Mervin.


“Tuan, apa yang Anda lakukan?”

__ADS_1


__ADS_2