
Biji mata anaconda sebesar telur ayam itu sangat menakutkan. Apalagi ketika menatapnya seolah ingin memangsanya saja dan mencabik dagingnya segera.
Mervin tercekat menatap anaconda sepanjang tiga meteran itu. Jika saja binatang karnivora itu membuka mulutnya, mungkin tubuhnya akan tertelan bulat-bulat.
Aku masih ingin hidup. Aku ingin membuat Gwen bahagia terlebih dulu, juga membuktikan pada ayah mertua, batinnya berharap umurnya panjang.
Anaconda tadi kembali berdesis. Kali ini malah menjulurkan lidahnya. Sepertinya dia benar-benar lapar dan menemukan mangsa lezat di depannya.
Hiss! Mervin ikut mendesis kalah Anaconda itu bergerak semakin maju dan mendekatinya.
Membuat Mervin sampai mundur, merapat ke dinding goa.
“Celaka, ke mana aku bisa lari? Jika aku tak bisa mengalahkan anaconda ini, maka aku akan menjadi santapan makan siangnya,” lirihnya, mulai berkeringat dingin.
Ia sama sekali tak melengkapi dirinya dengan senjata apapun yang bisa dipakai untuk melindungi diri. Karena memang semuanya mendadak dan di luar prediksinya.
Sementara anaconda tadi kembali menjulurkan lidahnya dan terlihat salivanya menetes, menjijikkan. Karena terlihat lengket juga berbau anyir.
“Bagaimanapun juga aku harus bisa keluar dari goa ini dan kembali ke rumah. Apapun caranya, aku harus bisa mengalahkan anaconda ini,” tekadnya kuat, dengan sinar mata yang membara.
Anaconda tadi sepertinya sudah tak sabar untuk makan siang. Perutnya sudah perih melilit apalagi melihat mangsa empuk di depannya, tampak menggiurkan.
Hiss! Anaconda yang mendesis, bukan Mervin.
Ia sudah tak sabar ingin melahap mangsanya dan bergerak cepat. Bahkan ia langsung membuka mulutnya lebar tepat setelah tiba di depan Mervin.
Hampir saja anaconda itu menggigit tanyanya jika saja ia tak melompat ke samping.
Dung! Tapi sayang sekali, telur emas yang dipegangnya terjatuh dari tangannya saat ular itu mencoba mengejar setelah Mervin berhasil mencari celah dan lari.
Mervin berlari hingga ke luar goa. Tapi anaconda tadi tetap mengejarnya.
“Sial! Bagaimana ini?”
__ADS_1
Ia menoleh ke belakang dan anaconda itu sudah ada di belakangnya dan hampir dekat jarak mereka.
“Aku harus mencari sesuatu yang bisa kujadikan senjata,” cicitnya di tengah rasa panik yang mendera.
Mervin berhenti mendadak. Dengan cepat ia melihat ke sekitar. Di dekatnya banyak kayu kering. Ia lalu mencari kayu yang ujungnya runcing dan menemukan beberapa.
Tepat di saat anaconda tadi sudah sampai di belakangnya, ia membawa empat kayu berujung runcing.
“Kemari anak manis,” panggilnya dengan melambaikan tangan pada anaconda tadi, seperti memanggil kucing saja.
Anehnya anaconda tadi yang berhenti kembali berjalan pelan mengikuti arah tangan Mervin untuk maju.
Entah apa yang membuat binatang liar itu menurut padanya.
Namun rupanya itu tak sepenuhnya benar. Dengan cepat anaconda tadi kembali membuka mulutnya lebar-lebar.
“Ini kesempatan bagus,” gumamnya. Lalu menancapkan satu batang kayu tadi tepat ke tengah mulut anaconda.
Di saat anakonda tadi sibuk menyingkirkan kayu dari mulut, Mervin pun sibuk sendiri.
“Inilah saatnya!” Mervin berlari maju. Ia lalu melompat ke atas tubuh anaconda.
Setelahnya ia langsung menancapkan dua batang kayu berujung lanjut ke bagian kepala anaconda.
Cruat! Seketika darah segar muncat dari kepala anaconda saat kayu tadi menembus dagingnya.
Bugh! Anaconda tadi ketika ambruk ke tanah dan tak bergerak lagi.
Haah! Mervin menghirup nafas panjang dan merasa lega, meski tangannya kini sedikit kotor terkena darah anaconda tadi.
Ia kembali teringat pada telur emas dan ditinggalkannya di goa. Langsung saja ia berlari masuk ke goa lagi.
“Itu dia telurnya!” pekiknya, menenukan telur emas naga tadi berada di sudut goa.
__ADS_1
Cepat-cepat Mervin mengambilnya dan membawanya keluar kembali sebelum ada tamu tak diundang lagi yang diharapkan kedatangannya.
Dengan tangan bekas darah anakonda tadi tentu saja telur emas yang di bawahnya juga kotor terkena noda darah di tangannya yang masih basah.
“Di mana letak sumber air di sini?”
Mervin mencari ke berbagai sudut keberadaan sumber air namun tak menemukannya.
“Oh ya, bukankah di depan tadi ada sungai?”
Ia baru teringat, dan langsung menuju ke sana kembali melewati semak belukar yang lebat.
Mervin tiba di depan sebuah sungai yang berair sangat jernih. Ia mencuci telur emasnya terlebih dulu. Setelah bersih barulah ia mencuci tangannya sampai bersih.
“Mungkin saja ada harta karun lagi di sini tapi Percuma saja jika pun aku mencarinya yang bisa kubawa hanyalah satu,” desaunya lalu duduk sebentar untuk beristirahat.
Setelah beberapa saat dan rasa lelahnya hilang, ia memutuskan untuk kembali saja ke rumah.
Mervin menatap jam yang melingkar di tangan kirinya. Ia kemudian mengutak-atik jam tersebut.
“Kenapa aku masih ada di sini?” gumamnya, menatap ke sekitar dan ia sama sekali belum berpindah tempat. Masih berada di bibir sungai.
Mervin kembali mengutak-atik jam tangannya. Ia ingat jika sebelum terlempar ke sini jam tangannya tadi sempat berhenti berdetak.
“Mungkin aku perlu menghentikannya,” gumamnya, tak menyerah dan terus mencoba.
Mervin lalu menarik tuas jam dan membuat waktunya berhenti, tak berdetak.
“Ayo lah, bawa aku kembali ke masa depan,” harapnya lalu memejamkan mata.
Saat membuka mata ternyata dia masih berada di sana dan belum berpindah juga.
“Bagaimana ini?” desaunya lagi, bingung, apa lagi yang harus ia lakukan.
__ADS_1