
Gwen langsung berdiri dari tempat duduknya saat ada yang menyebut namanya. Langsung saja ia berhambur keluar menuju ke sumber suara.
“Tuan Black Ash?” ucap Gwen.
Ia langsung mengenali sosok pria yang mencari dirinya tersebut, meski baru pertama kali ini melihatnya. Wajah pria itu mirip sekali dengan foto yang terpampang di akun Black Ash di media sosialnya yang mencecar barang antik miliknya.
“Itu bukan namaku yang sebenarnya. Namaku yang sebenarnya adalah Robinson.” ucapnya, datar.
Mervin hanya menatap pria itu dan kemudian beralih menatap Gwen. “Gwen siapa dia?” bisiknya lirih.
“Pria di akun media sosial,” jawab Gwen singkat, dengan berbisik pula. Ia akan menjelaskan apa tujuan pria itu kemari, tapi penjelasannya itu terpaksa harus ia tunda dulu. Karena pria tadi langsung saja masuk tanpa permisi.
“Di mana barang imitasi yang kau posting di media sosialmu itu, Nona?” Bahkan ia langsung menuju ke beberapa etalase yang ada di toko tanpa dipersilakan terlebih dahulu oleh Mervin ataupun Gwen.
Melihat gelagat pria yang aneh itu, Mervin segera mengikutinya masuk ke toko.
“Tuan, apa yang Anda cari? Mungkin aku bisa membantu,” tawar Mervin.
Ia berhenti di depan etalase karena pria itu berhenti di sana. Ia tak mau saja, entah tamu atau pembeli yang datang ini merupakan seorang penipu atau perampok seperti yang sudah- sudah, melihat dari gelagatnya tadi. Sebelum sesuatu yang tak diinginkan yang terjadi.
__ADS_1
“Tentu saja aku mencari perangko yang diposting oleh Nona Gwen di akun media sosial tadi. Aku ingin buktikan itu asli atau bukan. Karena menurutku itu barang palsu,” tukas Tuan Robinson.
Mervin awalnya tampak datar saja kini sedikit emosi juga saat pria asing entah siapa yang tak dikenalnya itu tiba-tiba datang ke toko dan men-judge perangko miliknya asli. Siapa sebenarnya dia dan apa maunya?
Apakah dia sebenarnya pencuri yang hanya berpura-pura saja menjadi seorang kolektor? Atau orang jahat lainnya? batin Mervin, jadi curiga.
“Gwen, Coba tunjukkan perangko yang kau posting tadi pada Tuan ini,” ucap Mervin.
Gwen yang ada di sisi lain etalase segera mengambilkan perangko tersebut lalu menyerahkannya pada Mervin.
“Boleh aku lihat perangko asli Anda, Tuan Robinson?” tanya Mervin. Ia beralih menatap pria asing tersebut semabari memegang album perangko miliknya kuat-kuat. Jaga-jaga saja jika pria yang itu akan merebutnya.
“Tentu saja.” Pria itu tersenyum miring kemudian mengeluarkan album perangko miliknya.
“Permisi Tuan, boleh aku lihat perangkomu?”
Mervin menggeser sedikit album Perangkonya namun tetap memegangi bagian ujungnya.
Tuan Robinson lalu melihat satu perangko Mervin yang sama dengan perangko miliknya menggunakan lup. Sebuah perangko bergambar Raja Friedrich I Barbarossa, Raja yang pernah memimpin kerajaan di Jerman dan mencapai puncak kejayaannya dengan background hijau.
__ADS_1
“Ini, garis horizontal di belakang perangko kita berbeda. Punyamu ada tiga garis vertikal putih sedangkan pada perangko milikku ada lima garis vertikal putih. Jelas punyaku yang asli. Lalu pada gambar Raja Friedrich I sendiri juga ada perbedaan. Di perangkomu ada tahi lalat di pipi bagian kiri, sedangkan pada perangko tahi lalatnya ada di bagian pipi kanan,” jelas Tuan Robinson yang menjelaskan perbedaan lainnya.
Intinya dia menunjukkan semua bukti ketidak keaslian perangko milik Mervin dan perangko miliknya lah yang asli.
Hah! Mervin sendiri hanya menghembuskan napas kasar. Entah kenapa datang lagi orang aneh yang tidak jelas maksudnya apa.
Perangko milikku pasti asli, karena tidak mungkin barang ini palsu. Aku mengambilnya sendiri di tahun itu. Tapi bagaimana bisa pria ini malah menyatakan barang miliknya lah yang asli? Apa dasarku untuk menyanggah argumen palsunya itu? batin Mervin, berpikir keras.
Ia masih awam dengan dunia filateli. Karena sebelumnya ia juga tak pernah mengoleksi barang seperti itu apalagi ini perangko kuno sekali. Sedangkan Tuan Robinson seperti sudah ahli dan mengenal sekali dunia filateli.
“Tuan, Anda jangan asal bicara dan memfitnah barangku adalah barang palsu. Bisa jadi milik Anda yang sebenarnya palsu.” Mervin mencoba membaiknya.
Ia yakin miliknya yang asli dan pria aneh itu yang palsu. Dan sekarang dia sedang berpikir keras untuk membuktikan ucapannya itu.
“Oh ya? Bagaimana kau bisa mengatakan punyaku palsu? Coba tunjukkan padaku.”
Mervin pun akhirnya mengeluarkan Ilmu tentang sejarah yang diketahuinya. Dia mengatakan tiga garis vertikal pada perangko merupakan prinsip dasar terkenal Raja Friedrich I, jadi lima garis vertikal itu salah.
Tak hanya itu saja, Mervin bahkan bisa menyangkal mengenai tahi lalat di bagian kanan adalah salah dan yang benar adalah tahi lalat pada bagian pipi kiri yang sebenarnya adalah bekas luka tusukan akibat sebuah perang.
__ADS_1
Apa benar, perangko milikku palsu? Kini Tuan Robinson beralih jadi ragu pada miliknya sendiri.
Jika memang perangko ini asli maka sebaiknya aku tukar saja dengan punyaku. Atau Lebih baik aku bawa semuanya saja. batin pria itu lagi, dengan mengulas seringai.