
“Aku ingin lihat yang ini, Tuan Mervin. Boleh?” Tunjuk seorang pria pada sebuah etalase.
“Tentu.” Mervin mengeluarkan benda antik yang ditunjuk oleh calon pembeli.
Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu, Mervin melakukan diskusi dengan Gwen. Jika ia tetap menaruh semua benda antiknya di rumah mertuanya pasti akan banyak pengunjung berdatangan ke sana. Plus itu akan membawa masalah lagi bagi Mervin.
Mereka kemudian memutuskan untuk membuka toko sendiri, daripada menyewa sebuah tempat. Mervin membeli sebuah toko yang berlokasi di dekat rumah Kakek Ethan, itu dimaksudkan untuk memudahkannya menyimpan barang.
“Berapa harga telur naga emas ini, Tuan?” tanya pembeli. Mervin menyebutkan harganya, namun pembeli itu menawarnya.
“Apa tidak boleh harganya sekian saja?”
Mervin diam dan memikirkannya ulang akan melepasnya atau tidak. Mengingat mencari barang antik itu cukup sulit dengan bahaya yang mengintai kapan saja, ia benar-benar mempertimbangkannya sekali lagi.
“Berikan saja, barang kita masih banyak, harganya juga sudah oke,” bisik Gwen lirih.
Gwen ada di sana dan ikut membantu Mervin menunggu toko.
“Baiklah, Tuan.” Akhirnya Mervin melepas barang itu juga karena Gwen.
Sampai sore barulah Mervin menutup tokonya. Tokonya itu dilengkapi dengan kunci pengaman ganda, yang tidak bisa dibuka dengan mudah. Hal itu untuk menyiasati aksi pencuri atau perampok yang ingin menggasak barangnya.
“Ayo kita pulang,” ajak Mervin, setelah mengunci toko.
“CCTV itu aktif tidak?” tanya Gwen, menunjuk kamera di depan toko.
Selain dilengkapi kunci pengaman ganda, toko Mervin juga dilengkapi kamera CCTV. Tak hanya ada satu kamera di sana tapi ada 5 kamera yang dipasang mengelilingi toko.
“Aktif,” sahut Mervin, sudah mengecek kamera tersebut dari layar ponselnya.
Kamera itu di setting terhubung dengan ponsel, jadi jika ada sesuatu yang terjadi secara otomatis notifikasi akan muncul pada ponsel.
Di saat kedua orang itu sudah pergi dari toko dari kejauhan terlihat sepasang mata mengawasi tokoh tersebut.
__ADS_1
“Sekarang saat yang aman untuk beraksi,” seringai seorang pria.
Pria itu kemudian keluar dari persembunyian tapi dia menuju ke belakang toko.
Tak! Dia melihat ada kamera CCTV di sana dan menghancurkannya semua dengan cepat.
“Hanya CCTV murahan begini, kecil untukku,” decihnya, meremehkan.
Pria botak dan berotot itu kemudian langsung menuju ke pintu dan membukanya.
“Oh, tak ada alarm di sini, mudah sekali.” Lagi-lagi ia tersenyum lebar.
Pria itu berhasil membuka kunci pertama. Kemudian lanjut membuka kunci kedua.
Krak! Pintu terbuka setelah kunci kedua berhasil dibobol.
Wow! Mata pencuri itu seketika berkilat saat melihat kilauan barang antik di etalase.
Prang! Bahkan dengan sekali pukulan saja etalase yang terbuat dari kaca itu pecah. Hancur berkeping-keping.
Pencuri itu melihat sekali lagi semua barang antik berharga Wah itu sebelum membawanya keluar dari sana.
Kring! Di tengah jalan, ponsel Mervin berdering nyaring.
“Ponselmu berdering,” tunjuk Gwen.
Mervin sebenarnya panik karena itu bukan dering telepon biasa melainkan dering alarm jika sesuatu terjadi pada tokonya, sengaja ia menyeting sedemikian rupa nada dering tersebut menyerupai dengan nada panggilan masuk, untuk menyamarkannya.
Ada yang membobol toko.
Perhatiannya lalu beralih pada Gwen. Jika ia memberitahukan padanya sudah pasti wanitanya itu akan panik, dan tentu saja akan menambah masalah lagi baginya.
“Kenapa tidak di angkat?” tanya Gwen.
__ADS_1
“Ini telepon penting. Kau pulang lah dulu, aku akan menyusul.”
Selepas bicara demikian, Mervin turun dari mobil. Ia menyerahkan kunci mobil pada Gwen.
“Cepat pulang. Jangan keluar rumah sebelum aku sampai,” ucapnya, tampak serius.
“Itu telepon dari siapa?”
Mervin tidak menjawab, malah langsung pergi meninggalkan Gwen dengan cepat.
Kenapa Mervin serius begitu, apakah terjadi sesuatu?
Gwen seketika panik meskipun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun mendengar perintah Mervin juga melihat raut muka serius lelakinya begitu, dia langsung menginjak gas dengan kencang, menuju ke rumah.
***
Mervin tiba di depan tokonya. Benar saja tokonya sudah tidak karuan. Semua kamera CCTV rusak. Bahkan kunci pengaman ganda pun ikut rusak.
“Siapa yang berani main-main denganku?!” pekiknya, geram. Tangannya terkepal sempurna dengan sorot mata penuh amarah, masuk ke toko.
Ada seorang pria asing tak dikenalnya sudah mengeluarkan semua barang antiknya dari etalase yang sudah pecah.
“Kembalikan itu padaku!” hardiknya, langsung.
“Oh, ternyata cepat juga kau tanggap dan langsung kemari, ck,” decaknya mencebik, juga merendahkan.
“Turunkan atau kau tak akan selamat keluar dari sini!”
“Coba saja ambil jika bisa.” Pencuri itu malah meledek Mervin. Dalam hati ia senang sudah berhasil memancing emosi Mervin.
Namun ternyata dugaannya salah. Mervin tampak tenang, dan menunggu serangan.
“Bilang saja kau takut!” Pencuri itu pun tak segan-segan mulai menyerang Mervin.
__ADS_1