
Dalam sekejap saja guncangan di tanah semakin hebat. Rasanya mirip dengan gempa bumi. Semuanya berguncang, sampai sebagian tanah retak dan retakan itu ikut miring.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Mervin sampai ikut miring seperti tergelincir. Ia berpegangan erat pada rumput tinggi yang ia sahut di dekatnya.
Akh! Namun sayangnya rumput itu malah tercabut karena tak kuat menahan berat tubuhnya.
Mervin pun kemudian tergelincir bersama Max. Rasanya dia seperti berbalik setelah sampai pada bagian paling bawah. “Wohh... apa yang terjadi?”
Mervin merasa pusing rasanya ia merasa seperti melihat terbalik. Entah penglihatannya yang aneh karena pusing ataukah memang nyata yang dilihatnya kali ini semua tampak terbalik.
“Apa hanya penglihatanku saja yang salah kenapa gunung ini puncaknya ada di bawah sekarang?” gumam Mervin.
Ia kemudian mencoba untuk duduk agar kepalanya yang berdenyut bisa sedikit berkurang. Namun nyatanya bukan kepalanya terasa enteng malah semakin berat saja melihat semuanya dalam keadaan terbalik.
Bahkan pohon besar yang tumbuh di sekitar gunung pun letaknya kini terbalik. Akar itu ada di bagian atas dan dedaunan letaknya berpindah ke bawah.
Bugh! Bahkan Mervin terjatuh saat berdiri.
__ADS_1
“Di mana ini sebenarnya? Kenapa sekarang tiba-tiba semuanya dalam keadaan terbalik seperti ini?” pekiknya semakin merasa pusing.
Selain tak terbiasa melihat semuanya dalam posisi terbalik Mervin juga kesulitan menjaga keseimbangannya dalam posisi seperti ini.
Setelah beberapa kali mencoba untuk berdiri dengan benar, akhirnya Mervin bisa berdiri pada kedua kakinya setelah 20 kali jatuh.
“Aku akan mencoba untuk berjalan pelan, semoga saja tidak jatuh.” Ia mulai menapakkan langkah demi langkah dengan pelan, jika tidak maka dia akan jatuh tergelincir ke puncak gunung yang kini letaknya ada di bawah.
Max pun Akhirnya bisa berdiri dan berjalan setelah berulang kali jatuh sama seperti Mervin. Ia lalu mengikuti majikannya itu berjalan mengelilingi gunung.
Agak lama mereka berjalan dan Baru berhenti setelah keringat mulai bercucuran dari kening Mervin.
“Max, duduk dulu sebentar. Aku lelah.” Setelahnya, Mervin lalu bersandar pada sebuah pohon besar yang ada di dekat gunung.
Manik mata Mervin bergerak liar menyapu ke sekitar. Dia baru menyadari di sekitarnya tumbuh banyak rumput liar yang terlihat seperti sejenis tanaman obat dan tak pernah ia ketahui sebelumnya.
“Apakah ini benar tanaman obat? ataukah hanya rumput liar biasa?” Ia perhatikan tanaman yang mirip dengan rumput namun pada bagian tengahnya terdapat bunga yang mirip seperti dengan bunga tulip berwarna merah darah.
Entah kenapa bahkan Max menyukai rumput itu. Anjing peliharaan Mervin itu sampai memakan bagian ujung rumput tersebut.
__ADS_1
“Max, apakah rumput itu terasa begitu nikmat bagimu?” tanya Mervin, sembari terkekeh. Baru kali ini ia melihat peliharaannya itu serakus ini saat makan.
Mungkin sudah ada tiga ikat rumput yang dimakan oleh Max jika dikumpulkan menjadi satu.
Saat Max masih asik dengan rumput di sana, Mervin pun mengalihkan pandangannya ada bunga rumput tersebut. Warna merah darah itu seperti menghipnotisnya untuk menyentuhnya.
Namun setelah ia menyentuhnya tiba-tiba muncul keinginan lain yaitu, memetik bunga tersebut.
Klatak-klak! setelah Mervin menarik bunga tersebut yang membuatnya terpisah dari tangkai, tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang retak kemudian jatuh di bagian atas.
“Sebenarnya suara apa itu?” Mervin kemudian kembali menyapukan menikmatinya menunjukkan sumber suara yang ternyata ada di bagian atas.
Detik itu juga tiba-tiba dasar gunung kembali berguncang tanpa sebab. padahal cuaca di sana saat ini sedang cerah. Bahkan burung-burung yang terbang terlihat di bawah sana, terbang dengan santai seperti biasanya.
Grug! makin lama suara gunjangan itu semakin hebat hingga akhirnya terdengar suara ledakan di bawah sana.
“Apakah gunung ini meletus?” Mervin seketika panik. Bagaimana jika gunung ini meletus beneran?
Ia melihat ke bawah yang artinya melihat ke bagian puncak gunung. Tak ada lava ataupun lahar yang keluar dari gunung ini.
__ADS_1
“Tapi kenapa tempat ini terus berguncang?” gumam Mervin, panik.
Beberapa detik setelahnya terdengar suara letusan di Puncak Gunung. Gunung itu retak dan kemudian menganga pada bagian tengahnya.