
Boom! Seketika terdengar suara ledakan beruntun pada puncak gunung tersebut.
Sesuatu hal yang sangat aneh dan mustahil sekali. Sebuah gunung berselimut kan salju tebal bisa meletus seperti ini.
Yang lebih mengherankan lagi tidak keluar lava dari puncak gunung yang meletus itu. Tapi mengeluarkan sesuatu ya sangat mustahil dan di luar akal sehat.
“Berlian? Apa aku tak salah lihat?” pekik Mervin. Ia tak mempercayai penglihatannya sampai mengucap kedua bola matanya.
Suara letusan kembali terdengar dan setiap kali suara ledakan berakhir, berlian menyembur keluar dari gunung es tersebut. Sampai saat ini saja jumlah berlian yang terkumpul sudah setinggi tiga meter dan sepertinya akan masih bertambah sampai letusan itu benar-benar berhenti.
“Max, kita tunggu saja sampai gunung ini berhenti meletus baru kita ke bawah untuk melihatnya,” terang Mervin.
Max yang merupakan anjing setia pada majikannya hanya membalasnya dengan gonggongan saja, lalu mendekati majikannya tersebut.
Satu jam berlalu dan ledakan gunung itu belum juga selesai sampai saat ini. Terlihat jumlah berlian yang ada di sana saat ini sudah setinggi enam meter. Sudah lebih tinggi dari pohon paling tinggi yang berada di sekitar gunung. Mungkin berlian itu jumlahnya saat ini cukup dijadikan sebagai batu untuk membangun rumah.
Akan seperti apa rumah yang bahan dasarnya terbuat dari berlian? Mungkin hanya ada dalam impian. Jika pun memang ada sudah pasti itu sangat megah sekali.
Guk! Max membangunkan Mervin yang saat ini tertidur.
Entah Kenapa majikannya itu bisa tertidur di tengah suara ledakan yang cukup mengekang telinga seperti ini.
Guk! Karena Mervin masih belum bangun juga ya kembali membangunkannya dan saat ini ia menjilat muka Mervin.
__ADS_1
Terang saja Mervin yang merasa mukanya basah dan lembab seketika membuka matanya.
“Max, ada apa?” Mervin sampai tersentak, kaget mengira ada sesuatu yang terjadi.
Setelah Max tak menjilat mukanya lagi, Mervin bangkit dari duduknya. Ia perhatikan sekitar yang sekarang tampak tenang. Sunyi dan sepi seperti sebelumnya.
“Apakah letusan itu sudah berhenti?” pekik Mervin. Ia lalu menyembuhkan menikmatinya ke sekitar.
Benar saja, ledakan gunung sudah berakhir. Bahkan berlian yang merupakan hasil dari ledakan gunung, kini tingginya hampir sana dengan gunung yang meledak itu. Hampir bersentuhan dan hanya berjarak dua meter saja.
“Ayo, Max kita pergi ke sana sekarang!” ajak Mervin.
Max pun berlari secepat kilat saat majikannya itu sudah berjalan duluan menuju ke pusat ledakan gunung tadi.
Sekali lagi Mervin menyapukan pandangan ke sekitar. Khawatir jika ada bahaya yang mengancam seperti serangan binatang buas atau sesuatu yang tak terduga lainnya.
“Sepertinya keadaan memang aman sekarang,” gumamnya lalu kembali terfokus menatap benda bernilai tinggi di depannya itu.
Mervin sempat terdiam dan membayangkan bagaimana rasanya bermandikan berlian seperti itu. Rasanya surga dunia benar-benar runtuh dan ada di kakinya.
“Apa yang ku pikirkan. Itu tak penting. Sekarang yang terpenting adalah aku harus segera membawanya lalu kembali.”
Mervin mengambil satu berlian yang terdapat di bagian paling dasar. Sungguh tak disangka setelah senyumnya terbit karena berhasil membawa satu berlian. Terpaksa senyumnya itu harus kandas.
__ADS_1
Akh! Mervin berteriak karena tiba-tiba gunung berlian roboh, dan berceceran ke mana-mana.
Beberapa detik setelahnya tiba-tiba puncak gunung yang masih menganga setelah mengalami ledakan hebat berulang kali, menghisap Mervin masuk.
“Max! Jangan kemari!” teriak Mervin.
Anjing setia peliharaan itu melompat dan melemparkan tubuhnya mendekap Mervin. Ia pun ikut masuk dalam kawah gunung meskipun tidak terhisap.
Boom! kembali terdengar suara ledakan keras setelah Melvin dan Max masuk ke dalam bagian gunung lebih dalam.
Seketika kawah yang terbuka pada puncak gunung tadi tertutup. Tak hanya itu saja, kini gunung itu kembali berotasi dan kembali ke posisi semula, tidak dalam keadaan terbalik lagi.
Mervin terjun bebas dan terus terjatuh ke bawah bersama Max yang ada dalam dekapannya. Jauh di bawahnya sana terlihat nyala merah membara.
Apakah itu yang menyala di sana? Apakah itu lava? Kenapa saat gunung ini meletus tak mengeluarkan apa tapi saat masuk ke dalamnya ada sunga lava di sana.
Mervin bahkan tak bisa berpikir bagaimana jika dia masuk dalam kolam api tersebut. Ia tak bisa bayangkan mungkin daging dan kulitnya seketika meleleh dan menyisakan tulang-belulang saja.
Apakah aku akan benar-benar mati di sini?
“Tidak! Aku tak ingin mati di sini. setidaknya jika mati aku ingin mati di pangkuan Gwen. Bahkan aku pun belum mempunyai keturunan. Aku tidak tenang jika harus mati sekarang,” pekik Mervin.
Tubuhnya terus terhempas ke bawah bersama Max menuju sungai lava yang ada di bawah sana.
__ADS_1