
Gwen masih tak percaya menatap layar ponsel di tangannya. Begitu banyak komentar dari banyak akun yang ingin membeli barang antik tersebut.
“Bagaimana ini?” pekiknya, berpikir. Apakah dia benar-benar harus melepas benda itu ataukah mempertahankannya?
“Aku tidak berani memutuskannya sendiri. Lebih baik aku tunggu Mervin pulang saja, nanti baru aku akan ceritakan padanya,” gumamnya, mengambil keputusan.
Meskipun Mervin sendiri sudah menyatakan jika patung Dewi Venus itu miliknya tapi tak sepenuhnya ia mempunyai kewenangan pada benda itu. Bagaimanapun juga benda itu awalnya milik Mervin.
“Kapan dia akan pulang?”
Gwen lalu menatap jam yang tergantung di dinding kamar yang menunjukkan pukul 13.00.
Mervin sendiri belum pulang sejak tadi pagi. Memang tidak mesti pria itu pulangnya setiap hari. Terkadang jam 11.00 siang sudah pulang jika korannya laku terjual semua.
Terkadang di atas jam 13.00 baru pulang, dan paling sore pukul 15.00 Mervin pulang. Tergantung pada banyaknya koran yang terjual.
Kriek! Suara pintu kamar terbuka.
Mervin pulang jam 15.00. Hari ini pembeli agak sepi, makanya dia pulang agak sore.
“Gwen....” panggilnya, namun tak ada respon.
Manik matanya kemudian terkunci pada sosok yang terbaring di tempat tidur.
“Dia tidur rupanya,” desisnya lirih, tak ingin membangunkan wanitanya.
Mervin menaruh tas pinggang coklatnya yang biasa menemaninya bekerja setiap hari, ke laci.
Ia kemudian duduk di sebuah sofa yang ada di kamar, dekat pintu kamar.
Niatnya ingin duduk bersandar saja namun beberapa menit setelahnya ternyata ia tertidur.
“Jam berapa ini?” pekik Gwen, membuka mata. Lalu menatap ke arah jam dinding.
Apakah Mervin belum pulang juga? batinnya, lalu menyapukan pandangan ke sekitar ruangan.
Tatapannya terkunci pada sosok yang duduk diam dan memejamkan mata.
“Kapan dia datang? Kenapa aku tidak tahu?”
__ADS_1
Gwen lalu turun dari tempat tidur dan berpindah duduk di samping Mervin.
Dia pasti lelah sekali, bekerja seharian, batin Gwen lagi.
Ia duduk sepelan mungkin agar tidak membangunkan lelakinya itu, tak ingin mengganggu waktu istirahatnya.
Ia pernah melihat sendiri Mervin penjajakan Korannya di jalanan yang panas dan ramai. Belum lagi berteriak, menawarkan. Pasti lelah sekali.
Dia tahu itu karena apakah suatu hari diam-diam dia mengikuti Mervin pergi. Dan dari kejauhan ia melihat Aktivitas apa saja yang dilakukan oleh suaminya itu ketika berjualan koran.
“Gwen?”
Mervin yang perasa pun membuka mata, karena merasa barusan ada yang duduk di sampingnya. Meskipun itu pelan sekali nyaris tak bersuara.
“Aku jadi membangunkanmu,” tutur Gwen menyayangkan sekali lelakinya itu bangun karena dirinya.
“Tidak, aku tadi memang ketiduran,” tandasnya langsung.
Berhubung Mervin sudah bangun maka Gwen mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan banyaknya komen dari akun yang menulis di dinding media sosialnya, menawar patung Dewi Venus.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Gwen, setelah menunjukkan komentar dari postingannya ini jumlahnya bertambah menjadi ribuan komentar hanya dalam waktu sehari saja.
“Aku terserah kau saja, barang itu sudah ku berikan padamu dan jadi milikmu.”
