
“Urusanmu denganku belum selesai. Mungkin tak akan selesai sampai kau mau mau menunjukkan caranya padaku bagaimana menuju ke tempat itu!” Tuan Anderson mengajukan penawaran.
“Berharap saja! Pertama aku takkan pernah memberitahukan jalan menuju ke sana pada orang serakah sepertimu. Kedua, aku tak akan pernah memaafkan apalagi mengampuni orang yang sudah menyentuh keluargaku dan membuatnya menderita. Ingat itu!” Mervin menolak dengan tegas.
Duel mereka berdua pun kembali berlanjut. Sudah beberapa kali mereka beradu pukulan juga tendangan.
Tuan Anderson yang sebelumnya pernah kalah melawan Mervin, sudah mengantisipasinya sehingga kedudukan saat ini menjadi seri di antara keduanya.
“Hanya segitukah kekuatanmu?” hina Tuan Anderson.
Mervin mencoba untuk tenang dan tetap fokus pada serangannya, tak peduli lawannya kali ini kembali menghinanya dengan hal lain.
Semakin banyak kau bicara maka aku semakin besar kesempatanku mencari selah, batin Mervin.
“Apa kau tuli? Kenapa tak menjawab pertanyaanku sama sekali? Atau kau memang tak punya nyali?” tanya Tuan Anderson memancing.
Mervin masih tak menggubrisnya juga. Ia fokus, bahkan teramat harus mencari titik lemah lawannya.
“Mervin, hati-hati! Dia orang yang berbahaya!” Eric mengingatkan. Entah kenapa tiba-tiba dia khawatir pada menantu sampahnya.
Baru pertama kali ini, Mervin merasa diperhatikan oleh ayah mertuanya meskipun itu sedikit saja perhatian yang diberikan padanya.
“Ayah...” Mervin sampai menatap ayah mertuanya itu.
Terlihat dengan jelas, ia terharu karenanya.
“Ucapkan salam perpisahan sebelum kalian berdua benar-benar hilang dari muka bumi ini!” kata Tuan Anderson dengan keras.
Mervin memejamkan matanya untuk sejenak dan kemudian saat matanya terbuka ia sudah menemukan titik mematikan di bagian tubuh lawannya.
__ADS_1
“Sekarang kau harus mengucapkan salam perpisahan denganku,” ujar Mervin. Senyum terbit di bibirnya.
Akh! Tuan Anderson menjerit saat Mervin menyerang titik vitalnya di bagian tengkuk.
Pria itu ambruk seketika ke lantai. Meskipun masih bernafas. Mervin tidak membunuhnya karena dia bukanlah seorang pembunuh.
Mendengar suara berdebum di lantai membuat Gwen yang ada di belakang sana ketar-ketir mendengarnya.
Apakah itu Mervin kalah? Ataukah ayah kembali diserang? Atau Marvin yang mengalahkan lawan? batin Gwen, cemas juga bimbang.
Gwen yang tidak tahu siapa yang kalah barusan, segera berlari ke depan.
“Gwen, tunggu! Kau mau ke mana?” ujar Ibunya Gwen, menarik lengan putrinya.
“Aku mau ke depan, Bu!” Gwen menarik tangannya dan terus berlari meskipun ibunya kembali memanggil dan memintanya berhenti.
Semoga saja bukan Mervin yang kalah, harap Gwen dalam hati.
“Aku tidak apa, Gwen tenanglah. Tapi Ayah...”
Gwen segera melepas pelukannya. Ia kemudian menghampiri ayahnya yang tergeletak di lantai.
“Ayah! Apa kau baik-baik saja?” pekiknya histeris, melihat kondisi ayahnya yang benar-benar parah.
Mervin menghampiri Gwen dan berjongkok di samping Eric.
“Sebaiknya kita cepat bawa Ayah ke rumah sakit saja,” saran Mervin.
Tepat di saat ibunya keluar, ambulans datang dan membawa Eric ke rumah sakit.
__ADS_1
***
Di rumah sakit
Petugas medis segera melakukan pertolongan pertama pada Eric.
“Bagaimana kondisi ayah?” gumam Gwen, nampak cemas.
Berulang kali dia berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD tempat Eric dirawat. Sudah tiga jam lebih ia menunggu bersama lelakinya juga ibunya namun petugas medis belum keluar sampai sekarang.
Klak! Satu jam berikutnya pintu terbuka. Dokter dan petugas medis keluar dari sana.
Gwen dan ibunya segera menghampiri dokter.
“Bagaimana keadaan ayahku, dokter?” tanya Gwen resah.
“Pasien sudah melewati masa kritis. Semua luka luar sudah dirawat. Hanya saja tulang kaki kirinya patah.” Dokter menjelaskan kondisi pasien.
Gwen, ibunya dan juga Mervin terlihat bersedih. Setelah kepergian dokter dan petugas medis mereka masuk ke ruangan. Saat itu ternyata Eric sudah sadarkan diri.
Tubuhnya penuh luka memar dan luka sayat akibat duel dengan Tuan Anderson tadi. Beberapa juga ada yang dijahit karena lukanya parah. Jika tidak dijahit luka itu akan mengalami infeksi atau lebih parahnya lagi bisa membusuk.
“Apakah aku kehilangan kakiku?” tanya Erik, pada Gwen.
“Tidak Ayah. Kakimu hanya patah. Tapi dokter sudah merawatnya. Dan nanti akan segera sembuh.” Kali ini Mervin yang menjawab.
Eric tampak diam menatap Mervin. Ia masih teringat seperti apa tadi menantu sampahnya itu bertarung melawan Tuan Anderson untuk membela dan metelamatkan dirinya.
Dia adalah menantu yang kuhina selama ini sebagai menantu sampah dan lemah. Ternyata dia kuat dan bisa menyelamatkan aku, batin Eric masih menatap Mervin.
__ADS_1
Hati kecilnya sedikit terketuk atas perbuatan Mervin padanya. Namun ia merasa malu, teramat malu pada semua yang telah ia perbuat pada Mervin. Hingga dia langsung memalingkan pandangan dari Mervin.
Ayah, ternyata dia masih membenciku, meski aku sudah menyelamatkannya. Semua usahaku tak bernilai di matanya, batin Mervin merasa dadanya sesak.