
“Berapa tabungan kita sekarang?” tanya Mervin pada Gwen.
Mervin memang tidak hafal dengan nominal saldonya saat ini meskipun memang dia yang menyetorkan semua tabungannya. Tapi buku tabungan itu ia serahkan pada Gwen.
Menurutnya wanita lebih teliti dan hati-hati dalam menyimpan sesuatu, apalagi aset yang sangat penting seperti ini.
“Sebentar aku lihat dulu,” tukas Gwen.
Ia Mengambil buku tabungan yang ia simpan dengan rapi dan aman di brankas, lalu menyerahkannya pada Mervin.
Seutas senyum berkembang di sudut bibir Mervin setelah membaca nominal yang tertera di sana.
“Jumlahnya sudah bertambah,” gumamnya, lalu ia serahkan kembali buku tabungan itu pada Gwen untuk disimpan kembali.
Gwen sendiri merasa bangga dengan hasil kerja keras lelakinya selama ini. Meski tak setiap hari atau setiap minggu Marvin mendapatkan barang antik, tapi hasilnya sungguh di luar perkiraan.
Bahkan di rumahnya kini terpampang sebuah etalase kaca dengan kunci pengaman dobel. Karena isinya barang antik milik Mervin.
Pemasangan kunci ganda untuk waspada dan antisipasi saja ada pencuri atau sejenisnya yang masuk dan ingin mengambilnya. Karena Mervin tidak berada di rumah selama 24 jam penuh, maka dari itu dia memasang kunci pengaman ganda supaya dirinya tenang saat meninggalkannya.
***
Suatu pagi Mervin tetap berangkat, namun tidak menjajakan koran. Ia menuju ke rumah Kakek Ethan.
Kali ini dia tidak berdiam di ruang baca untuk mengganyang beberapa buku yang belum dibacanya.
Baginya mudah saja menghabiskan beberapa buku hanya dalam beberapa jam saja. Lagipula di perpustakaan milik kakak itu sudah banyak buku yang dibacanya. Mungkin ia malah perlu menambah koleksi buku-bukunya untuk persediaan jika semua buku nantinya akan habis dibacanya.
__ADS_1
“Selama ini aku hanya bisa pergi ke masa lalu Jika waktu berhenti dan Dalam keadaan terdesak saja. Aku ingin mencari tahu apakah ada petunjuk kunci lain yang bisa membawaku ke sana tanpa adanya rasa terdesak?” lirihnya, penasaran.
Bukan karena serakah ingin kembali ke sana dan mengambil banyak harta karun. Tapi ia tak ingin ada yang memanfaatkan kemampuannya lalu menempel ikut masuk ke sana, seperti Tuan Anderson beberapa waktu yang lalu.
Ya, setelah Tuan Anderson babak belur beberapa waktu yang lalu, ternyata tak membuatnya menyerah begitu saja. Malah namanya Semakin menjadi saja.
Pernah saat Mervin masuk ke masa lampau, pria itu yang ternyata mengirimkan banyak mata-mata untuk mengawasinya mendapati dirinya akan masuk ke masa lampau.
Dan tanpa sepengetahuan dirinya pria itu pun mendadak muncul lalu masuk bersamanya ke masa lalu di detik-detik terakhir pintu tertutup.
“Apa ya?”
Mervin berpikir keras mencari indikator lain yang bisa melemparnya ke masa lampau.
Ia mencoba berbagai cara. Mulai dari membuat dirinya sendiri terdesak atau melukai dirinya sendiri. Dan berakhir sia-sia saja. semua itu tak ada yang bereaksi.
Zap! Pintu menuju ke masa lampau terbuka.
Akh! Bahkan tanpa Mervin masuk ke pintu itu pun, pintu itu menyedotnya masuk dan membawanya ke masa lampau.
***
Beberapa waktu berlalu, setelah Mervin menemukan cara cepat untuk membuka pintu ke masa lalu dia pun beberapa kali bepergian ke sana, bahkan mengajak Gwen serta ke sana.
“Astaga, kita benar ke masa lampau!” pekik Gwen, terkejut. Begitu mereka keluar dari pintu dimensi.
“Ya, ini memang masa lampau,” tukas Mervin, lalu mengajak wanitanya itu untuk mencari harta karun di sana.
__ADS_1
Sementara di masa sekarang, tanpa siapa pengetahuan Mervin. Ada beberapa orang selain tuan Anderson, yang juga mencari informasi tentang dirinya.
“Kenapa akhir-akhir ini banyak orang asing berseliweran di depan rumah ini?!” gumam Eric, saat berada di depan rumah.
Dia saat itu sedang menunggu pelayan di rumahnya membersihkan mobilnya.
“Jangan sampai ketahuan dan sebaiknya pergi dulu,” ucap seorang pria berpakaian misterius dengan menggunakan kode pada rekannya.
“Baik, kita pergi. yang terpenting kita sudah mendapatkan informasi untuk Boss.”
Setelah dua pria mencurigakan tadi pergi datang lagi jam berapa pria misterius dan kebetulan Eric yang menemuinya.
“Tuan, aku ingin bertemu dengan Tuan Mervin,” ucap seorang pria berkacamata dan bertopi hitam.
Eric menautkan kedua alisnya.
Pria ini temannya Mervin. sudah kubilang jangan sampai ada orang asing kemari, tetap saja tak mendengarnya, geramnya dalam hati.
“Mervin tak ada! Dia pergi entah ke mana dan kapan kembali. Mungkin dia takkan pernah kembali,” sarkasnya, saat menjawab.
Pria misterius tadi pun segera pergi dari sana. Karena merasa dibohongi dan mencari cara lagi untuk bisa menemuinya.
Awas saja Mervin, jika bertemu denganku, tamat kau. Batinnya geram, dengan meremat tangan.
Di ujung jalan di balik pepohonan juga ada beberapa pasang mata yang mengawasi rumah Eric.
“Jika kita berhasil mengambil satu saja barang antik saja di sana mungkin, kita akan kaya,” desis seorang pria bertato berdecih riang.
__ADS_1