Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah

Treasure Hunter Kebangkitan Menantu Sampah
Eps. 32 Anjing Beauceron


__ADS_3

Dalam tas itu terlihat satu bendel uang kertas yang kondisinya lurus dan rapi, benar-benar menggoda iman untuk tidak mengambilnya. Apalagi itu barang kuno? Siapa yang tahan.


Aku tidak tahu sebenarnya ini ada di mana dunia paralel, ataukah di mana? Lalu Apakah ada pengaruhnya pada masa depan jika aku mengambil satu atau beberapa dari dunia ini?


Mervin sudah memegang satu bendel uang dari tas wanita tadi dan mengambil satu lembar.


“Aku tidak boleh gegabah. Bisa saja ini jebakan atau tidak akan ada imbasnya pada kejadian masa depan. Aku tak ingin merubah apapun di masa depan,” gumamnya, lirih.


Dengan berat hati ia menaruh kembali uang yang sudah diambilnya dalam tas tadi. Saat ia akan kembali melangkahkan kakinya tiba-tiba angin berhembus membuat tas yang sudah ia letakkan di kursi itu sedikit tersingkap dan selembar uang yang tadi diambilnya, jatuh.


“Jika mengambil barang jatuh itu bukan mencuri, kan?” celetuknya, dengan mengulas senyum tipis.


Mungkin jika memang rezeki tak akan lari ke mana, mungkin pepatah itu memang ada benarnya juga. Mervin langsung saja mengambil uang tersebut tanpa perlu ada beban rasa dosa di hatinya.


“Mungkin lain kali aku tidak akan seberuntung ini.”


Ia kembali berjalan setelah menyelipkan uang baru tadi udah salah satu saku bajunya.


Menurutnya jika memang semua benda atau barang yang ada di sini bisa dibawanya pulang, maka itu artinya dia bisa membawa apa saja. Masalahnya tak mungkin ia akan mengambil barang itu secara paksa.


Sedikit banyak mencuri pasti akan berefek jangka kedepannya, entah apa itu, dan tentu saja ia tak mau mengambil resiko. Tapi jika hanya menunggu hujan emas jatuh, mungkin satu abad pun hujan itu tak akan pernah turun. Lalu bagaimana solusinya?

__ADS_1


“Ya, kenapa aku tidak pergi ke tempat pembuangan saja. Pasti di sini ada tempat seperti itu. jika beruntung aku akan menemukan barang yang masih bagus dan bisa kubawa pulang,” gumamnya panjang lebar, setelah memeras otak.


Lama Mervin berjalan dan menyusuri setiap jalanan yang ada. Berapa kali dia berhenti saat merasakan kakinya mulai nyeri dan lanjut berjalan lagi setelah beristirahat selama beberapa saat.


“Apakah ini sebuah tempat pembuangan?” Mervin berhenti di sebuah tempat yang ada di ujung jalan.


Di sana terdapat banyak sampah rumah tangga menumpuk. Ada sofa rusak, bola basket dekil, karpet robek dan masih banyak lainnya lagi yang tak bisa disebutkan karena saking banyaknya.


“Ck, apa bedanya aku dengan pemulung?” gumamnya, setelah melihat beberapa barang yang dibuang di sana dan baru tersadar dengan tindakannya itu.


“Setidaknya aku tidak mencuri. Ini hanya barang bekas yang sudah tak terpakai lagi. Jika aku membawanya satu atau dua, tak akan ada pengaruhnya dengan masa depan.” lirihnya, menyemangati dirinya sendiri.


Mervin lalu mengurai barang tersebut dan memeriksanya satu per satu juga memilah barang-barang yang masih dalam keadaan bagus.


“Bagaimana bisa aku membawa pulang barang sebanyak ini?” pekiknya lagi, setelah menyadari ternyata banyak sudah barang yang ia kumpulkan.


Sedangkan jika dikembalikan lagi ke tempatnya banyak kemungkinan yang akan terjadi. Pertama dia nggak tahu kapan pasti bisa kembali ke sini, kedua pastinya barang itu akan segera dihancurkan.


“Jadi, aku sepertinya belum menyimpan barang-barang ini.”


Mervin mengambil beberapa barang kecil yang muat dalam saku bajunya kemudian ia memasukkan sisanya dalam sebuah kantong dan menyimpannya lalu menguburnya di bawah sebuah pohon yang ia beri tanda.

__ADS_1


Guk-guk! Tiba-tiba muncul seekor anjing kecil dari balik semak di dekat Mervin.


“Itu kan jenis anjing langka, beauceon?!” pekiknya terkejut.


Beauceon adalah anjing jenis gembala dari Perancis. Dahulu anjing ini memang populer di tahun 1935-an tapi populasinya semakin menurun dan sangat jarang sekali ditemukan di masa sekarang. Jika pun ada harganya fantastis sekali.


Guk! Anjing kecil berbulu coklat terang itu menghampiri Mervin. Bahkan ia menatapnya tepat ke mata Mervin.


“Apa dia bisa melihatku?” lirihnya, karena anjing itu kini malah mengendus kakinya.


“Aku akan melakukan tes kecil apa memang benar dia bisa melihatku.”


Mervin lalu berjalan dan anehnya anjing tadi menggerakkan matanya searah dengan kaki yang dia langkahkan. Masih kurang yakin, Mervin pun berjalan agak cepat dan ternyata anjing itu malah mengikutinya.


“Jadi dia memang bisa melihatku?”


Mervin berhenti dan duduk untuk beristirahat sebentar. Anjing itu ini mendekat padanya dan duduk di sampingnya.


“Sepertinya anjing ini ditinggalkan oleh pemiliknya.” Terlihat anjing itu kurang terawat dan sedikit kurus.


Guk! Anjing itu seperti mengiyakan perkataan Mervin padanya.

__ADS_1


Di masa sekarang, Gwen tampak bingung. berulang kali dia mondar-mandir berjalan keluar masuk ke ruang baca.


“Sudah hampir sore. Ke mana sebenarnya Mervin? Kenapa dia belum kembali juga?” Gwen tampak resah sekali.


__ADS_2