Sekarang ganti Gwen yang bingung, ia sebenarnya senang dengan patung Dewi Venus tersebut, tapi membaca nominal tinggi yang ditawarkan goyah juga hatinya.
Apalagi jika emang bener laku dengan harga tinggi maka tabungannya akan semakin banyak saja.
“Bagaimana jika aku biarkan saja mereka yang ingin melihat benda ini melihatnya dulu. Lalu jika jam berapa di antara mereka menawarkan harga yang bagus maka aku akan mempertimbangkannya dulu,” bisiknya lirih.
Mervin hanya mengangguk sembari tersenyum tipis. Sebenarnya dari awal ia ingin menjual benda itu saja tapi ia tak ingin melukai perasaan Gwen dengan menolak keinginannya. Karena dia sadar diri selama ini belum membahagiakan wanitanya itu.
***
Pagi hari esoknya.
Di rumah Eric, banyak orang datang ke sana.
“Siapa mereka? Kenapa banyak orang datang kemari?” pekik Eric dari dalam rumah.
__ADS_1
Di ruang tamu saat ini tampak penuh, bahkan Mervin sampai mengajak mereka ke teras rumah saja daripada nanti ayah mertuanya itu marah padanya karena membikin suasana rumah gaduh.
“Tolong semuanya untuk tenang dulu. Kalian boleh melihat dan memegang patung Dewi Venus ini satu per satu tapi harus antri,” ucap Mervin tegas, sebelum mereka semua saling berebut.
Para tamu itu mendengarkan ucapan Mervin dan diam seketika. Mereka yang datang dari berbagai kalangan. Ada juga beberapa kolektor barang antik yang datang ke sana.
“Ini, silahkan dilihat atau dicek. tolong maju satu per satu terlebih dulu,” ucap Mervin lagi.
Setiap orang kemudian mempunyai kesempatan untuk melihat, memegang dan mengecek benda tersebut asli atau tidak.
“Tuan, aku ingin membelinya $ 1.500,” ucap seorang pria yang terlihat tertarik pada benda antik tersebut.
“Aku akan membelinya $ 2.000.” Pria lain menawar dengan harga yang lebih tinggi.
Padahal Mervin tidak melelang benda tersebut. Namun banyak dari mereka yang hadir menawar lagi barang tersebut dan menaikkan harganya hingga harga tertinggi.
“$ 5. 000.” ucap seorang kolektor barang antik, menawar dengan harga tertinggi.
Mervin menoleh ke arah Gwen tak bisa memutuskannya sendiri.
“Harga yang disebutkan pria itu sangatlah tinggi. Mungkin jika aku melepasnya, Mervin akan bisa mencari barang antik lainnya,” lirih Gwen, berpikir.
Ia pun kemudian mengangguk.
“Baiklah, Tuan Orlando, Anda boleh membawa barang ini,” ucap Mervin pada akhirnya, setelah Gwen memberikan kode padanya.
Kebanyakan dari mereka yang datang tampak kecil patung itu jatuh pada seorang kolektor. Tapi mereka bisa apa karena tak punya nominal sejumlah itu.
Tuan Orlando pun segera membayarnya dan membawa barang tersebut.
Setelah rumah sepi, keluarlah Eric, menyusul mereka berdua yang saat ini berada di ruang tamu.
“Mervin, kenapa kau membuat rumah ini gaduh?!” hardiknya, keras. Padahal dia melihat dengan jelas terjadi transaksi pembelian di rumahnya dan saat ini menantunya itu membawa banyak uang.
“Ma-maaf, Ayah. Lain kali aku tak akan mengulanginya lagi,” jawabnya terbata-bata.
“Tak ada kata lain kali jika besok atau selanjutnya masih banyak orang yang datang kemari maka aku tak akan segan memberimu pelajaran!” bentaknya, lebih keras.
Eric pergi setelah menatapnya tajam dan juga mendorong Mervin hingga membentur dinding.
__ADS_1