
“Kalian berdua kenapa sedari tadi tak kunjung keluar dari kamar?!” bentak Eric di depan kamar Gwen.
Pria itu nampak geram, karena sudah pukul 09.00 tapi baik Gwen maupun Marvin belum ada yang keluar dari kamar.
“Apa yang kalian berdua lakukan hah? Ini sudah hampir siang!”
Mervin dan Gwen yang saat itu tertidur segera membuka matanya.
“Ayah marah, bagaimana ini?” tanya Mervin, kini mendengar pintu kamar mulai digedor.
Bukan tanpa alasan mereka berdua bangun kesiangan. Mereka berdua lelah. Mervin kehabisan tenaga setelah sehari sebelumnya menghadapi penyusup asing di depan rumah Kakek Ethan.
Penyusup itu entah utusan siapa, yang jelas ingin menggasak harta karun miliknya. Sehingga Mervin berduel habis-habisan dengannya untuk mempertahankan harta karun tersebut. Lagi penyusup yang datang kali ini lebih kuat dari biasanya.
“Biar aku saja yang buka.” Gwen langsung bangkit dari ranjang untuk membuka pintu.
Klak!
Setelah pintu terbuka, Eric segera masuk begitu saja. Tatapannya langsung terkunci pada menantu sampahnya.
“Mervin! Kau ini benar-benar keterlaluan! Enak saja kau bermalam di sini bersama putriku sampai bangun kesiangan!!” hardiknya, tanpa perasaan.
Eric semakin besar melihat Mervin yang masih meringkuk di bawah selimut dan terlihat sebelah tangannya menyembul dari selimut tanpa selembar kain yang membungkusnya. Itu menandakan pria itu sedang tidak memakai baju.
Shat! Eric yang semakin marah, menarik selimut itu lalu melemparnya ke lantai.
Biji matanyapun mulai memindai double Melvin dari atas hingga ujung kaki.
Ada banyak luka lebam dan sayatan di punggung serta dada Mervin, bekas di obati.
Jadi... dia tidak bersenang-senang bersama putriku tapi karena luka?! pekik Eric dalam hati.
__ADS_1
“Bangun! Kenapa kau masih bermalas-malasan begini!” Meskipun tahu keadaan Mervin seperti apa ternyata tetap tak menyurutkan kemarahannya.
“Maaf, Ayah.” Mervin kemudian bangun dengan susah payah.
“Kenapa masih duduk? Cepat keluar dan kerja!” hardiknya lagi, tak punya perasaan.
Daripada mendengarkan teriakan yang lebih nyaring lagi, Mervin memilih untuk turun dari ranjang meskipun dengan susah payah.
“Cepat!”
Mervin hanya mengelus dada sambil berjalan keluar dari kamar dengan dibantu Gwen.
“Ayah, jangan terus-terusan meneriaki Mervin. Apa Ayah tak lihat dia sedang terluka?” ucap Gwen, tak terima.
“Kau terlampau sering memanjakan dia, Gwen!”
Gwen yang merasa hatinya panas, namun hanya bisa menahan rasa sesak dalam dada itu segera pergi ke ruang belakang.
***
Mervin kemudian keluar dari rumah Eric.
“Sebaiknya hari ini kita tak usah buka toko saja,” ucap Gwen setelah duduk dalam mobil.
“Baiklah, bawa aku ke rumah Kakek Ethan saja.”
Gwen mengangguk, lalu segera mengarahkan mobil ke sana.
“Aku bisa jalan sendiri Gwen,” tutur Mervin ketika sampai dan wanitanya itu akan membantunya berjalan.
Namun tetap saja Gwen membatu Mervin berjalan. Ia tahu betul seperti apa kondisi lelakinya itu.
__ADS_1
Di dalam rumah Kakek Ethan, Gwen membaringkan Mervin di tempat tidur.
“Tidak, aku tidak ingin tidur. Bawa aku ke ruang baca saja,” pinta Mervin.
“Kau yakin?”
“Ya, aku ingin membaca beberapa buku yang beberapa hari lalu ku beli,” paparnya singkat.
Beberapa waktu yang lalu ia membeli beberapa buku untuk ia tambahkan ke perpustakaan di rumah kakeknya, mengingat semua buku sudah hampir selesai ia baca. Jadi dia perlu menambahkan literasi baru lagi.
Kini Mervin duduk di sebuah kursi dengan beberapa buku di meja seorang diri. Sedangjan Gwen ada di dapur, memasak untuk makan siang nanti.
“Sepertinya jika bisa menemukan barang antik ini mungkin aku akan menyimpannya tak akan menjualnya,” gumamnya membaca sebuah buku dengan berdecak kagum.
Satu jam berlalu, Mervin sudah menyelesaikan satu buku dan ini beralih membaca buku kedua.
“Rasanya sudah lama aku tidak bepergian ke masa lampau. Tapi kondisiku saat ini tidak memungkinkan untuk pergi ke sana,”cicitnya melanjutkan membaca buku, dan mulai menguap.
Lima belas menit berikutnya Mervin yang mengantuk, tertidur di atas tumpukan buku yang dibacanya.
Tic-tac! Jam di tangan Mervin tiba-tiba berhenti berdetak sendiri.
Dan 2 menit berselang setelahnya muncul Sebuah sinar terang di depan Mervin. Di tengah sinar terang itu tampak sebuah pintu.
Zap! Pintu terbuka sendiri dan menghisap Mervin masuk ke dalam.
“Mervin, aku buatkan teh hangat untukmu.” Gwen masuk ke ruang baca untuk menghantarkan teh.
“Mervin... kau di mana?” Ia tak melihat lelakinya ada di ruangan itu. Padahal sebelumnya Marvin ada di sana.
“Apakah dia pergi ke masa lampau untuk mencari harta karun?! Tapi kenapa dia tak bilang padaku dulu. Lukanya juga belum pulih sepenuhnya?” pekik Gwen, mengira. Dia cemas sekali.
__ADS_1
Karena kondisi ruangan tetap seperti sebelumnya tak ada pintu yang terbuka, namun Mervin hilang tanpa jejak.