
Dalam hitungan detik, pintu dimensi yang menghubungkan ke masa lampau tertutup.
Bugh! Mereka berdua mendarat ke tanah.
Mervin segera berdiri begitu pula dengan Tuan Anderson.
Mereka tidak masuk ke sebuah rumah atau tempat tertutup yang gelap seperti sebelumnya, namun mereka berada di tengah hutan.
Tuan Anderson yang baru pertama kali pergi ke tempat lain, melihat takjub tempat dirinya berada saat ini.
Ia tidak tahu sebenarnya ada di mana saat ini dan di masa apa? Tapi dia tak menanyakannya pada Mervin. Selain itu juga tak penting yang terpenting misinya saat ini adalah mencari barang antik atau barang berharga lainnya.
“Di mana barang antiknya?” ceplos Tuan Anderson, karena sejauh mana hanya rerumputan dan pohon tinggi yang ada di sana.
Tak ada yang namanya barang antik, barang berharga, ataupun harta karun yang bisa ia lihat.
Haah! Mervin membuang nafas panjang.
Belum hilang rasa kesalnya pada Tuan Anderson, kini pria itu kembali membuatnya jengah.
Melihat barang antik? Apa semuanya semudah dan tersedia melimpah ruah begitu saja seperti dalam dongeng?
Yang benar saja!
Mervin sendiri bahkan harus mencarinya sampai menemukan sendiri harta karun tersebut dan beberapa kali juga terluka saat mencarinya.
Sedangkan Tuan Anderson, dia maunya praktis, cepat, instan dan enak saja tanpa usaha.
“Aku juga tidak tahu, Tuan,” jawab Mervin, mengangkat kedua bahunya.
“Hmm. Jangan bilang, aku harus mencari barang itu sendiri,” tukasnya, menatap tajam Mervin.
“Ya, kurasa kau sudah tahu itu, Tuan.”
Mervin yang sebenarnya malas sekali meladeni Tuan Anderson, dan terpaksa mengantarnya ke sana hanya demi keselamatan Gwen, kemudian mulai berjalan.
Dia berjalan pelan dan santai serta tanpa tujuan. Ke mana saja kakinya menapak ke situlah tujuannya. Urusan Tuan Anderson menemukan barang antik atau tidak, itu bukan tanggung jawabnya.
Tugasnya hanya mengantar saja.
Hutan di mana dia berada saat ini berbeda dengan hutan yang sebelumnya pernah Mervin singgahi.
Dia sendiri bahkan sampai sekarang belum mengetahui sebenarnya lokasi tepat keberadaan dirinya.
Apakah berada di sebuah situs kuno atau dimensi bayangan, dimensi penghubung masa lalu dan masa sekarang.
__ADS_1
Tuan Anderson kembali mengikuti Marvin berjalan. Kemanapun pria itu pergi, dia terus mengikutinya, karena sama sekali tak tahu arah.
Kenapa dia berhenti? batin Tuan Anderson, membuatnya ikut berhenti pula.
Di depan mereka ada sungai selebar 5 meter dengan panjang yang tak bisa diketahui karena terlihat membentang jauh sekali sampai batas mata memandang.
Ada rakit di depannya. Tak ada jalan lain selain melewati sungai tersebut.
“Cepat naik ke rakit dan kayuh, jika ingin istrimu tetap selamat. Bisa saja aku memerintahkan anak buahku untuk menghabisi istrimu,” ancam Tuan Anderson.
Membuat Mervin tanpa perlu diperintah untuk yang kedua kalinya segera melompat ke rakit tersebut.
Ternyata gertakanku padanya bekerja juga jika aku menakutinya dengan istrinya, batin Tuan Anderson, terkekeh. mudah sekali membodohi Mervin.
Tak-tak!
Mervin mulai mengayuh rakit menuju ke tepi.
Tap! Tiba di tepi, Tuan Anderson melompat untuk turun terlebih dulu, tak menunggu Mervin yang sedang mengikat rakit, agar tidak terseret arus air.
