
Gwen segera menghampiri Mervin. Melihat lelakinya yang babak belur di hajar Ayahnya, hatinya pun terasa sakit.
Tapi apa yang bisa dia lakukan? Meski ayahnya itu sangat menyayangi dirinya, tapi soal Mervin dia tetap was-was. Karena ayahnya itu tak pernah mendengarnya jika dia meminta untuk bersikap lebih halus pada suaminya itu.
“Mervin, kau tak apa?” pekik Gwen panik. Melihat memar di wajah lelakinya itu.
Ia sampai meremat tangan dengan sikap ayahnya yang tak kunjung berubah. Padahal maksud Mervin baik, jika pun tak mau menerimanya setidaknya jangan menuduh apalagi sampai memukulnya seperti ini.
“Ayah benar-benar keterlaluan.”
Baru kali ini Mervin melihat Gwen semarah ini. Wanita lembut yang bahkan menginjak semut saja tak tega itu bisa segeram ini.
Gwen pergi meninggalkan Mervin setelah menatap ke arah ayahnya pergi.
“Kau mau ke mana, Gwen?”
Mervin menarik tangan Gwen, menahannya supaya tidak pergi.
“Aku akan bilang pada ayah dan jelaskan semuanya jika ini bukan uang hasil mencuri!” balasnya dengan nada tinggi.
Bukan kesal pada Mervin, tapi pada ayahnya.
“Tidak, jangan temui ayah. Aku khawatir dia akan marah padamu atau juga memukulmu,” timpal Mervin nampak khawatir, dan mempererat genggamannya.
Gwen berbalik, lalu menatap intens Mervin. Dia mencoba mempertimbangkan ulang saran dari lelakinya.
“Baiklah, kita ke kamar sekarang,” putusnya.
Mereka berdua masuk ke kamar setelah memungut uang yang tadi di sebar oleh Eric.
Di kamar, Gwen segera mengobati luka memar Mervin.
Hiss! Mervin hanya merintih menahan sakit saja, saat Gwen merawatnya.
Di bagian lain rumah Eric.
Terlihat pria itu masuk ke ruang tengah. Ia menaruh pantatnya dengan keras ke sofa.
__ADS_1
“Dasar menantu sampah. Tak berguna! Wajahnya saja yang tampan, tapi sikapnya memuakkan sekali! Bisa-bisanya dia sampai mencuri!” geramnya.
Ia masih kesal saja dengan Mervin. Baginya pria itu tak ada nilai plusnya sama sekali. Sungguh sangat disayangkan sekali, putrinya itu tertarik pada tampang Mervin saja.
“Jika ada seseorang yang datang kemari lalu mengadu padaku kehilangan uang, maka aku tak akan segan mengirimmu ke balik jeruji besi! Lihat saja nanti!”
Saking kesalnya, Eric sampai memukul dan menggebrak meja.
***
Keesokan paginya, Mervin masih diam merenung. Ia terpikirkan pada uangnya. Mau di kemanakan uangnya itu, ayah mertuanya tak mau menerimamya. Sedangkan dia belum ada rencana untuk membeli apapun.
Tak mungkin dia menyimpanmya di rumah.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Gwen, menghampiri Mervin yang masih diam melamun belum berangkat kerja.
“Gwen, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan dengan uangku.”
“Bagaimana jika untuk sementara waktu di simpan di bank dulu saja, sampai terpikirkan mau diapakan uang itu.”
Mervin mengangguk setuju. Dan ia pun cepat-cepat bersiap setelahnya.
Mervin lalu berangkat setelahnya. Ia lalu mampir ke bank sebelum menjajakan korannya.
Setelah mengambil nomor antrian, maka ia pun duduk menunggu untuk dipanggil. 30 menit berikutnya, teller memanggilnya.
“Nomor antrian 25, silahkan ke teller 5.”
Karena hari ini masih pagi, Mervin pun mendapat nomor antrian awal yang dilayani lebih dulu.
Mervin menuju ke teller 5.
“Saya ingin setor tunai,” ucapnya lalu mengeluarkan uang yang masih ada dalam amplop coklat dan belum berkurang selembar pun, masih utuh.
“Silahkan ditunggu dulu.”
Petugas teller menerima uang Mervin. Ia tak menyangka sama sekali dengan nasabahnya satu ini.
__ADS_1
Padahal dia kelihatannya seperti orang miskin, tapi ternyata uangnya banyak, batinnya menatap intens pria berpakaian rapi di depannya itu meskipun pakaian yang di kenakan Mervin juga bukan branded.
“Ini buku rekening Anda.”
Petugas teller menyerahkan buku rekening Mervin.
Mervin kemudian pergi setelah menerima buku rekening tabungannya. Dalam hati ia merasa lega, setelah melihat saldo di rekeningnya.
“Aku akan lanjut kerja sekarang. Jam segini biasanya ramai pembeli,” gumamnya lalu mengambil tumpukan koran yang ia taruh di luar.
“Astaga! Pria itu ternyata seorang loper koran?!” pekik teller yang tadi melayani Mervin, melihatnya menawarkan koran pada nasabah bank yang ada.
Tak menyangka saja seorang loper koran bisa menabung sebanyak itu, memang sesuatu.
“Terima kasih, Tuan.”
Mervin menerima uang pembayaran dari salah satu pembeli. Lumayan korannya sudah laku separuh di bank saja.
“Tinggal berkeliling lagi, pasti akan habis koran ini.”
Mervin kemudian menjajakan korannya di sepanjang jalan menuju ke perkantoran, juga jalanan di sekitar halte bus.
“Hari ini tak sampai siang, koranku sudah habis.”
Karena tak ada lagi koran yang bisa dijualnya, sedangkan tak mungkin ia pulang ke rumah. Atau ayah mertuanya itu akan kembali menghajarnya karena pulang lebih awal.
“Apa sebaiknya aku ke rumah kakek saja?” gumamnya.
Tanpa ragu maka ia pun pergi ke rumah Kakek Ethan. Di sana ia beristirahat dan melepas lelahnya.
Satu jam kemudian, tatapan Mervin terkunci pada jam tangan kakeknya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Aku yakin jam tangan ini yang membawaku ke masa lalu. Tapi aku tidak yakin bagaimna cara bekerjanya,” gumamnya.
Langsung saja ia melepas jam tangannya itu. Ia mengutak-atik jam tangan.
Anehnya sudah dua jam lebih ia mengutak-atik jam tangannya, tak ada yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
“Kenapa aku masih ada di rumah Kakek Ethan, dan belum pindah ke masa lalu?”