
Mervin masih berdiri mematung setelah pria tadi pergi dari hadapannya dengan buru-buru. Ia sendiri masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Terlempar masa lalu di tahun 1951 dan bukan berada di Berlin, tapi di London. Yang lebih parah lagi dia bisa berinteraksi dengan orang sekitar.
Guk! Gonggongan max membuyarkan lamunan Mervin.
“Max! Maaf, bukan maksudku mendiamkanmu. Aku sampai melupakan dirimu.”
Mervin berjongkok, kemudian mengusap puncak kepala peliharaannya tersebut.
Guk! Max kembali menggonggong ketika melihat beberapa orang melewati mereka.
“Aku tahu mungkin kau bingung ada di mana kita sekarang. Aku akan memberitahumu kita ada di tahun 1951 di kota London.
“Lihat pria itu dari mana? Kenapa pakaiannya berbeda dengan kita?” bisik seorang pejalan kaki, menatap Mervin dengan tatapan aneh.
Tak hanya sepasang atau dua pasang bola mata yang menatapnya, banyak pasang bola mata yang menatapnya dengan heran sekaligus penasaran.
“Entah, aku pun juga tak tahu dia berasal dari mana. Apa mungkin Dia berasal dari planet lain?”
“Maksudmu makhluk luar angkasa begitu?”
Terdengar suara tawa pecah setelahnya menyatu dengan udara.
“Apa mereka membicarakan aku? Tatapan mereka jelas tidak enak. Pasti mereka berpikir aku makhluk aneh,” decak Mervin.
Saat ia menangkap sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan tak nyaman, sepasang bola mata itu segera mengalihkan pandangan darinya. Berarti itu benar, kan mereka sedang membicarakan dirinya?
__ADS_1
“Jam baru, model terbaru pekan ini. Silakan dibeli!” Seorang penjual yang berada di trotoar jalan berteriak.
Mervin pun sekilas mengalihkan salat matanya pada penjual tersebut. Saat itu juga banyak pengunjung yang melewati penjual dan berhenti sejenak di sana.
“Berapa harga jam weker ini?” Seorang wanita mengambil jam weker berwarna hitam dove dan menunjukkannya pada penjual.
“Aku mau jam ini dua, tolong bungkus saja.” Pembeli lain menyerahkan beberapa lembar uang pada penjual.
Beberapa pembeli membawa jam tersebut dan Mervin melihatnya. “Itu benar-benar jam antik jika aku bisa membawanya pulang.”
Ia yang penasaran pun segera mendekat lalu melihat-lihat jam antik tersebut.
“Tuan berapa harga jam antik ini?” celetuk Mervin. Ia benar-benar tertarik setelah melihat-lihat cukup lama.
“Antik? Maksudnya barang kuno, begitu? Maaf ini barang terbaru, Tuan.” Penjual itu seolah tak terima barangnya dikatain sebagai barang ketinggalan zaman.
“Maaf Tuan, aku salah bicara dan tak bermaksud menghina atau lainnya. Aku tertarik dengan barang ini tapi...” Mervin tak meneruskan ucapannya dan menelan salivanya dengan susah payah. Karena ia tak mempunyai uang untuk membayarnya.
“Ini murah sekali. Tuan bisa buktikan dan bandingkan sendiri dengan barang di penjual lain. Di sini yang termurah.”
Mervin hanya mengulas senyum kecut. Andai saja dia punya uang pastilah dia akan membeli semua barang yang ada di sana lalu membawanya kembali ke masanya sekarang.
Mervin pergi dari sana setelah banyak penjual yang datang. Ia perjalanan menyusuri trotoar yang tampak berasap di tengah cuaca panas saat ini.
“Aku kan membawa satu berlian dari tempat sebelumnya?” pekiknya, baru teringat akan hal itu sembari merabanya dan berlian itu ada di sana.
__ADS_1
Tiba-tiba muncul sebuah ide dipikirannya setelah ia mencoba mengasah otaknya.
“Tuan di manakah aku bisa menjual perhiasan?” Mervin bertanya pada seseorang yang dia temui di jalan.
“Di sana, Tuan ada banyak penjual perhiasan. Jual saja perhiasanmu di sana,” ujar seorang pria sembari menunjuk ke sebuah arah.
Marvin langsung saja menuju ke tempat yang ditunjuk oleh pria tadi. Benar di sana banyak penjual emas, perhiasan dan lain sebagainya.
“Tuan, aku ingin menjual berlianku ini.” Ia mengeluarkan berliannya lalu menunjukkan pada salah satu penjual perhiasan.
Penjual itu melihat berlian Mervin dan memeriksanya dengan teliti sekali menggunakan beberapa alat. Dikhawatirkan itu adalah barang palsu dan untuk mencegahnya saja.
“Berlian ini memang asli, Tuan.” selorohnya, lalu menyebutkan sebuah nominal.
“Oh ya, Tuan.” Mervin tak menyangka saja satu berliannya dihargai banyak sekali yang jika diperkirakan uang hasil penjualan belinya itu bisa digunakan untuk membeli banyak sekali barang.
“Ini Tuan, silahkan bawa uangnya.”
Setelah menerima uang tersebut, Mervin kembali melanjutkan langkahnya. Bahkan ia kini sudah berhenti sebuah penjual untuk membeli sebuah miniatur jam Big Ben yang terkenal itu.
Mervin tak berhenti di satu penjual saja. Ia berhenti di setiap penjual yang ia temui. Bahkan terlihat sekarang dia membawa satu karung penuh berisi barang antik. Entah apa saja yang ia beli.
Bugh! di tengah jalan tiba-tiba dia berpapasan dengan seseorang yang menabrak bahunya.
“Maaf, aku tidak sengaja.” Setelah meminta maaf, pria itu segera pergi.
__ADS_1
Mervin masih tergugu dan membeku di tempatnya melihat pria tadi yang menggunakan pakaian mirip dengan pakaian dikenakannya pada zamannya yang di masa depan.