
Karena pengemis tadi tak mendengar panggilannya, maka Mervin mengulangi lagi ucapannya.
“Tuan, permisi. Apakah Anda bisa mendengarku?” ucapnya agak keras dari yang sebelumnya. Karena mungkin saja pengemis itu kurang dengar karena jalannya ramai saat ini.
Meskipun Mervin sudah mengeraskan volume bicaranya, namun pengemis tadi tetap tak menjawab pertanyaannya.
“Aneh sekali. Apakah dia tuli? Ataukah memang suaraku kurang terdengar karena jalanan yang ramai,” gumamnya, menekuk kedua alisnya.
Bahkan Mervin kini lebih mendekat dan bicara tepat di telinga pria itu.
“Tuan, permisi, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
Tak ada respon, sama seperti sebelumnya.
Aneh sekali, bahkan Mervin sampai geram sendiri rasanya dan ingin saja berteriak di telinga pengemis itu jika saja ia tak bisa menahan emosinya.
“Apa mungkin pengemis ini buta? Atau bisa jadi dia buta dan tuli?” tebak Mervin, dengan kemungkinan lainnya.
Untuk membuktikannya maka ia mengangkat telapak tangan kirinya di depan muka pria tadi. Ia lalu menggerakkan telapak tangannya itu ke atas dan ke bawah. Namun pengemis tadi seperti tak melihat tangannya dan tatapan manik mata pria itu tetap tertuju pada koin yang ada di kaleng bekas.
“Aneh sekali...” ceplos Mervin sampai garuk-garuk kepala. Ia benar-benar telah kehabisan ide Bagaimana cara bicara dengan pengemis itu.
Mervin belum menyerah. Ia tetap mencari cara lain agar bisa berkomunikasi dengan pengemis tersebut karena tak ada yang bisa di adanya bicara saat ini selain dia.
Para pejalan kaki tampak berjalan cepat dan tak ada yang berhenti sedangkan kendaraan juga berlalu-lalang di jalan tak mungkin dia mengejar ataupun bertanya satu persatu pada kendaraan yang berhenti di lampu merah.
Mervin sendiri mengunci pandangannya pada koin milik pengemis tersebut.
“Mungkin jika aku mengambil satu koinnya ataupun membawa semua kalengnya pengemis ini pasti tahu,” gumamnya setelah menemukan ide.
__ADS_1
Ia mencoba mengambil satu koin lalu mengembalikannya lagi pada kaleng tersebut.
Crang! Terdengar suara dan teman koin yang saling beradu karena memang baru sengaja memasukkannya dengan keras.
Manik mata pengemis tadi segera menyipit setelah mendengarkan suara tersebut. Ia bahkan mengambil kalengnya yang berisi koin dan melihatnya dengan merinding.
“Apakah ada hantu di sini? baru saja koin ini berdenting sendirian, padahal tak ada siapapun di sini.” Pengemis itu segera memegang tengkuknya yang meremang plus dingin.
Sekujur tubuhnya pun ikut merinding seketika.
“Jadi, dia bukannya tidak bisa mendengarku tapi dia tidak bisa melihat keberadaanku?!” pekik Mervin menyimpulkan setelah mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh pengemis tersebut barusan.
Kali ini pria itu tampak semakin bingung...
“Jika pengemis ini tak bisa merasakan keberadaanku berarti apakah aku sudah mati?!”
Mervin ketika merinding. Bulu duduk di seluruh tubuhnya meramal satunya pikiran seperti itu. Langsung saja ia cek sendiri dengan mencubit keras salah satu tangannya.
Semua ini semakin membuat Mervin bertambah bingung saja bahkan saai ini kepalanya mulai terasa berdenyut.
Hah! Mervin mengejek napas berat.
Di tengah kebingungannya itu kemudian duduk. Dia mencoba tanah dan berpikir orang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Satu tes terakhir akan mengungkap apa yang ada di pikirannya saat ini.
Mervin mencoba menyentuh pengemis itu.
Oops!
__ADS_1
Ternyata tangannya menembus tangan pengemis tadi, persis seperti hantu saat menyentuh manusia.
“Jadi, kami berdua sama-sama hidup tapi tak bisa terhubung. Aku bisa melihatnya saja tapi tak bisa menyentuhnya. Sedangkan dia bisa melihat pergerakanku tapi tidak mengetahui keberadaanku. Cukup rumit, paparnya, kembali memegang kepalanya yang terasa semakin berdenyut pusing.
Mervin kembali mengunci pandangannya pada kaleng berisi koin. Ia penasaran saja untuk melihat jenis koin pada tahun ini. Diambilnya satu koin tersebut dari kaleng, dengan pelan.
Pengemis ini ternyata tidak tahu saat aku mengambil koinnya.
Pada koin lima sen yang diambil Mervin terdapat gambar Napoleon Bonaparte.
“Ini merupakan barang antik meskipun bukan berbahan dasar emas.” Tiba-tiba saja Mervin mengulas senyum di sudut bibirnya.
Ia memasukkan koin tersebut pada saku bajunya untuk mengetesnya.
“Koin ini bisa kusimpan, rupanya.” Ia mengambil satu koin lagi, koin 10 sen lalu memasukkannya kembali ke saku bajunya.
“Ternyata koin ini tidak hilang!” serunya, terkejut bukan main.
Di keluarkannya lagi koin tersebut dari sakunya dan dilihatnya.
“Sayang sekali, jika tak membawa koin ini. Maaf Tuan, aku ambil koinmu,” ucapnya, sembari melihat tiga kaleng lainnya yang ada di sana dan berisi penuh koin.
Jadi sepertinya tak masalah jika dia hanya mengambil dua koin saja.
Mervin kemudian kembali berjalan. Dia kembali ke tepi trotoar. Banyak gedung tinggi di seberang jalan yang membuatnya cukup penasaran.
Ia pun menggerakan kakinya menuju ke sana dengan berjalan. Baru melangkahkan kakinya sebanyak tiga langkah, tiba-tiba dari arah selatan ada sebuah kendaraan yang melaju dengan cepat ke arah Mervin.
Jaraknya dekat sekali dan tak mungkin lagi baginya bisa menghindar.
__ADS_1
Akh! Jerit Mervin tatkala mobil semakin dekat dengan dirinya.