Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah

Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah
Eps. 36 Asap Berbahaya


__ADS_3

Tuan Robinson masih menatap album perangko yang dipegang Mervin pada bagian ujungnya.


Apa yang sebenarnya pria ini pikirkan? Dia bilang punyaku palsu tapi sekarang dia menatap perangko punyaku tanpa berkedip, batin Mervin dan mempunyai pikiran buruk.


Ia juga waspada kali ini. Meskipun belum tentu benar juga pikiran negatifnya itu. kejadian buruk sebelumnya membuatnya sangat waspada sekali.


Bagaimana caraku membawanya tanpa kecurigaan? Meskipun aku sendiri juga masih ragu, apakah barang milik pria ini memang asli? Aku bisa tanyakan itu pada ahlinya, batin Tuan Robinson.


Pria itu tampak berpikir mencari ide.


Sedangkan Gwen tampak menatap layar ponselnya. Bukan melihat akun media sosialnya untuk melihat banyak komen lain yang masuk tapi dia search informasi mengenai Black Ash.


Ayolah, aku harap aku menemukan informasi mengenai Balck Ash, batin Gwen.


Ia sedari tadi mencari informasi tentang itu mungkin saja itu nama suatu kelompok atau apa, tapi begitu banyak informasi Balck Ash yang muncul, mulai dari merk baju hingga nama sebuah kelompok.


Sepertinya nama semua kelompok ini lebih masuk akal daripada informasi lainnya, batin Gwen lagi.


Ia membaca dengan cepat informasi mengenai sebuah kelompok bernama Black Ash.


Diterangkan jika kelompok Black Ash merupakan sebuah kelompok kolektor barang antik. Namun anggota mereka terdiri dari mafia. Ya, tentu saja citra mafia tidaklah baik.

__ADS_1


“Astaga, jadi Tuan Robinson adalah mafia?!” pekik Gwen sampai tak percaya membaca informasi tersebut.


Ia sampai mengatupkan bibirnya saat membaca informasi lanjutan mengenai sepak terjang kelompok Black Ash.


Disebutkan jika Black Ash juga mempunyai black market. Apa saja bisa dipesan pada mereka, termasuk organ dalam sekalipun. Tapi jangan ditanya berapa harganya? Bisa dihitung sendiri jumlah deretan nol yang harus disetorkan pada mereka.


Mereka semua kaya, bisa dibilang hidup bermandikan uang. Tapi jangan ditanya berurusan dengan mereka itu berbahaya. Bisa-bisa nyawa jadi taruhannya. Sudah ada banyak korbannya. Sebenarnya itu semua sudah bisa dilihat dari penampilan mereka bisa dibilang menyeramkan.


“Bagaima bisa aku berurusan dengan orang seperti mereka? Padahal aku belum membalas pesannya tapi dia sudah datang ke sini dan menemukan alamat ini dengan tepat,” pekik Gwen, risau.


Mervin beberapa kali menatap Gwen. Mungkin ikatan antara suami dan istri memang kuat, jadi apa yang dirasakan oleh wanitanya, dia pun bisa merasakan.


Kenapa Gwen tampak panik begitu? Dan lagi dia menatapku dengan berkeringat dingin seperti itu, batin Mervin.


Jika aku pergi dan meninggalkan album perangko di sini, atau etalase ini mungkin semuanya akan raib dibawanya. Bagaimana ini? batin Mervin bingung. Tapi ia yakin ada nanti yang buruk mengenai pria di sampingnya saat ini.


“Tuan, permisi. Jika sudah tadi yang perlu dibicarakan lagi aku akan menyimpan kembali album perangko ini,” ucap Mervin mengakhiri dengan maksud untuk mengamankan barang miliknya.


Tapi bukan Balck Ash namanya jika tidak penuh dengan tipu muslihat.


“Oh, Tuan tunggu! Jangan masukkan album itu dulu. Aku ingin melihat koleksi perangko mu lainya dan menyamakannya denganku,” larang Tuan Robinson.

__ADS_1


“Maaf, aku tidak ingin ada seseorang yang tidak jelas mau beli barangku atau tidak tapi hanya kembali untuk membuat fitnah,” tandas Mervin.


Ia benar-benar tak ingin lagi mendengar bualan dan makian pria itu yang pastinya akan mengatai barang miliknya semuanya adalah palsu.


“Maaf, aku tak bermaksud demikian. Aku hanya menyampaikan saja sejujurnya. Faktanya memang demikian,” bantahnya. Mencoba untuk bersikap rendah diri dan menundukkan diri di depannya untuk meraih kepercayaan Mervin.


Dengan berat hati, Mervin membatalkan niatnya untuk menyimpan album perangkonya itu dan membiarkan Tuan Robinson melihatnya kembali. Namun ia masih tetap memegangnya dengan erat.


Ck! Pria ini tak melepaskan tangannya dari album ini. Jadi jangan salahkan aku menggunakan cara licik, batin Tuan Robinson tersenyum dalam hati.


Pria itu pura-pura melihat kembali perangko tersebut menggunakan alat pembesar, lalu satu tangan lainnya merokok saku baju dan mengeluarkan cerutu.


“Maaf, Tuan. Aku mau menghisap cerutuku di sini.” Pria itu menyalakan cerutunya tanpa menunggu jawaban dari Mervin.


Css! Asap segera menguar setelah Tuan Robinson menghisap cerutunya.


Entah kenapa perasaan Mervin tak enak saat menghirup sedikit asap itu. Ada aroma lain dalam asap itu, sedikit harum yang juga bercampur dengan rasa pahit cengkeh.


Bugh! Dari arah sebenarnya tiba-tiba saja Gwen ambruk setelah menghirup asap tersebut.


“Gwen!” teriak Mervin. Bahkan dia pun merasa sedikit pusing namun setelah hirupan nafas pertama, dia menahan nafasnya sampai sekarang, sehingga ia tidak pingsan.

__ADS_1


Shat! Tuan Robinson memanfaatkan kesempatan yang ada di saat Marvin lengah dan perhatiannya teralihkan begini dia segera menarik album perangko tersebut lalu kabur membawanya.


__ADS_2