
“Apa??!” Gwen ikut terkejut mendengar ucapan Mervin. “Lalu bagaimana?” imbunhya bingung.
“Tunggu di sini!”
Mervin segera berlari keluar dari toko mencari pria tadi. Dia melihat pria itu ada di seberang jalan dan akan menyeberang.
“Tuan, berhenti!” teriaknya, sambil berlari.
Bukannya pria tadi berhenti dan mendekat namun malah berlari.
Celaka, dia sudah menyadari jika uang yang kuberikan tadi adalah uang palsu. Cepat sekali responnya.
Pria tadi menoleh ke belakang dan melihat jarak Mervin dengannya semakin dekat.
“Tunggu! Jangan lari!!” teriak Mervin.
Ia bahkan berlari lebih kencang lagi, untuk mengikis jarak di antara mereka.
Aku tak boleh tertangkap atau akan tamat! batin pria penipu tadi.
Ia pun memanfaatkan situasi yang ada. Saat ini jalanan yang dilaluinya sedang ramai. Jadi selain banyak orang berlalu lalang juga banyak kendaraan yang lewat.
Dengan cepat ia menyisip di tengah keramaian.
Pasti dia tak akan bisa menemukanmu di tengah keramaian seperti ini, batin penipu tadi, Tersenyum lega.
Tepat di saat dia tertawa lepas ada seseorang yang menepuk bahunya dan membuatnya terkejut.
“K-kau...!” pekiknya tertahan, melihat sosok Mervin di belakangnya ternyata berhasil mengejar dirinya.
“Aku sudah ada itikad baik dengan memanggilmu tapi karena kau terus berlari, jangan salahkan aku terpaksa melakukan ini.” Mervin menekan titik mematikan di bagian leher penipu tadi yang membuatnya kesakitan luar biasa.
“Apa maksudmu, Tuan?”
__ADS_1
“Tidak usah pura-pura bodoh begitu. Kau kira aku tidak tahu apa kau membayarku dengan uang palsu?! Serahkan barang itu kembali padaku!”
“Aku tidak membayarmu dengan uang palsu, sungguh itu uang asli,” kilahnya menyangkal, membuat Mervin semakin geram saja dibuatnya.
“Sudah ketahuan masih saja mengelak. Serahkan kembali cawan emas itu!” hardik Mervin.
sebenarnya ia tak ingin cari masalah jika saja penipu itu menyerahkan kembali barang antik miliknya maka masalah selesai sampai di sini.
Tapi ternyata penipu itu malah lari lagi tanpa mengakui kesalahannya.
“Awas kau!” Mervin kembali berlari untuk mengejar pria penipu tadi.
Dia menyapukan pandangan ke sekitar.
Untuk menangkap pencuri itu aku harus lebih cerdik darinya.
Mervin kemudian lewat jalan lain. Karena dia asli penduduk situ, ia pun hafal setiap jalan maupun setiap gang yang ada di tempat itu.
Ia lalu mengambil jalan pintas di mana jalan itu mendahului penipu tadi.
“Apa kau pikir bisa kabur dariku?”
“Apa?! Bagaimana bisa kau mendahuluiku?!” pekik penipu tadi terkejut dengan kemunculan Mervin yang mendadak.
“Mudah saja.”
Mervin kemudian segera merebut cawan emas dari pria penipu tadi.
Terjadi baku hantam di sana untuk memperebutkan cawan emas tersebut.
“Ada apa ini?” pekik beberapa orang yang ada di jalanan melihat keributan saat ini.
Bukannya mereka datang melerai untuk membantu atau setidaknya mencari tahu ada masalah apa, tapi mereka cuek seolah menutup mata dan membiarkan kejadian itu kemudian berlalu begitu saja.
__ADS_1
Karena memang di tempat itu seringkali terjadi kerusuhan. Para mafia yang bertengkar juga anak-anak muda yang bekelahi. Itu sudah biasa bagi mereka.
“Jika kau tak mau mengembalikannya maka kau akan tahu akibatnya!” bentak Mervin.
Ia tak mau membuang waktu lebih lama lagi. Baginya sudah 15 menit lebih dia keluar dari toko. Dan ia tak mau meninggalkan Gwen sendirian di sana.
Shat! Mervin kemudian menekan titik mematikan pada lengan dan pinggang penipu tadi yang membuat penipu tadi terkunci gerakannya.
“Sial! ada apa denganku?!” pekiknya, kini kesulitan bergerak dengan tiba-tiba.
Mervin mengulas senyum tipis, senyum yang sama dengan senyum yang tadi Ia berikan pada penipu itu saat pertama kali membeli.
Shat! Dengan mudahnya, Mervin lalu mengambil cawan emasnya.
“Kau masih beruntung aku tidak mengambil tindakan tegas padamu,” ucap Mervin tegas dan mengena.
Setelah bicara demikian, Mervin pun segera kembali menuju ke tokonya.
Apa lain kali aku perlu menempatkan beberapa petugas security di sini? batinnya, berpikir demi keselamatan Gwen.
“Mervin, kau kembali!” Gwen yang menunggu setiap hari dan panik langsung keluar menyambut lelakinya, setelah melihatnya datang.
“Kau lama sekali,” protesnya.
“Lihat ini.” Mervin menunjukkan cawan emas yang berhasil diambilnya kembali dari penipu tadi.
Mervin dan Gwen tersenyum lalu berjalan bersama masuk ke toko kembali.
Dari tempat kejauhan, terlihat sepasang mata mengamati mereka.
“Ternyata kau bisa juga mengatasi penipu yang kukirim untukmu. Mervin, kau memang luar biasa sekali. Aku tak menyangka loper koran miskin sepertimu sekarang menjadi orang kaya,” gumamnya dengan seringai tipis di sudut bibirnya.
“Jangan panggil aku Anderson, jika aku tak bisa membuatmu bertekuk lutut di hadapanku. Waktu masih panjang, dan kita akan bermain-main lagi.”
__ADS_1
Pria itu kemudian tertawa membahana dengan melempar topi hitam yang dikenakannya ke udara. Mantel hitam di punggungnya sampai berkibar tertiup angin yang kencang.