
“Gwen, kau menyukai patung Dewi Venus ini?” tanya Mervin, sembari memegang kembali barang berharga yang ditemukannya itu.
Gwen mengangguk mantab, membuat Mervin enggan dan berubah pikiran.
“Baiklah jika kau suka, kau boleh menyimpannya,” balasnya, mengumbar senyum.
Ternyata dugaannya benar. Istrinya itu suka dengan patung Dewi Venus yang didapatnya.
Memang wanita adalah makhluk pemuka benda yang berkilau.
“Terima kasih, Mervin.”
Gwen pun memberikan hadiah balasan untuk Mervin dengan mencium keningnya.
“Kurasa hadiah yang kau berikan padaku tidak sepadan dengan pemberianku?” ucap Mervin, menginginkan lebih dari itu.
“Kau nakal,” timpal Gwen, menaruh kedua tangannya di bahu Mervin.
“Lalu apa yang kau minta?”
“Kau tahu sendiri, apa yang ku mau,” jawab Mervin sembari menunjuk bibirnya.
Gwen pun kemudian mendekatkan wajahnya, ia pun lalu mencium bibir Mervin.
Akh! Mervin merintih saat wanitanya itu menginjak pergelangan kakinya yang terluka.
Terpaksa ciuman itu pun berakhir dengan singkat.
“Ma-maaf Mervin, aku tak sengaja menginjak kakimu,” Gwen pun segera mundur, meski sebenarnya ia masih ingin mencium bibir lelakinya.
Ia langsung memeriksa kaki Mervin lalu mengobatinya.
“Bagaimana kau bisa terluka begini?” tanya Gwen, mengangkat kaki Mervin dan menaruh ke pangkuannya.
Ia lalu memasang perban pada pergelangan kaki lelakinya, agar tak terkena infeksi.
“Ada binatang buas yang mengejarku. Yang penting aku sudah kembali dengan selamat juga membawa harta karun,” tukas Mervin seolah tak terjadi apapun pada dirinya.
Berbeda dengan Gwen. Meskipun harta karun itu penting, namun sejatinya Mervin adalah harta karunnya yang tak ternilai harganya, tiada bandingannya meskipun dibandingkan dengan emas berlian sekalipun.
__ADS_1
“Berangkat kau baik-baik saja, maka bernjanjilah jika suatu saat kau kembali ke sana, maka kau harus kembali padaku dalam kondisi baik-baik saja,” ucap Gwen, nampak masih khawatir.
Mervin sendiri memang tidak ada persiapan sebelumnya untuk ke sana Jadi dia tak membawa senjata apapun untuk melindungi dirinya. Lagipula sebelumnya saat ke sana ada makhluk ataupun lainnya yang melukai dirinya.
“Ya, aku janji padamu,” Mervin menggeser duduknya mendekat, sembari memegang ujung dagu Gwen.
Ia pun kemudian mendaratkan ciuman ke bibir merah Gwen, sembari mendekapnya erat.
***
Pagi keesokan harinya.
Mervin bangun dan bersiap untuk berangkat kerja menjajakan koran seperti biasanya.
“Kau mau ke mana? Kakimu masih sakit begitu,” ucap Gwen lalu menahan Mervin serta mengajaknya untuk duduk.
Kemarin, setelah Gwen menginjak kaki Mervin, kaki Mervin yang awalnya hanya terluka saja kini malah pincang, akibat terkena heels Gwen setinggi 7 senti.
“Tentu saja aku kerja hari ini.” ucap Mervin.
Sebenarnya ingin juga ia beristirahat di rumah, tapi dia takut Ayah mertuanya akan marah kembali padanya.
Setelah bicara begitu, Gwen langsung keluar kamar.
30 menit kemudian setelah melalui perdebatan yang cukup panjang dengan ayahnya, akhirnya Gwen kembali ke kamarnya.
“Bagaimana?” tanya Mervin, begitu wanitanya itu masuk.
Gwen mengembangkan senyum di bibirnya, tak menjawab. Tapi Mervin paham apa artinya itu, ia pun ikut tersenyum pula.
Hari ini Mervin bisa berada di rumah sampai semalaman.
Malam hari.
Gwen yang sedari tadi menatap patung Dewi Venus yang sudah ia taruh di sebuah lemari kaca, kini mengeluarkannya kembali dan menaruhnya ke meja.
Dipandangnya lama patung kristal itu dan gini dia berarti mengambil ponselnya lalu berselfie dengan patung tersebut.
“Patung Dewi ini benar-benar cantik. Bahkan dia seperti hidup,” celetuknya, lalu menaruh ponselnya dan duduk.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?”
Mervin tiba-tiba masuk, penasaran. Kenapa wanitanya itu tersenyum-senyum sendiri menatap layar ponsel di tangan.
“Coba lihat ini,” balas Gwen, sembari melambaikan tangan, mengajaknya duduk.
Mervin langsung duduk di samping Gwen. Ia mencoba melihat apa yang sedang dilihat oleh wanita itu.
“Astaga, kenapa kau selfie dengan patung itu?” pekiknya, baru klai ini dia melihat Gwen segirang itu.
Gwen kemudian berdiri dan mengambil patung itu dari meja. Lalu kembali duduk di samping Mervin.
Klik! Lagi, Gwen mengambil foto selfie mereka berdua.
“Bagaimana foto kita memurutmu?” tanyanya, menunjukkan hasil jepretannya pada Mervin.
“Bagus.”
Gwen semakin antusias saja mendengar jawaban dari Mervin. Malahan saat ini dia membuka salah satu akun media sosialnya.
Di sana ia malah mengunggah foto selfie dirinya dengan Mervin bersama patung dewi Venus tadi.
“Gwen, apa yang kau lakukan?” Mervin melihat wanitanya itu tak hanya memposting satu foto saja di akun media sosial, tapi banyak foto-foto patung Dewi Venus.
“Tak apa kan aku memasang foto ini?”
Mervin mengangguk saja. Karena menurutnya tak masalah juga jika Gwen memasangnya. Bisa saja kalau beruntung malah akan membuat patung Dewi Venus tadi dikenal banyak orang.
Lagipula jika Gwen senang, maka ia pun akan senang.
***
Gwen duduk dengan memegang ponsel di tangan. Biji matanya terpaku pada layar ponselnya. Ia membuka akun media sosialnya kemudian melihat postingannya beberapa hari yang lalu.
Ada 100 lebih viewers yang melihat postingannya. Bahkan banyak yang meninggalkan komentar di dindingnya.
“Astaga, aku sungguh tak menyangka patung dari Venus ini menjadi populer setelah aku mempostingnya,” pekiknya terkejut sekaligus senang.
Bahkan ada comment juga yang ingin menawar barang antik tersebut, juga ada akun yang meminta nomornya agar bisa dihubungi untuk membicarakan harga barang tersebut.
__ADS_1
Padahal niat awalnya bukan dia ingin membuat benda itu menjadi populer tapi hanya ingin berselfie ria saja.