
“Gwen, sebaiknya kau tidak ikut kali ini dan tunggu saja di sini,” tukas Mervin.
Ia sudah selesai bersiap dan berada di rumah Kakek Ethan. Mervin sebenarnya tidak mengajak, namun Gwen sendiri yang minta ikut bersamanya.
“Kenapa?” tanya Gwen, menatap intens Mervin.
Selama ini Gwen sudah sering mengikuti Mervin pergi ke masa lampau. Jujur saja, itu membuatnya senang sekaligus merasa ketagihan untuk pergi ke masa lampau.
Baginya melihat hutan dan semua yang serba hijau itu cukup menyegarkan mata. Ditambah melihat sesuatu yang berkilauan. Wanita mana minta suka melihat kilau emas?
“Aku khawatir dengan keselamatanmu. Kau tahu sendiri beberapa akhir ini banyak orang tak diundang yang datang. Aku tak ingin mereka melukaimu, ataupun menggunakan mu sebagai sandera lagi,” papar Mervin, panjang lebar.
“Itu tak akan terjadi lagi, aku akan lebih hati-hati agar tak ada siapapun yang menangkap diriku,” mohonnya, sembari memegang tangan Mervin.
“Tidak, Gwen. Aku ingin kau tak terlibat kali ini mungkin dan waktu aku akan mengajakmu saat suasana sudah kondusif,” tutur Mervin.
Setelah Tuan Anderson, ada lima pria tak di kenal yang entah dari mana mereka berasal, mereka memata-matai Mervin.
Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengajak duel Mervin karena pria itu untuk memberikan harta karun yang mereka minta.
“Tapi, Mervin, aku juga khawatir padamu,” tandasnya, bersi keras ingin ikut.
“Tidak, Gwen,” balasnya tegas, sembari mengecup puncak kepala Gwen.
“Sekarang kembalilah ke rumah. Aku akan kembali dalam keadaan baik nanti,” imbuhnya.
“Berjanjilah!”
Gwen kembali menatap lurus biji mata lelakinya, ia kemudian segera pergi dari sana. Karena bagaimanapun juga menaati perintah suami wajib hukumnya.
“Sekarang aku akan berangkat. Tak ada lagi yang mengganggu pikiranku,” gumamnya.
__ADS_1
Setelah memastikan Gwen benar-benar pergi dari rumah dari rumah barulah Mervin memakai topi koboy milik kakeknya lalu menarik tuas jam yang melingkar di tangan kirinya.
Tik-tak! Di detik terakhir jam tersebut berdetak, muncul sebuah pintu dimensi.
Klak! Bukan suara pintu dimensi yang ditarik, tapi suara pintu rumah Kakek Ethan yang dibuka.
“Siapa kau?!” hardik Mervin langsung, ketika ada seorang pria yang menyembul masuk ke rumah.
“Siapa aku? Tentu saja aku adalah orang yang ingin mencari harta karun seperti dirimu,” balasnya, dengan mengumbar senyum seringai.
“Pergi dari sini!” hardik Mervin, tapi pria tadi tak menanggapinya.
Malahan dia bergerak menuju ke pintu dimensi yang saat ini terbuka.
Jika tidak segera masuk maka pintu akan segera tertutup kembali, batin Mervin kembali menatap ke arah pintu dimensi, yang ada di belakangnya.
Pintu yang akan terbuka hanya sampai hitungan 10 detik saja, kini terserah semakin menciut ukurannya sesuai dengan waktunya hampir tertutup.
“Aku akan pergi, tapi bersamamu,” kekehnya dengan santai.
Mervin segera maju untuk menghalangi pria itu masuk ke pintu dimensi. Di detik itu juga terjadi baku hantam antara Mervin dan pria asing berbaju serba hitam tadi.
Aku harus cepat tinggalkan pria ini dan masuk ke pintu dimensi sebelum tertutup, batin Mervin, menendang pria itu agar menjauh dari dirinya.
Hap! Mervin melompat masuk ke pintu dimensi.
Tanpa sepengetahuan Mervin, tepat di dua detik terakhir itu melompat dan masuk ke pintu dimensi.
Akh! Bukan Mervin yang berteriak, tapi pria misterius tadi saat tubuhnya mulai berputar-putar dalam ruang hampa.
“Apa?!” Mervin, terkejut melihat pria sing tadi masih bisa masuk bersamanya.
__ADS_1
Bugh! beberapa menit setelahnya mereka tiba di sebuah tempat setelah keluar dari pintu dimensi.
Sontak saja Mervin yang masih geram mendatangi pria misterius tadi dan melanjutkan duel mereka.
“Kenapa kau mengikutiku?”
“Sudah kujelaskan di awal aku ingin menjadi pencari harta karun seperti dirimu.”
“Menyerah saja! Tempat ini tidak menerima orang serakah seperti dirimu!” bentak Mervin, di ujung kesabaran.
“Tak ada larangan yang berkata demikian. Kecuali jika Presiden yang mengatakannya begitu baru aku akan menurutinya,” kekehnya membahana.
Membuat Mervin semakin panas dan emosi saja. Duel pun berlanjut, hingga beberapa waktu tak ada yang tahu. Yang jelas keduanya tak mau mengalah dan keadaan seri, karena sama kuat.
Bugh!
Bagh!
Bugh!
Mervin kali ini tidak membalas pukulan pria asing tadi yang menyebut namanya Dawson. Dia lebih memilih untuk menghindar ataupun menahan dari serangannya saja sembari berpikir, apa langkah yang akan diambil selanjutnya.
Karena meladeni pria ini terus-menerus tentu saja akan menguras tenaganya. Sedangkan ia tak tahu ada apa di depan sana, apakah ada bahaya yang akan mengintainya selama pencarian harta karun atau tidak.
Blink! Dari kejauhan depan mereka terlihat sesuatu yang berkilau.
“Apa itu?! Apakah itu emas?!” pekik Dawson, matanya menjadi berkilat saat melihat kilauan emas.
Ia pun menghentikan duel kali ini dan segera berlari ke arah benda berkilauan tersebut.
“AKU KAYA!!!” teriaknya, berada di tengah batangan emas melimpah. Dengan senyum lebar mengambil semua emas batangan tersebut lalu memasukkan dalam sebuah wadah besar.
__ADS_1
Dasar! Dia memang sama dengan yang lainnya! Serakah! Aku punya ide,” batinnya, tiba-tiba terlintas sebuah ide setelah mengamati pria tadi.
Kali ini ganti Mervin yang berada jauh di belakang pria itu tersenyum menyaringnya yang menatapnya. Entah ide apa yang dimiliki dan akan dijalankannya sekarang.