
Gwen yang cemas jika saja ada seseorang yang datang menyusup ke rumah tanpa sepengetahuannya lalu membawa Mervin pergi, menaruh cangkir teh yang di bawanya ke meja, segera berlari keluar dari rumah baca memeriksa seisi rumah.
Klak!
“Semua pintu masih terkunci, itu artinya tak ada penyusup yang masuk ke sini dan membawa Mervin,” ucapnya merasa lega, setelah memeriksa semua pintu yang ada di rumah dalam keadaan terkunci.
“Berati benar, Mervin pergi ke masa lampau untuk berburu harta karun. Kenapa dia tak pergi nanti saja saat lukanya sudah pulih atau semua barang antik yang dijual sudah habis?!” protesnya, namun tergambar jelas di wajahnya gurat kecemasan.
“Semoga kau tak bertemu binatang buas atau lainnya di sana dan bisa kembali dengan selamat,” lirih Gwen lagi, berharap.
Di lain tempat
Mervin yang masih tertidur merasa tubuhnya seperti terombang-ambing.
Kenapa rasanya tubuhku seperti terombang-ambing, persis seperti saat naik kapal laut? batin Mervin di tengah kesadarannya.
Matanya masih berat untuk dibuka. Namun dia bisa merasakan tubuhnya seperti berada di ruang hampa.
Apakah aku melakukan perjalanan ke masa lampau? batin Mervin lagi.
Karena seringnya melakukan perjalanan ke sana membuatnya hafal rasanya bepergian ke sana meskipun dalam kondisi tidur.
Zap!
Bugh!
Hiss!
Mervin terpaksa membuka matanya setelah pintu waktu yang membawanya tertutup dan membuatnya jatuh terhempas ke tanah.
__ADS_1
“Di mana aku?”
Masih dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Mervin berdiri dan menyapukan pandangan ke sekitar
“Ini bukan di rumah Kakek Ethan. Apa aku bermimpi melakukan perjalanan ke masa lampau?!” pekiknya, terkejut, saat melihat tempatnya berada yang sekarang.
Untuk meyakinkan dirinya sendiri Apakah sedang bermimpi atau tidak dia mencubit tangannya sendiri.
“Auwh!” Mervin merintih saat merasakan cubitan tangannya sendiri.
“Astaga, aku benar-benar berada di masa lampau. Tapi bagaimana aku bisa kemari, padahal aku tidak menghentikan waktu.”
Mervin mengangkat tangan kanannya untuk melihat jam yang melingkar di pergelangannya.
“Jamku masih berdetak.” Mervin mengerutkan keningnya, harusnya waktu berhenti jika dia melakukan perjalanan ke masa lampau.
“Daripada aku mengeluh bagaimana dan kenapa sebaiknya aku jalan saja,” putus Mervin pada akhirnya.
Tempat Mervin terlempar di masa lampau ini sedikit aneh dengan tempat biasanya dia melakukan perjalanan waktu.
Jika biasanya dia terlempar ke sebuah hutan belantara atau sebuah ruangan yang pengap dan terkunci kali ini dia berada di tengah keramaian.
Bahkan dia berada di jalanan raya. Banyak orang berlalu lalang di sana, juga banyak kendaraan yang berlomba-lomba meluncur di jalanan yang padat merayap.
“Di mana ini sebenarnya?”
Mervin memilih berjalan di trotoar karena jalan raya ramai. Ia takut ada mobil yang menyerempetnya.
Dengan kondisinya yang belum pulih dari luka, membuatnya sedikit kesulitan saat berjalan. beberapa kali dia berhenti saat merasakan kakinya ngilu.
__ADS_1
Malah saat ini ia duduk di tepi trotoar. Di tatapnya pejalan kaki yang lewat di depannya, sambil menunggu kakinya pulih.
“Ini tahun berapa?” gumamnya, melihat pejalan kaki wanita mengenakkan blazer panjang selutut berwarna merah cabe, juga mengenakan topi.
Baru kali ini dia terlempar ke masa lampau dan bertemu dengan penghuni di masa lampau seperti ini.
Mervin beralih menatap kendaraan yang melintas di depannya. Mayoritas kendaraan yang lewat adalah sedan tipe Volkswagen.
“Apakah ini tahun 1937? Karena di tahun itu mobil seperti ini banyak dipakai oleh warga. Mervin yang suka membaca literatur sejarah tentu saja langsung bisa menebak tahun berapa jika dilihat dari jenis kendaraannya.
Mervin belum yakin di mana dirinya berada saat ini. Ia berusaha mencari informasi lagi agar lebih meyakinkan dirinya.
Angin bertiup saat itu dan tak sengaja menerbangkan sebuah kertas ke arahnya. Tepatnya sebuah sobekan halaman koran jatuh tepat di kaki Mervin.
“Koran? Semoga saja ini bisa memberikan informasi padaku.”
Diambilnya koran tersebut dan segera dibacanya. Sebuah artikel berita yang menyebutkan saat ini tahun 1935.
“Jadi perkiraanku tidak meleset jauh?” pekik Mervin, terkejut.
Bagaimana bisa dia terlempar ke masa ini. Di tengah rasa bingungnya dia kembali menyampaikan pandangan ke seisi jalan.
Banyak pejalan kaki yang lewat dan nampaksibuk, tak mungkin dia bertanya pada mereka. Sedangkan di belakangnya ada seorang pria tua, berambut putih dengan pakaian lusuh duduk beralaskan koran di depan sebuah emperan toko yang belum buka.
Daripada bertanya pada orang sibuk, Mervin memutuskan untuk bertanya pada pria tadi yang menurutnya mungkin saja seorang pengemis karena di depannya terdapat kaleng dan beberapa koin recehan di sana.
“Tuan, permisi. Aku ingin bertanya padamu. Jika boleh tahu ini kota apa?” tanyanya, dengan berjongkok untuk mensejajarkan kedudukan mereka.
Namun anehnya pengemis itu tak meresponnya bahkan menatapnya saja tidak.
__ADS_1