Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah

Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah
Eps. 24 Apakah Eric Sadar?


__ADS_3

Tuan Wilson menatap tajam Mervin, masih mencengkram kerah bajunya dan malah mempererat cengkeramannya.


“Jika kau tak mau kerjasama dengan sistem bagi hasil denganku, maka lihat saja nanti!” hardiknya keras.


Mervin menatap lurus bola mata coklat Tuan Wilson tanpa rasa takut sedikit pun. Ia pun menepis tangan Tuan Wilson dari kerah bajunya.


“Aku sudah jelaskan pada Anda di awal, jika setuju aku akan menyewa tempat saja. Dan menurutku aslinya adil jika begitu,” tegas Mervin lagi.


Namun Tuan Wilson tak bisa diajak bicara atau berunding lagi. Pria itu kemudian segera pergi dari rumah itu.


“Lihat saja nanti, aku akan membuatmu menderita!” geram Tuan Wilson, mengepalkan tangannya sempurna, penuh kebencian juga seringai senyum licik.


“Mervin!” panggil Gwen, setengah berteriak. Karena sedari tadi memanggil ayahnya tak datang, makanya ia beralih memanggil suaminya.


“Astaga, Gwen!”


Mervin yang masih berdiri menatap ke luar pintu pun segera berlari menuju ke kamar.


“Gwen, ada apa?” tanyanya, setelah tiba di depan pintu kamar.


“Keluarkan aku dari sini, cepat.”


Mervin memutar handle pintu ternyata dikunci.


“Apa ayah yang menguncimu?” tanyanya lagi, sebelum membuka paksa pintu yang artinya merusaknya.


“Ya, aku nggak tahu kenapa dia mengunciku.”


“Baiklah, mundur lah.” Mervin kemudian memutar handle pintu dengan keras dan membuat pintu terbuka setelah dia mendorongnya keras.


“Mervin!” Begitu pintu terbuka Gwen segera memeluk lelakinya, Mervin membalasnya dengan mengusap puncak kepala Gwen untuk menenangkannya.


Dari belakang Eric tentu saja mendengar suara tersebut. Dengan cepat pria itu berpindah ke depan.


“Mervin! beraninya kau membukakan pintu Gwen!” hardiknya, dengan wajah merah dan mata membulat penuh menatap Mervin.


Amarahnya saat itu memuncak. Ditambah sebelumnya Tuan Wilson yang bersikap kasar padanya, membuat emosinya semakin meninggi. Dan ia luapkan semua kemarahannya pada Mervin.

__ADS_1


“Maaf Ayah, aku tak tega saja mendengar Gwen ketakutan di dalam kamar,” ucapnya pelan.


Namun meskipun begitu tetap saja membuat Erik marah. Baginya apa yang dilakukan Mervin tak ada benarnya.


Mungkin awalnya saja sudah tidak suka jadi meskipun yang dilakukan bukan hal yang salah tetap saja di mata Erik itu salah dan patut dipersalahkan.


“Aku mengunci Gwen untuk keselamatannya. Kau tahu tidak?! Aku tak mau putriku dilukai oleh pria aneh tadi yang juga kasar padaku!” hardiknya, keras.


Mervin diam saja. karena ia tahu jika menjawab lagi akan lebih panjang lagi jawabannya dan semakin rumit masalahnya.


Di saat Mervin menunduk, Eric yang kalap segera mengambil apa saja yang ada di meja. Saat itu ada asbak kaca. Dan ia menyahutnya.


Prang! Eric memukul kepala Mervin dengan asbak tadi.


Asbak pecah dan kepala Mervin berdarah.


“Mervin!” pekik Gwen, segera mendekap Mervin.


Beberapa detik setelahnya Mervin ambruk tak sadarkan diri.


***


“Dia itu lelaki. Pukulan kecil seperti itu tak akan membunuhnya. Jangan terlalu memanjakan pria sampah itu!”


“Luka kecil begitu akan pulih dalam waktu maksimal 3 hari saja dan itu jauh dari nyawanya. Biarkan itu jadi pelajaran baginya agar tidak berani melawan perintahku!


“Tak perlu mengobatinya segala. Dia akan pulih dengan sendirinya. tubuh kita mempunyai kemampuan untuk memulihkan diri dengan baik!


Gwen mengusap air matanya setelah terngiang semua kata yang diucapkan oleh ayahnya.


“Jangan menangis. Aku tak apa, Gwen,” ucap Mervin merasa sesak dan perih dadanya.


Bahkan rasa perih itu rasanya lebih perih daripada luka di kepala yang kini sudah diperban Gwen.


“Mungkin jika aku bisa buktikan pada ayah, sikapnya akan berubah padaku,” ungkap Mervin.


Ia sudah biasa dihina dan juga dihajar oleh mertuanya itu. Tapi tetap saja, semua itu bisa ditahannya demi bersama Gwen.

__ADS_1


“Aku bisa menerima semua ini asal kau selalu berada disampingku.”


Gwen langsung memeluk Mervin mendengar apa yang meluncur dari bibir lelakinya itu.


Di kamar Eric


“Apa yang kau lakukan pada Mervin? Apa salahnya?” tanya Debby, ibunya Gwen.


Eric duduk di tempat tidur. meskipun dia sudah meluapkan semua amarahnya pada Mervin hingga pria itu babak belur namun rasa bencinya pada Mervin, belum luntur juga.


“Banyak sekali salahnya. Dan kesalahan besarnya adalah menikahi putri kita.”


Debby sampai menepuk bahu Eric.


“Pikirkan Gwen. Pikirkan hidupnya ke depan. Tak selamanya kita bisa menemaninya. Jika sesuatu terjadi pada Mervin, bagaimana dia? Aku tak bisa bayangkan...”


“Cukup! Debby cukup, jangan bicara lagi!”


Melihat reaksi suaminya yang masih terbakar emosi maka Debby pun diam. Ia keluar dari kamar menuju ke ruangan lain.


Sementara Eric tampak menunduk di sudut ruangan dengan memegang kepalanya yang terasa berat.


***


“Kau mau bawa makanan itu kemana Gwen?” tanya Eric pagi harinya, menatap makanan yang di bawa.


“Ini untuk Mervin, Ayah.”


Kali ini pria itu hanya diam tak merespon sama sekali. Bahkan ia tak menghalangi Gwen mengantarkan makanan untuk menantu sampahnya dan amerikanya pergi berlalu begitu saja.


“Buka mulutmu lebih lebar,” ucap Gwen, di ruang tamu.


Ia sedang menyuapi lelakinya dengan sup iga sapi.


“Gwen, berikan itu padaku, aku akan makan sendiri. Aku tak mau jika ayah melihat, mungkin tangan atau kakiku akan patah setelah ini.”


“Tidak, menurut lah.”

__ADS_1


Gwen tak menghilangkan permintaan Mervin dan tetap menyuapinya.


Dari belakang sana, Eric mengintip mereka berdua. Dadanya sungguh terasa sesak melihat senyum Gwen. Tapi tak ada yang bisa dilakukan.


__ADS_2