Srak! Mereka berdua kembali berjalan.
Di depan mereka kini terhampar Padang gandum yang luas. beberapa saat setelahnya mereka keluar dari ladang gandum.
Tuan Anderson matanya seketika bergerak setelah melihat benda yang menyenangkan Itu adalah sebuah kilauan emas. Dia pun sampai berlari ke sana.
“Wow! Incredible!” pujinya, tak percaya.
Di depannya sana banyak terlihat tumpukan barang emas, melimpah ruah.
Pantas saja Mervin bisa kaya mendadak sambil berhenti menjadi noper koran segala. Ternyata banyak sekali harta karun di sini. batin Tuan Anderson.
Pria itu melihat banyak koin emas bertebaran seperti barang tak berguna. Tak hanya koin emas yang ada di sana. Ada guci keramik, aneka perhiasan emas dan lain sebagainya.
“Aku akan bawa semua yang ku bisa,” gumamnya, lalu mengambil koin emas sebanyak-banyaknya dan memenuhi semua kantong bajunya.
Cring! Namun sayang semua itu jatuh, kembali ke tempatnya semula.
“Aneh sekali,” lirih Tuan Anderson.
Ia lalu mengambilnya lagi dan semuanya jatuh, hanya satu keping koin emas yang tersisa di saku bajunya.
“Jadi, aku hanya bisa membawa satu?!” pekiknya, setelah menyadari itu.
Tuan Anderson membuang koin itu. Ia lalu memilih barang yang paling besar dan menurutnya paling mahal, bola globe emas dan mengambilnya.
__ADS_1
Sementara Mervin yang datang ke sana juga tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia mengambil satu gelang emas, untuk ia berikan pada Gwen, gelang suku Indian kuno.
“Ayo kita kembali sekarang,” titah Tuan Anderson, menghampiri Mervin.
Mervin hanya diam tak menjawab. Ia pun kembali berjalan menuju ke tempat dia menepikan rakit.
“Bukan kembali ke sini, tapi kembali ke dunia kita!” hardiknya, tajam.
Mervin bingung mau menjawab apa. Tak mungkin dia Jelaskan pada pria itu jika kunci untuk kembali harus dalam keadaan terdesak.
“Kita harus menemukan pintunya baru bisa kembali,”
Mervin kembali mengayuh rakit hingga ke tepi. Mereka berdua lalu kembali ke tempat pertama mereka datang.
Setelah jauh berjalan dan berputar-putar ternyata tak kunjung menemukan pintu. Dan hal itu membuat Tuan Anderson naik pitam.
“Mervin kau jangan main-main denganku ya!”
“Aku tidak main-main, Tuan. Memang aku belum menemukan pintu itu,” sangkalnya.
Tapi Tuan Anderson sepertinya tak bisa diajak bicara.
Bugh! Lagi, pria itu melainkan tangannya melemparkan pukulan.
Untungnya Mervin bisa menghindar. Dia merasa mungkin ini saatnya untuk mencoba kembali.
Mervin menarik tuas jam tangannya, tanpa Tuan Anderson ketahui. Lalu Berharap kembali ke masa depan.
Zap! Benar saja, pintu dimensi muncul di depannya.
Tuan Anderson segera masuk lebih dulu, baru Mervin masuk, tepat di saat pintu akan tertutup.
Mereka berdua kemudian kembali ke masa depan.
“Gwen!” panggil Mervin, setibanya di sana, segera berlari menghampiri wanitanya.
***
Beberapa hari setelahnya.
Melihat harta karun di tangannya, Tuan Anderson menjadi serakah. Ia bertekad untuk membawa pula semua harta karun tersebut.
Pria itu lalu menemui Mervin lagi. Kebetulan mereka bertemu kembali di jalanan.
“Mervin! Kau harus memberitahuku cara menuju ke tempat itu,” ucapnya langsung dengan memaksa.
__ADS_1