
Kini Mervin memutar otak bagaimana caranya mengalahkan binatang buas bertotol itu agar dirinya tidak menjadi mangsanya.
Untungnya, buaya tadi sudah pergi dan masuk ke sungai kembali. Meskipun telur emas itu dibawanya pergi, batin Mervin menyayangkan hal itu dan di saat bersamaan pula merasa beruntung dengan kepergian buaya itu.
Kini dia tinggal menghadapi macan tutul itu saja. Di dunia nyata saja dia tidak pernah bertemu dengan seekor macan, apalagi menghadapinya.
“Bagaimana cara mengalahkan binatang ini?” gumamnya, mencari cara.
Ia menatap ke arah bawah dan mencari kayu yang berujung runcing untuk dia pergunakan sebagai senjata, namun sayangnya tak ada.
Ck! Mervin berdecak, tak ada sesuatu yang bisa ia gunakan untuk pertahanan dirinya.
Dia kembali menatap ke bawah mencari apa saja yang bisa dipakai untuk melawan macan tersebut karena tak mungkin baginya melawan dengan tangan kosong, sama saja artinya dengan bunuh diri.
Mungkin batu ini bisa membantuku, batin Mervin melihat batu yang ada di sekitar kakinya dan berukuran besar lima kali lipat dari ukuran batu kerikil pada umumnya.
Mervin mengambil beberapa batu dengan cepat, sebelum macan itu semakin mendekat atau melompat dan menerkamnya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Mervin melempari macan itu dengan beberapa batu sekaligus.
Beberapa batu yang dia lempar meleset, dan beberapa lainnya mengenai kepala macan.
Aum! Tentu saja macan tadi mengaum, kesakitan juga tak terima karena mendapatkan timpukan batu seperti itu.
Ia menekuk dua kaki depannya ancang-ancang untuk melompat dan menerkam.
“Mungkin perlu banyak batu untuk melukainya,” gumamnya, melihat kepala harimau itu benjol.
Mervin kembali mengambil beberapa batu. Kali ini dia tidak mengincar bagian kepala binatang tersebut, tapi tatapannya terkunci pada bagian kaki.
Jika kakinya cedera atau tak bisa bergerak tak mungkin dia bisa melukaiku, batinnya, tiba-tiba terlintas sebuah ide begitu saja.
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Mervin Langsung melempar beberapa batu ke arah kaki harimau.
Tentu saja dengan ukuran batu sebesar itu membuat salah satu kaki binatang itu cedera. Kaki bagian belakang, tepatnya kaki kanan tampak cedera.
Aum! Macan tadi semakin marah melihat kakinya cedera. Meskipun sakit, dia pun tetap melompat untuk menerkam Mervin.
Dash! Mervin menampik binatang tersebut saat mendekatinya, dan membuatnya terlempar cukup keras, hingga membentur sebuah pohon.
“Rupanya dia tidak jera juga.”
Macan tadi bangkit kembali dan mencoba menerkam Marvin kembali meskipun salah satu kakinya cedera dan tubuhnya terasa remuk setelah menghantam pohon.
“Gawat! Bagaimna ini?!” pekiknya bingung, tak ada lagi sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk pertahanan diri.
Jam Mervin yang tadi sempat berdetak kembali setelah pintu dimensi ke masa depan tertutup, kini kembali berhenti sendiri.
Tik-tak! Mervin mendengar jam tangannya berdetak, di tengah kesunyian.
Pintu dimensi ke masa depan, aku mohon terbukalah, batinnya berharap, sembari berdoa.
Harimau tadi sudah ada tepat di belakang Mervin. Bahkan ia menggerakkan salah satu tangannya dengan cepat.
Crash! Cakar harimau tadi berhasil mencakar lengan kiri Mervin. Darah menetes meskipun lukanya tidak dalam.
Zap! Tepat di saat harimau itu akan menggigitnya sebuah sinar terang muncul di depannya.
Di tengahnya, terlihat pintu yang terbuka.
“Itu pasti pintu menuju ke masa depan!” pekiknya, sampai biji matanya melebar melihatnya.
“Aku harus segera masuk sebelum macan itu menyerangku kembali,” gumamnya, sembari melompat, karena pintu itu letaknya setengah meter dari tanah.
Hiss! Macan tadi juga sigap bergerak. Ia menggigit kaki kiri Marvin yang melompat masuk ke pintu.
“Sialan!” Mervin lalu menarik kakinya kemudian menendangnya dengan keras.
__ADS_1
Lima detik setelahnya pintu tertutup. Bahkan macan tadi pun sampai bingung mencari Mervin yang tiba-tiba hilang begitu saja.
Bugh! Lima detik setelahnya, Mervin keluar dari pintu dimensi, jatuh dari ketinggian satu meter kembali ke ruang baca.
“Astaga! Aku benar-benar kembali!” pekiknya, girang.
Terlihat buku yang tadi dibacanya masih ada di meja.
Dia beralih menatap patung kristal Dewi Venus yang dipegangnya.
“Aku harus tunjukkan segera patung ini padanya,” cicitnya, berpikiran wanitanya itu pasti akan menyukainya.
Tak lama kemudian, Mervin tiba di rumah. Ia langsung menuju ke kamarnya. Di sana sudah ada Gwen yang memang menunggu kepulangannya.
“Gwen, lihat ini!” Langsung saja ia Tunjukkan patung kristal yang
dibawanya.
“Mervin, apa yang kau bawa itu?”
“Ini patung Dewi Venus, barang antik dari Yunani Kuno,” tukasnya, menyerahkan harta karun itu.
“Ouh, Mervin tanganmu kenapa?” tanyanya, melihat goresan luka di tangan kiri Mervin.
“Ini terkena cakar harimau di sana tadi,” jelasnya juga menunjuk kakinya, yang terlihat bekas gigitan harimau di pergelangan kakinya.
“Aku akan obati lukamu sekarang,” balasnya, menaruh patung kristal tadi, lalu mengambil kotak peralatan obat di kamar.
Gwen sibuk merawat luka Mervin. Ia saat ini lebih mementingkan keselamatan suaminya daripada barang berharga yang dihadiahkan untuknya.
Tapi berbeda pemikirannya dengan Mervin. Baginya semua luka itu hanya luka kecil dan ringan yang tak sepadan jika dibandingkan dengan harta karun yang ditemukannya.
“Gwen, menurutmu kita apakan patung kristal ini?”
Gwen masih diam dan fokus merawat luka Mervin.
“Bagaimana jika aku menjualnya saja? Tabungan kita akan semakin banyak nanti,” tukas Mervin.
Gwen akhirnya menghentikan aktivitasnya sebentar dan menatap intens lelakinya, setelah melirik patung kristal yang ia letakkan di tempat tidur.
__ADS_1
“Jangan, jangan dijual dulu. Aku menyukai patung ini,” tolaknya, tak hanya sayang menjualnya, tapi juga menyukai patung bernilai estetika tinggi itu.