Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah

Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah
Eps. 37 Mengambil Kembali


__ADS_3

Sial!” teriak Mervin saat kembali menoleh dan album perangkonya telah raib dari tangannya.


Guk! Max yang berada di luar toko masuk dan menarik celana Mervin, membuatnya keluar dari toko.


Guk!


“Max, ada apa?” ucap Mervin pada anjingnya.


Baginya anjing itu pintar meskipun masih kecil. Ia sepertinya juga mengerti apa yang ia bicarakan.


Beberapa waktu yang lalu, Mervin melatihnya untuk berburu tikus di jalanan. Dan hasilnya cukup memuaskan. Max bisa menemukan 5 sarang tikus di sebuah tanah lapang dengan cepat.


Tak hanya itu saja. Mervin memberi perintah Max untuk menjaga dan melindungi rumah dari orang asing. Dan ternyata Max berhasil menangkap seorang pengemis jalanan yang kedapatan hampir mencuri. Dan masih banyak lagi kepintaran Max yang panjang sekali kalau dibahas.


Guk! Max menunjuk sebuah kancing baju berwarna hitam yang terjatuh di dekatnya.


Mervin menautkan alisnya melihat kancing tersebut bukanlah miliknya.


“Itu milik pria tadi,” ucapnya dengan cepat. Ia ingat betul warna dan kancing baju pria itu yang senada, hitam dengan noktah biru di tengahnya.


Guk!


“Max, kau mau ke mana?” Mervin melihat anjingnya itu berlari keluar setelah mengendus kancing hitam tadi.


“Max! Tunggu!” Mervin pun kemudian berlari cepat mengikuti Max yang sudah berlari di jalanan.


Max berlari jauh. Jika dihitung mungkin sudah 700 meter dari toko Mervin berada. Dan ia baru berhenti di depan sebuah bangunan yang tampak asing bagi Mervin.

__ADS_1


“Rumah atau kantor siapa ini?” gumam Mervin, melihat rumah depannya.


Harusnya dia mengetahui rumah itu Karena berada tak jauh dari tokonya berada. Tapi baru pertama kali ini ia melihat rumah itu, sungguh. Atau mungkin dirinya saja yang kurang memperhatikannya selama ini jadi tidak mengetahui rumah itu.


Guk!


Max menerobos masuk ke rumah bercat hijau pucat itu.


Mervin mengikuti masuk ke dalam rumah. Baru saja ia menapakkan kaki di pintu masuk. Ada seseorang yang sudah menyambutnya.


Pria berbaju hitam serba misterius dengan mantel di punggungnya, siapa lagi jika bukan Tuan Robinson.


“Shiit! Pria itu mengumpat. “Bagaimana bisa kau menemukanku?” pekik Tuan Robinson.


Pria itu menatap tajam Max yang ada di belakangnya dan juga Mervin yang ada di depannya.


“Max, keluar!” perintah Mervin.


Ia tak ingin anjingnya itu sampai terluka ataupun terlibat masalah antara dirinya dengan Tuan Robinson.


Guk! Max menuruti perkataan Mervin dan segera keluar dari rumah itu.


Sekarang tinggal Mervin bersama Tuan Robinson saja yang ada di ruangan itu. Keduanya sama-sama melempar tatapan tajam plus dingin.


“Tuan Robinson, kembalikan album perangko milikku sekarang juga,” ucap Mervin tegas.


Ia mencoba untuk bicara baik-baik dulu sebelum mengambil tindakan yang tegas. Karena pada dasarnya, memang ia adalah pria sabar. Jika tidak sabar, mana mungkin Gwen bisa sampai terpikat padanya dan membelanya mati-matian di depan ayahnya.

__ADS_1


“Milikmu ini palsu. Jadi Percuma saja jika kau menyimpannya dan sebelum kau buang, maka biar aku yang menyimpannya,” balas Tuan Robinson pandai bersilat lidah.


“Jika palsu kenapa kau menginginkannya? Aku rasa kau akhirnya mengetahui mana yang asli dan mana yang bukan. Dan itu modusmu saja sebagai alasan untuk mengambil milikku.”


“Kurasa tak ada gunanya juga berdebat denganmu panjang lebar. Asal kau tahu barang yang sudah ada di tanganku tak akan mungkin bisa diambil oleh siapapun meskipun dia orang terkuat nomor satu di kota ini.” ucap Tuan Robinson, tampak meremehkan kekuatan Mervin.


Memang dari penampilan Mervin dengan tinggi 170 senti dan garis ototnya yang tidak menonjol seperti kebanyakan pria berotot lainnya, ditambah dengan berat sedang dan tatapan mata sayu membuatnya nampak terlihat lemah di depan siapa saja yang melihatnya.


“Baik, jika begitu kita selesaikan semuanya dengan kekuatan saja. Jika aku menang maka kembalikan album perangkoku.” Mervin segera mengambil langkah tegas daripada berbelit-belit.


“Oke! Kau maju duluan. Jika kau kalah, maka album perangkomu itu akan menjadi milikku!”


Tuan Robinson bahkan mencebik, sangat meremehkan sekali kekuatan Mervin.


Tubuh kurus seperti itu mungkin sekali serangan saja akan langsung patah. Jadi ada salahnya aku memberinya kesempatan untuk menyerangku lebih dulu, batin Tuan Robinson.


“Jangan pernah menyesal jika aku bisa melukaimu,” ucap Mervin, tampak tenang.


Detik itu juga Mervin langsung maju dan melancarkan serangannya tanpa segan-segan lagi setelah melihat dan memperkirakan seperti apa kekuatan lawannya.


whooh! Tanpa Tuan Robinson duga, dirinya sedikit kewalahan dengan serangan Mervin yang menyudutkan dirinya.


Bugh! Dengan satu serangan Mervin terakhir menggunakan kemampuan Krav Maga yang pernah diajarkan oleh kakeknya sewaktu dia kecil dulu, lawan lagsung roboh saat dia menyerang titik vital di bagian leher.


“Kembalikan albumku.” Mervin langsung mengambil albumnya yang tergeletak di meja.


“Tunggu kau berhenti!” Tepat saat Mervin sudah berada di luar rumah ada seorang yang menghentikannya.

__ADS_1


__ADS_2